Salak Pondoh Organik Makin Diminati

Ditulis 06 Mar 2014 - 19:27 oleh Yit BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
243
Dalam Tag
Sarwono, pelopor petani salak organik asal Sigaluh menunjukan buah salak pondok yang masih segar meski sudah sepekan lebih dipetik. (foto : BNC/Ruhito)

Sarwono, pelopor petani salak organik asal Sigaluh
menunjukan buah salak pondok yang masih segar meski sudah sepekan
lebih dipetik. (foto : BNC/Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Saat ini budidaya salak pondoh di Kabupaten Banjarnegara terbagi menjadi dua jenis. Yakni, salak pondoh
organik dan salak pondoh biasa (pupuk kimia). Salah satu pelopor salak
pondoh organik adalah Kepala Desa Sigaluh, Sarwono (53) yang sejak
tahun 2008 silam berani memulai beralih menjadi petani salak pondoh
organik.
Sarwono mengaku, peralihan model konvensional menjadi organik
dia dapatkan saat mengikuti Pelatihan Pertanian Organik yang
diselenggarakan pemerintah kabupaten. Alasannya, selain harga mahal,
saat membutuhkan pupuk kimia ia seringkali kesulitan mendapatkan.
”Saya mulai menyadari betapa penggunaan pupuk kimia merupakan
pemaksaan terhadap kesuburan tanaman, namun untuk jangka panjang
justru merusak tanah. Apalagi, pupuk organik yang saya pakai dibuat
sendiri sehingga mengefisian pengeluaran,” katanya.

Meski diawal-awal penggunaan pupuk organik sempat dicemooh
petani lain karena hasil panen merosot 70 persen, ia tetap bertahan.
Sarwono mulai merasakan hasil panen salak berangsur naik setelah
memasuki musim ketiga, atau satu tahun sejak beralih ke organik.
Bahkan, selain lebih menghemat pupuk, kualitas buah salak yang
dihasilkan oleh lebih baik dibandingkan petani yang dulu mencemoohnya.
Karena, lebih manis dan tidak cepat layu. Jika salak petani lain tiga
hari setelah dipetik sudah layu, salak hasilnya panennya tetap segar
meski seminggu lebih dipetik.

SALAK 2 (1)

Sarwono, pelopor petani salak pondoh sedang membersihkan
tanaman yang salak yang ada disamping rumahnya. (foto : BNC/Ruhito)

Saat ini, tanah seluas 3.000 meter persegi dengan ratusan
pohon salak organiknya mampu menghasilkan 2,8 ton tiap musimnya. Usia
produktif tanaman tersebut hingga 15 sampai 20 tahun. Rasa dari salak
organik lebih manis ketimbang biasanya serta lebih tahan lama hingga 2
minggu.

”Sayangnya, meski rasa dan kualitas salak pondoh yang
dihasilkan lebih baik namun harga jualnya sama dengan petani lain.
Saat ini, harga jualnya belum selaras dengan predikat organiknya.
Namun saya bangga, karena petani di sini mulai meniru,” katanya
Menurut dia, dari sekitar luasan lahan salak pondoh yang ada
di Desa Sigaluh, 30 persen saja yang sudah beralih ke pupuk organik.
Para petani juga mulai dapat membuat pupuk organik yang memanfaatkan
sampah dan kompos. ”Yang penting telaten dan mau kerja keras, semua
bisa dilalui dan saat ini, berapapun harga dipasaran, saya tetap
untung,” katanya.

Untuk mendorong petani salak beralih ke organik, Sarwono
berharap agar pemkab dapat memberikan pelatihan dan motivasi kepada
petani salak di daerahnya. ”Selain itu, jika bisa dilakukan, saya
juga mengharapkan ada harga yang beda dengan salak pupuk kimia.
Walaupun dengan harga berapapun saya tetap masih untung. Keuntungannya tidak terpengaruh harga salak dipasaran karena penggunaan pupuk yang dibuat sendiri alias tidak pupuk beli,” ungkap dia. (Ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response