Kerugian Bencana Banjir di Jateng Capai Rp 624 Miliar

Ditulis 03 Mar 2014 - 20:29 oleh Yit BNC

banjir PatiSEMARANG (BanyumasNews.Com)  – Estimasi kerugian banjir yang terjadi di sejumlah tempat di Jawa Tengah, khususnya pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, mencapai lebih dari Rp 624 miliar. Hingga 28 Februari lalu, sudah dilakukan dropping benih padi di dua kabupaten. Yakni, Kudus dan Pati.

Hal tersebut dipaparkan Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Ir Suryo Banendro MP, pada Rapat Koordinasi Pertanian, yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai II, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (3/3/2014).

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, H Ganjar Pranowo SH.

Suryo menambahkan, kerugian banjir terbesar menimpa komoditas padi. Di mana lahan puso mencapai 31.796 hektare dari lahan tanam seluas 51.860 hektare, dengan kerugian setara Rp 604,044 miliar.

Kerugian tanaman jagung, dengan kerusakan 304, hektare dari lahan 973 hektare  (kerugian setara Rp 2,917 miliar). Tanaman kedelai yang puso seluas 265 hektare dari 334 hektare lahan (kerugian sekitar Rp 2,821 miliar). Kerugian komoditas lain, seperti, kacang tanah, ubi jalar, bawang merah, dan lainnya, diperkirakan mencapai Rp 14,412 miliar, dengan kerusakan lahan 195 hektare dari lahan 600 hektare.

Dalam mengatasi kerugian tersebut, Dinas Pertanian telah mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk mengajukan bantuan benih melalui cadangan benih nasional. Sebanyak delapan kabupaten/kota telah mengajukan bantuan. Yakni, Kabupaten Kudus (Tahap I dan II), Pati, Rembang, Jepara, Kendal, Pemalang, Demak, dan Kota Pekalongan, dengan total kebutuhan mencapai 816,162 ton benih. Hingga 28 Februari lalu, telah terealisasi dropping benih padi di Kabupaten Kudus (92,850 ton dari rencana 127,925 ton), dan Pati (87,750 ton dari rencana 291,7 ton).

“Untuk Kabupaten Rembang, surat penugasan sudah ada, tapi sampai Jumat kemarin (28/2) belum dikirim. Kabupaten lainnya, masih menunggu proses di Jakarta,” terang Suryo.

Ditambahkan, pada 2014 ini, pihaknya terus menggenjot peningkatan produksi tanaman pangan. Produksi padi ditargetkan 10.269.110 ton. Sementara, kenaikan cukup tinggi terlihat pada produk kedelai, yang ditargetkan mencapai 143.389 ton. Khusus untuk kedelai, beberapa pemerintah kabupaten/kota telah menyatakan siap menambah kawasan tanam baru. Antara lain, Kabupaten Banyumas, Purworejo, dan Kebumen. Total area baru direncanakan sebesar 39 ribu hektare. Jadi, melebihi target pemerintah pusat sebanyak 20 ribu hektare.

Tidak hanya menyangkut bencana banjir, saat ini, di Jawa Tengah juga terjadi hama penyakit, terutama wereng, di wilayah Banyumas dan Cilacap. Sebenarnya, ini tanggung jawab petani. Tapi, jika tidak dilakukan penanganan secara komprehensif, akan melebar, seperti yang terjadi di kawasan segitiga Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo beberapa waktu lalu.

“Karenanya, kami telah membuka posko Barlingmascakeb, dengan koordinator Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan, salah satu UPT Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. Sejak awal Januari, tim kami telah meng-handle persoalan itu. Kalau tidak, dikhawatirkan menyebar seperti yang terjadi 2010 lalu di Boyolali, Klaten, Sukoharjo. Pestisida juga dibanti pemerintah provinsi, seberapa pun yang dibutuhkan. Kami juga menyediakan satu alat mist blower untuk menyemprot hama,”  beber dia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, Ir Lalu Muhamad Syafriadi MM, menjelaskan, di sektor kelautan dan perikanan, kerugian terbesar pascabencana yang terjadi Pebruari 2014 lalu adalah di bidang perikanan budidaya, yang diperkirakan mencapai Rp 128,4 miliar. Nilai kerugian tersebut dihitung berdasarkan aset perikanan budidaya. Seperti, pompa air, dan kincir air yang rusak, sarana dan prasarana berupa  saluran tambak, pematang, kolam ikan, jalan produksi yang rusak dan terendam, serta benih ikan/udang yang hanyut, dan sebagainya.

Untuk mengatasi kerugian tersebut, pada 11-13 Februari lalu telah dilakukan revisi APBN 2014 pada tugas pembantuan (TP) kabupaten/kota, berupa pengadaan benih dan pakan di kabupaten/kota yang terkena banjir. Antara lain, di Kendal, Pati, Pemalang, Jepara, Rembang, dan Kota Pekalongan, dengan total bantuan sekitar Rp 3,2 miliar. Dana tersebut untuk membeli pakan dan benih.

Kerugian akibat banjir juga terindentifikasi pada bidang perkebunan. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Ir Tegoeh Wynarno Haroeno MM, mengatakan, kerusakan cukup berat terjadi pada lahan perkebunan seluas 1.118,05 hektare. Namun, dibandingkan dengan luas lahan perkebunan yang mencapai 80 ribu hektare, jumlah tersebut terhitung kecil, yakni 1/80. Jadi, tidak terlalu berpengaruh pada produksi tanaman perkebunan.

