Dua Tahun Pasca Erupsi Merapi, Sektor Pertanian Masih Terganggu

Ditulis 04 Mar 2014 - 16:45 oleh Yit BNC

kerjasama pemanfaatan lahan pasir merapiYOGYAKARTA – Fakultas Pertanian UGM bekerjasama dengan Taiwan siap menggarap pertanian lahan pasir di sekitar lereng Gunung Merapi. Program pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian ini ditujukan khusus pada petani yang terkena dampak bencana Merapi pada 2010 lalu. Hal itu dilakukan sekaligus untuk menghidupkan kembali sektor pertanian yang terganggu akibat lahan pertanian tertutup oleh debu dan pasir Merapi.

“Kita akan mulai dengan mempercepat pemulihan ekonomi korban bencana Merapi. Produknya pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian,” kata Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Jamhari, S.P., M.P., usai menerima kunjungan dari perwakilan kantor ekonomi dan perdagangan Taiwan untuk Indonesia, Chang Liang Jen, di ruang multimedia Fakultas Pertanian UGM, Selasa (4/3).

Dipilihnya kawasan Merapi sebagai pusat pemberdayaan petani diakui Jamhari karena melihat kondisi ekonomi masyarakat petani di sekitar lereng merapi yang saat ini belum kembali membaik padahal erupsi sudah terjadi dua tahun lalu. Menurut Jamhari, penyebabnya lahan pertanian yang tertutup pasir menjadikan masyarakat enggan membudidayakan pertaniannya kembali. Untuk itu, Fakultas Pertanian UGM akan mengembangkan program budidaya pertanian lahan pasir dengan menaman tanaman hortikultura. “Kita sudah membentuk tim untuk mengembankan komoditas hortikultura di daerah Merapi, termasuk pengembangan ternak sapi,” tegasnya.

Fakultas Pertanian UGM, kata Jamhari, sebelumnya sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan pertanian lahan pasir, karena mengembangkan pertanian lahan pasir di daerah pesisir pantai selatan Jawa sejak awal tahun 80-an. “Dengan pengalaman ini, kita ingin mendorong di daerah Merapi berkembang ekonomi pertaniannya. Tidak hanya di Sleman, kita juga menerapkannya di Klaten dan Magelang,” katanya.

Chang Liang Jen mengatakan Taiwan akan mendukung program kerjasama di bidang pertanian tersebut dengan menggandeng dua universitas di Taiwan untuk terlibat. Dua universitas tersebut adalah National Taiwan University dan National Pingtung University. “Keduanya sangat maju untuk bidang pertanian,” paparnya.

Rektor UGM, Pratikno, menyambut baik kerjasama pemberdayaan masyarakat petani di wilayah pedesaan. Diakui Rektor, saat ini Indonesia membutuhkan jumlah stok pangan yang tidak sedikit terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama beras. Kendati area lahan pertanian yang semakin sempit akibat alih fungsi lahan, salah satu strategi yang sudah dirintis oleh UGM dengan beberapa pemerintah daerah seperti di Ngawi dan Bojonegoro adalah pengembagan area lahan hutan jati untuk ditanam padi gogo. “Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tinggal di sekitar hutan dan tercapainya ketercukupan pangan,” katanya.

Tentang Penulis

Leave A Response