Perajin Pawon Salamerta Diambang Kepunahan

Ditulis 08 Mar 2014 - 08:28 oleh Nanang BNC
TUNGKU; Perajin tungku yang makin punah. Hanya beberapa perajin yang masih bertahan (foto:Ruhito)

TUNGKU; Perajin tungku yang makin punah. Hanya beberapa perajin yang masih bertahan (foto:Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Program konversi minyak tanah ke gas yang dilaksanakan pemerintah tahun 2009 silam, megakibatkan para perajin tungku pawon batu di Desa Salamerta, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah terancam kehilangan mata pencaharian. Apalagi, semakin banyak peralatan memasak modern semakin menghimpit mata pencaharian yang merupakan turun-temurun.

Tak heran jika jumlah perajin tungku pawon di desa tersebut
semakin berkurang, seiring menurunnya permintaan tungku pawon. ”Saat
ini sudah susah sekali mjual pawon, sehari bisa njual 2-3 pawon saja
sudah bagus,” ungkap Mulud (50), salah satu perajin tungku pawon yang
masih bertahan.

Menurutnya, kondisi tersebut jauh berbeda dibanding era
80-an. Saat itu, bisa dikatakan hampir setiap rumah membuat pawon.
Tetapi sekarang, hanya sekitar puluhan orang yang bertahan. Itupun
tidak setiap hari berproduksi.

”Nasib kami terpuruk pasca pembagianpembagian kompor gratis dan tabung gas elpiji oleh pemerintah. Warga pedesaan yang semula menggunakan tungku beralih kompor gas. Padahal, selama ini konsumen terbesar kerajinan tungku pawon adalah masyarakat pedesaan,” katanya.

PAWON:Pengrajin tungku (pawon) Salamerta, Kecamatan Mandiraja tengah bekerja. Untuk membuat satu tungku memerlukan waktu sekitar tiga jam. (foto Ruhito)

PAWON:Pengrajin tungku (pawon)
Salamerta, Kecamatan Mandiraja tengah bekerja. Untuk membuat satu
tungku memerlukan waktu sekitar tiga jam. (foto Ruhito)

Namun demikian, bila kita melihat proses pembuatan tungku,
apa yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan tingkat resiko yang
harus mempertaruhkan nyawa. Untuk mendapatkan uang Rp 10 ribu – Rp 15ribu perhari, keseharian mereka berada di dalam gua yang sempit dengan
kedalaman mencapai 60 meter.

Sebagian warga yang mau menggeluti usaha ini hanya sekedar untuk
menyambung hidup mereka dan keluarga maupun sebagai upaya melestarikan warisan nenek moyang. Apalagi, dengan sistem gali lubang tutup lubang mencari batu padas, membuat puluhan hektar lahan yang semula tandus menjadi produktif.

”Tanah padas yang kita gali adalah lahan tandus. Setelah tidak
ada lapisan wadas yang bisa dibuat pawon, kami menggali lagi di
sebelahnya. Tumpukan pecahan wadas bekas membuat pawon, untuk mengurug galian sebelumnya. Dengan cara itu, lokasi bekas galian menjadi lahan gembur yang bisa ditanami palawija, singkong, dan berbagai tanaman
keras lainnya sehingga bisa menghasilkan,” katanya.

Khadirin (55), pengepul tungku mengatakan, selain di wilayah
Banjarnegara, tungku Selamerta dikirim ke Cilacap,Purbalingga dan
Banyumas. Menurut dia, perajin tungku Salamerta mempercayai kalau
lokasi yang biasa diambil batunya merupakan sumber kehidupan yang
tidak akan habis. Mereka meyakini bebatuan akan tumbuh meski terus
diambil batunya.

”Biasanya setelah lubangnya begitu dalam, pengrajin akan pindah mencari lokasi lain. Lubang yang ditinggalkan itu ditutup tanah kembali. Dan bila dalam jangka beberapa tahun lubang lokasi itu digali kembali maka sudah tak ada bekasnya karena dipenuhi batu semua.

“Dan sebagai rasa syukur, setiap bulan Suro warga melakukan ritual selamatan ruwat bumi. Kalaupun ada longsor seringnya terjadi
Maghrib, saat warga tidak bekerja,” ungkapnya. (Ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response