Kendati begitu, koordinasi, integrasi, sinkronisasi, simplikasi, sinergi, dan akselerasi (KISSSA) terus dibangun. Baik dengan pemerintah kabupaten/kota, maupun stakeholder terkait dan masyarakat. Saat ini, pihaknya juga tengah menggenjot upaya intensifikasi tanaman pertebuan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Jawa Tengah, Ir Whitono MSi, menambahkan, kerugian akibat banjir pada sektor peternakan mencapai Rp 20.755.375.000. Antara lain, karena kematian ternak, penurunan berat badan ternak sapi, kerbau, kambing dan domba, kerusakan kandang, produktifitas ternak menurun akibat perawatan kurang optimal, banyaknya ternak yang sakit, serta sumber pakan hijauan yang terendam.

Sejumlah kegiatan pun telah dilakukan untuk mengatasi kerugian pascabencana. Seperti, pemeriksaan kesehatan ternak dan pengobatan di wilayah yang terdampak banjir, dengan ternak yang telah diobati sebanyak 4.153 ekor. Selain itu, pihaknya telah menyiapkan obat hewan sebanyak 8.700 dosis, dan vaksin Avian Influenza untuk itik 80.000 dosis, serta bantuan pakan dari Pemerintah Kabupaten dan Kementerian Pertanian.

Rumah Pangan Lestari

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Tengah, Ir Gayatri Indah Cahyani MSi, menyampaikan, pihaknya terus mengantisipasi kerawanan pangan di provinsi ini, dengan ketersediaan stok atau cadangan pangan. Di samping itu, sejumlah upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan terus dilakukan. Mulai dari optimalisasi lembaga distribusi pangan masyarakat (LDPM),  lumbung desa, desa mandiri pangan, pengambangan pangan alternatif, serta pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan (P2KP).

Untuk mewujudkan kedaulatan pangan, sekaligus mengantisipasi krisis pangan, dioptimalkan rumah pangan lestari. Termasuk, optimalisasi kebun bibit, dan bekerja sama dengan kebun sekolah di Sekolah Dasar.

Selain itu, juga ada paparan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Ir Bowo Suryoko MM, mengenai kerusakan hutan yang cukup tinggi di provinsi ini. Pihaknya terus berupaya mengatasi kerusakan hutan, dan bekerja sama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk mempercepat rehabilitasi hutan.

Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluh (Setbakorluh) Provinsi Jawa Tengah, Ir Sugeng Riyanto MSc, menyampaikan kondisi sumber daya manusia di SKPD tersebut, yang terhitung kurang. Di sisi lain, penyuluh memiliki peran cukup besar untuk memajukan sektor pertanian dalam arti luas. Karenanya, pihaknya terus melakukan optimalisasi tenaga penyuluh, serta sarana prasarana yang digunakan.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Dr Ir Moh Ismail Wahab MSi, menyatakan, pihaknya siap membantu pengadaan benih untuk dikembangkan di Jawa Tengah. Termasuk, benih kedelai. Bahkan,  pada 2014 ini, pihaknya bertekad mewujudkan swasembada benih kedelai, dengan menyiapkan 9.000 ton benih sebar, dari kebutuhan 4.500 ton benih sebar. Benih yang dibudidayakan, antara lain, kedelai varietas Grobogan, Anjasmara, dan Gepak Kuning.

Dia juga meminta agar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Salah satunya, varietas kambing peranakan ongol (PO) asli Kebumen. Selain itu, juga perlu digalakkannya pertanian jajar legawa, yang dapat meningkatkan produksi pangan minimal 12 persen.

Gubernur Jawa Tengah, H Ganjar Pranowo SH MIP, meminta agar koordinasi dengan semua pihak, baik antar SKPD pemerintah provinsi, pemerintah pusat, kabupaten/kota, terus ditingkatkan. Terutama, untuk mengatasi kerugian akibat bencana. Lakukan pula percepatan untuk pembangunan 2014 ini, dengan selalu menyusun progress dan rencana pembangunan setiap minggunya.

“Tekankan pada staf di daerah dan di bawah, untuk selalu melakukan, mencatat, memitret, dan melaporkan. Sehingga, yang di atas selalu update, dan dapat melakukan percepatan saat ada permasalahan di lapangan,” tegas dia.

Khusus untuk Setbakorluh, Gubernur meminta agar tenaga yang ada terus dioptimalkan untuk membantu petani. Sampaikan informasi kepada seluruh pihak, baik langsung maupun melalui website. Termasuk, menginformasikan temuan dari para penyuluh, yang dapat diadopsi di banyak tempat.

“Bakorluh mesti sensitif. Teman-teman harus diajari melek IT (informasi teknologi). Sampaikan semua informasi. Cari literatur, masukkan di website. Misalnya, saat terjadi flu burung di Sragen, bagaimana mengatasinya. Yang gampang-gampang kita share. Kalau bisa di-upload bagus sekali. Adminnya diajari searching, browsing, kalau perlu beli e-book,” tandas Gubernur. (BNC)

 

Tentang Penulis

Leave A Response