Perajin Pande Besi, Bergelut Bara Api Menghadapi Hantaman Produk Pabrikan

Ditulis 05 Mar 2014 - 07:47 oleh Yit BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
177
Dalam Tag
Salah seorang empu di Desa Gumelem sedang membuat peralatan pertanian. (foto : BNC/Ruhito)

Salah seorang empu di Desa
Gumelem sedang membuat peralatan pertanian. (foto : BNC/Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Bergelut dengan bara api sudah menjadi pekerjaan Jayan (55). Lelaki warga Desa Panerusan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara ini merupakan salah empu yang biasa membuat berbagai macam peralatan dari besi.  

Jilatan bara api yang bagi orang kebanyakan dirasakan panas, namun oleh pria yang sejak muda menekuni pekerjaan ini sudah menjadi sahabat dalam kesehariannya. Meskipun terkadang membekas luka ditubuh akibat percikan bara api, namun serasa tidak dirasakan olehnya. ”Sebenarnya panas juga, tapi karena sudah biasa jadi tidak begitu dirasakan,” ungkap Jayan.

Di jaman sekarang ini memang sudah jarang orang yang menggeluti pekerjaan ini. Akibat kalah bersaing dengan hasil produk pabrik, lambat laun pekerjaan ini ditinggalkan oleh sejumlah empu yang ada di Kecamatan Susukan. Padahal, dulunya di kecamatan yang berada di ujung barat Banjarnegara dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan pande besi, terutama di Desa Gumelem dan Panerusan.

Sejumlah perkakas pertanian yang dibuat diantaranya, cangkul, arit, gobed dan kudi. Mereka juga melayani perkakas sesuai dengan pesanan konsumen seperti peralatan pertukangan maupun dapur tatah, petel dan pisau dengan berbagai model dan bentuk.

Sejak munculnya berbagai perkakas pertanian dari pabrik, omzet mereka menurun drastis. Para petani sudah tidak banyak menggunakan cangkul karena pengolahan tanah lebih mengandalkan mesin traktor. ”Biasanya, yang datang ke sini untuk ‘nyepuh’ (memperbaiki-red), terutama saat akan memasuki awal musim tanam,” ungkap Santo, empu asal Gumelem.

Menurut dia, mereka yang biasa memakai perkakas pertanian produk tradisional karena sudah fanatik. Meskipun harga lebih mahal namun kualitasnya lebih bagus. ”Ketajamannya lebih tahan lama dan lebih kuat. Tidak melengkung jika mengenai batu,” ujarnya.

Perkakas peralatan pertanian produk Gumelem sudah dikenal luas masyarakat, bahkan tidak hanya dari sejumlah wilayah di eks Karsidenan Banyumas saja. Sejumlah orang dari wilayah pesisir selatan pulau Jawa seperti Karangbolong, Petanahan dan Ambal, Kabupaten Kebumen menyukainya.

Dia menuturkan, dikenalnya Gumelem sebagai desa sentra kerajinan pande besi karena memiliki sejarah panjang. Sebagai wilayah yang berada di bawah pemerintahan keraton Solo, Demang sini (pemimpin-red) sering diminati bantuan para pejebat keraton untuk membuat senjata yang ampuh. ”Menurut cerita, sini merupakan salah satu wilayah
pemasok senjata bagi keraton Solo,” tuturnya.

Kepala Dusun (kadus) I Desa Gumelem, Woyo, dari puluhan pande besi yang dulunya ada, kini hanya tinggal beberapa orang saja yang bertahan. Umumnya, mereka yang masih bertahan adalah meneruskan usaha warisan orang tuanya. Bagi mereka, membuat berbagai perkakas adalah bagian dari hidup mereka. ”Pande besi merupakan salah satu kerajinan yang menjadikan Gumelem sebagai kawasan desa wisata dan home
industri kecil, seperti yang ditetapkan Disindagkop,” ungkap Woyo. (Ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response