Pemidanaan Kejahatan Seksual Anak Tak Adil

Ditulis 27 Feb 2014 - 17:55 oleh Yit BNC
Fathul Lubabin Nuqul

Fathul Lubabin Nuqul

YOGYAKARTA – Kasus kejahatan seksual dan pemerkosaan kerap terjadi yang melibatkan anak. Namun dalam pemidaannya di tingkat pengadilan masih mengalami disparitas.
Berdasarkan data dari UNICEF Indonesia pada 2006, dengan menggunakan pasal penuntutan yang sama, Pengadilan Negeri Bandung menjatuhi hukuman pada anak yang menjadi pelaku kejahatan seksual selama 1,5 hingga 2 tahun. Sedangkan untuk kasus yang sama  di Pengadilan Negeri Kupang lebih lama antar 4 hingga 8 tahun.

“Data ini menunjukkan hakim belum mempunyai standar penilaian keadilan yang berefek pada perbedaan pemberian pidana pada pelaku,” ujar dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Fathul Lubabin Nuqul dalam ujian promosi doktor di Fakultas Psikologi UGM, Kamis (27/2).

Menurut Fathul Lubabin, belum banyak penelitian tentang bentuk-bentuk keadilan yang dianut oleh hakim khususnya terkait kasus pemerkosaan. Oleh karena itu, dalam desertasinya, ia meneliti tiga bentuk keadilan, yaitu keadilan retributif, restoratif dan prosedural guna memahami keadilan mana yang lebih dianut oleh Hakim Pengadilan Tinggi di Indonesia, khususnya dalam memutus kasus pemerkosaan.

Hasil eksperimen yang dilakukan Fathul Lubabin menyimpulkan bahwa lama pidana, usia pelaku dan tekanan waktu mempengaruhi penilaian keadilan retributif dan restoratif, namun tidak berpengaruh pada penilaian keadilan prosedural pidana pelaku pemerkosaan. Dari penelitiannya ditemukan pula bila subyek cenderung menganggap kejahatan pemerkosaan merupakan kejahatan yang serius dan layak dihukum berat.

“Terkait dengan lama pidana dan usia pelaku, subyek menganggap pelaku harus diberi pidana tetapi pidana yang berat lebih layak diberikan untuk pelaku dewasa sedangkan pada anak-anak pidana ringan lebih layak untuk diberikan”, papar Fathul. (BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response