Sistim Angkutan Massal, Solusi Atasi Kemacetan

Ditulis 03 Mar 2014 - 17:57 oleh Yit BNC

trasnportasi massalYOGYAKARTA – Kemacetan lalulintas saat ini telah melanda hampir semua kota di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Beberapa opsi untuk mengatasi masalah kemacetan antara lain dengan membangun jalan baru/ jalan tol, fly over dalam kota ataukah membangun sistim angkutan umum massal.
Menjadi pilihan yang dilematis, membangun jalan tol perkotaan sangat menguntungkan dari segi finansial, karena sistim pembayarannya memberikan kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sementara penyelenggaraan sistem angkutan umum massal dinilai memakan biaya tinggi, dan pemasukan pendapatan dari penumpang belum tentu menutup pembiayaan yang dikeluarkan.

Menyitir pendapat Professor Dietrich Braess (1969), ahli matematik dari Ruhr Universitaet Bochum Jerman, Prof. Dr.-Ing. Ir. Ahmad Munawar, M.Sc, Gurubesar Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM mengatakan bahwa dalam penelitian berjudul Ueber ein Paradoxon aus der Verkehrsplanung dinyatakan pembangunan jalan baru diperkotaan, akan mendorong pengemudi (kendaraan pribadi) semakin banyak melakukan perjalanan sehingga akan menyebabkan kemacetan semakin bertambah.

“Oleh karena itu, pembangunan jalan tol dikhawatirkan tidak akan mengurangi kemacetan, namun sebaliknya akan menambah kemacetan yang terjadi. Ini yang dikenal dengan Braess’s Paradox”, ujar Ahmad Munawar, di Fakultas teknik UGM, Senin (3/3).

Disisi lain, katanya, banyak kota telah merencanakan sistem angkutan umum massal namun sebagian besar belum terlaksana dengan baik. Bahkan menyitir pendapat Prof. Shigeru Morichi (2005) dari University of Tokyo Jepang dinyatakan kondisi angkutan umum perkotaan di sebagian besar kota-kota di Asia sudah sangat buruk, sehingga untuk memperbaikinya memerlukan waktu yang cukup lama, bertahap dan biaya yang besar.

“Inilah yang menyebabkan sebagian besar kota di Indonesia enggan melaksanakan perbaikan tersebut, karena biaya yang tinggi dan tidak memberikan keuntungan finansial bagi daerah tersebut”, papar Ahmad Munawar, Alumnus Ruhr Universitaet Bochum, Jerman.

Jika segi finansial jangka pendek menjadi pertimbangan utama, Munawar menandaskan, sistem angkutan umum massal tidak akan dapat dibangun. Karena membangun sistim angkutan massal mestinya dengan mempertimbangan keuntungan ekonomi secara menyeluruh.

“Mestinya ya, jika perjalanan menjadi lancar serta biaya perjalanan menjadi lebih murah, tentu menguntungkan bagi penduduk kota tersebut. Bagaimanapun penyelenggaraan sistem angkutan umum massal bukan profit oriented namun public service. Karena itu perbaikan sistem angkutan umum massal menjadi solusi tepat dan mutlak guna mengatasi kemacetan lalulintas perkotaan dibanding pembangunan jalan tol dalam kota”, tuturnya.(BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response