Pakembara, Nguri-uri Budaya Banjarnegara

Ditulis 02 Mar 2014 - 16:52 oleh Yit BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
281
Dalam Tag
Penari kesenian lengger kondang di wilayah eks Karsidenan Banyumas, Sopiah (kiri) tengah memberikan pelatihan. (foto : BNC/ Ruhito)

Penari kesenian lengger kondang di wilayah eks
Karsidenan Banyumas, Sopiah (kiri) tengah memberikan pelatihan. (foto : BNC/
Ruhito)

BANJARNEGARA  (BanyumasNews.com) – Paguyuban Keluarga Mataran
Kabupaten Banjarnegara (Pakembara) bertekad ‘nguri-uri’ budaya dan
seni yang ada di Banjarnegara. Upaya ini mengingat banyak tradisi
budaya dan seni yang sudah hilang. Hal ini diungkapkan Sekretaris
Pakembara, Eko Budihardjo.
”Kegiatan mempertahan budaya dan seni yang sudah berjalan di Desa
Gumelem, Kecamatan Susukan. Kami menggelar sejumlah kebudayaan
masyarakat secara rutin secara murni. Misalnya, tradisi Syadran Gede
Gumelem merupakan agenda rutin warga saat akan memasuki bulan puasa.
Dibanding yang lain, keunikan Syadran Gede ini terbilang masih murni.
Selain reskik-resik kubur, juga ada kirab dengan mengenakan pakaian
adat jawa,” ungkap Sekretaris Pakembara, Eko
Budihardjo.

Pakembara bersama dengan warga Gumelem mengenakan pakaian khas jawa saat merayakan Tradisi Sadran Gede Gumelem. (foto : BNC/ Ruhito)

Pakembara bersama dengan warga Gumelem mengenakan
pakaian khas jawa saat merayakan Tradisi Sadran Gede Gumelem. (foto : BNC/
Ruhito)

Disamping mempertahan tradisi syadran gede tetap murni, Pakem
juga rutin latihan menabuh gamelen dan mengadakan pengajian selapanan.
Latihan gamelan dilakukan seminggu sekali, tiap malam Kamis. ”Yang
unik dari pengajian selapanan adalah tempatnya. Jika pada umumnya
dilakukan di masjid ataupun mushola, pengajian selapanan Gumelem
dilakukan di pendopo Makam Ki Ageng Gumelem. Ini sudah berlangsung
turun temurun, dan akan kami lestarikan terus,” kata dia.
Rahmat Sumino, Ketua Pakembara ranting Gumelem mengatakan,
untuk acara latihan gamelan dilakukan dua kali dalam seminggu, yakni
malam Rabu dan Minggu. Selain latihan rutin, terkadang mengundang
pakar/pelaku seni yang sudah punya nama di wilayah eks Karsidenan
Banyumas. ”Kami sering mengundang penari lengger kondang Sopiah asal
Pritutul, Rawakele. Selain menari, ia juga memberikan latihan
sinden,” katanya.
Menurut dia, upaya ini diharapkan membantu pemerintah dalam
mewujudkan desa wisata. Apalagi, dalam setiap kegiatan yang dilakukan
tidak membebankan pemerintah dalam hal pendanaan. ”Pakem ikhlas
mengandi dalam ‘nguri-uri budaya dan seni,” kata dia. (ito)

Pakembara2

Tentang Penulis

Leave A Response