Desa Wisata Warurejo, Tak Sekedar Tawarkan Pesona Alam

Ditulis 07 Mar 2014 - 18:02 oleh Yit BNC

abu vulkanik jadi souvenir stupaMAGELANG – Sekilas, abu akibat erupsi Gunung Merapi dan Kelud, seolah tidak berguna. Tapi di tangan warga Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, abu tersebut dapat diolah menjadi souvenir menarik. Miniatur Candi Borobudur, stupa candi, dan patung, pun terlihat apik, meski berbahan abu vulkanik. Ada pula yang dibuat gantungan kunci dan hiasan kulkas.

Ya, Desa Wanurejo memang dikenal sebagai desa wisata. Tidak sekadar menawarkan pesona alam, tapi warga di desa tersebut juga memroduksi berbagai souvenir, terutama yang menunjukkan ciri Borobudur. Bahan yang digunakan pun berasal dari sampah. Misalnya, kaleng minuman ringan yang disulap jadi gantungan kunci, kulit kerang yang dipoles menjadi ornamen meja, patung, bahkan hiasan burung Garuda, batok kelapa untuk hiasan lampu, bahkan cuilan kain batik yang tak terpakai, bisa diolah menjadi gelang.

Saat kunjungan Gubernur Jawa Tengah di Desa Wisata Wanurejo, Kamis (6/3), Bendahara Koparda Wonorejo, Nuryanto, menyampaikan, pihaknya memang berupaya berkreasi menggunakan bahan-bahan yang ada, untuk diolah menjadi barang bernilai tinggi. Penjualannya tidak hanya di sekitar Candi Borobudur, tapi sudah mencapai mancanegara. Sedikitnya, 50 orang sudah bergabung dalam koperasi pariwisata itu.

Namun, perkembangan desa wisata yang terhitung maju, memicu masuknya investor. Termasuk, investor asing. Karenanya, dia meminta pemerintah mengatur keberadaan investor, agar tidak merugikan warga.

Ketua Klaster Borobudur, Kirno Prasojo, menjelaskan, pihaknya terus berupaya memajukan desa, dengan paket wisata tilik ndeso. Banyak potensi yang ditawarkan. Mulai homestay, kerajinan, kesenian, andong, rafting, camping, wisata gajah, maupun kuliner. Penghasilan warga pun mulai meningkat.

Dia menunjuk contoh, usaha andong yang juga dikerjasamakan dengan pihak hotel. Dari 75 pemilik andong, sepuluh di antaranya sudah memperoleh penghasilan melebihi Rp 6 juta, karena kondisi andong dan kualitas pelayanannya sangat baik. Tidak hanya menguntungkan pemilik, andong yang diarahkan untuk keliling desa, juga memberi keuntungan pada pihak desa maupun dusun. Jika per harinya satu andong dimintai iuran Rp 2.000, dengan 1.000 andong yang masuk per bulannya, dapat memberikan pemasukan untuk kas desa sekitar Rp 2 juta per bulan. Untuk dusun yang dilewati, dengan iuran Rp 1.000 per andong, setidaknya setiap bulan mendapat pemasukan Rp 1 juta.

“Pemandu wisata pun berkembang. Jika dulu pemandu wisata cuma ada di kawasan Candi Borobudur, tapi sekarang sudah ada guide kawasan,” ungkap dia.

Senada dengan Nuryanto, Kirno juga meminta regulasi mengenai penggunaan lahan di sekitar Candi Borobudur. Hal tersebut untuk menghindari sengketa antara warga dengan investor.

Gubernur Jawa Tengah, H Ganjar Pranowo SH MIP, menyambut baik perkembangan Desa Wisata Wanurejo. Menurutnya, yang dilakukan warga menjadi salah satu impiannya untuk mewujudkan desa-desa mandiri. Termasuk, mandiri di bidang kepariwisataan. Dan dia akan terus berupaya mendorong usaha rakyat.

Untuk menghindari konflik dengan investor, kepala desa dapat menerbitkan Peraturan Desa. Kerja sama yang dibangun pun jangan seluruhnya dikendalikan investor. Saham jangan diberikan semua pada investor, tapi cukup 49 persennya saja. Sehingga, kendali tetap berada pada desa. Ganjar juga meminta pengelola desa wisata bersama kepala desa, untuk mengundang investor dan membahas masalah itu.

Tidak kalah pentingnya, masyarakat diminta terus menjaga kebersihan wilayah, serta memperbaiki fasilitas yang ditawarkan kepada wisatawan. Termasuk. Membuat standarisasi homestay. Dengan begitu, akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

 

“Jualnya juga yang agak modern sedikit, lewat internet. Ayo buat website. Tawarkan semuanya di situ,” tegas dia.

 

Untuk lebih mengembangkan desa wisata, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengelola Candi Borobudur, agar zona dua kawasan tersebut dapat digabungkan dengan zona tiga. Dengan begitu, zona dua tidak hanya dikelola pihak Candi Borobudur, tapi juga bersama masyarakat. Jadi, yang ditawarkan di Borobudur tidak sekadar candi, melainkan juga potensi yang ada di sekitarnya.

 

Kunjungan kerja Gubernur dilanjutkan dengan meninjau Kopari Catra Gemilang, yang berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur. Banyak usaha yang dikelola. Antara lain, usaha foto, fotokopi, laundry, homestay, kerajinan, konveksi, maupun Taman Kupu-kupu (Butterfly Park). Gubernur juga menyempatkan melihat penangkaran kupu-kupu di tempat itu. Dia menyambut baik usaha yang dikelola warga tersebut. Diharapkan, usaha semacam itu dapat terus dikembangkan.

Tentang Penulis

Leave A Response