Bambang Irianto, 25 Tahun Hidup dari Asesoris Kuda

Ditulis 25 Feb 2014 - 19:54 oleh Yit BNC
H Bambang Irianto, saat suntuk bekerja membuat asesoris kuda.

H Bambang Irianto, saat suntuk bekerja membuat asesoris kuda.

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Profesi H Bambang Irianto, warga Desa Windusari, kecamatan Pagentan, Banjarnegara, boleh dibilang langka. Ia membuat asesoris untuk kuda agar terlihat gagah. Ada penutup mata, sepatu, pelana, amben/sabuk, sarung muka dan ular-ular leter D untuk kaki kuda.

Bambang menekuni profesi ini karena warisan dari almarhum orang tuanya, Darmo Wiryo. Meski jarang perajin yang memproduksi asesoris kuda, namun Bambang tak lepas dari persaingan di pasaran. Agar bisa bersaing dengan daerah lain seperti dari Magelang, Bambang yang telah menggeluti usaha kerajinan selama 25 tahun lebih,  mengaku kerajinan yang diproduksinya memiliki kelebihan yakni pada kualitas. Tak heran, meski permintaan dari Banjarnegara terus mengalami penurunan namun permintaan dari luar daerah Jakarta dan Surabaya terus meningkat, terutama dari para joki di arena balapan.

Pada saat musim pacuan kuda di Pulo Mas Jakarta, berapa pun hasil
kerajinan dibawa selalu habis.  Karena para joki banyak yang mengakui
kalau pelana kuda bikinan Bambang cocok dipakai untuk arena balap dan
bentuknya juga indah. Apalagi, harga kerajinan Bambang berani bersaing
dengan produk daerah lain. Pelana tunggangan besar dijual Rp 600 ribu,
lapak tren untuk latihan para joki Rp 500 ribu dan pelana kuda balap
Rp 400 ribu. ”Harga tersebut sebanding dengan kualitas kulit dan
tingkat kesulitan dalam membuat,” ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, pernah ada pengusaha dari luar kota yang ingin
bekerjasama untuk memasarkan pelana kuda ke  Malaysia dan Pakistan
namun ditolak karena kuranganya pengetahuan mengurus bisnis antar
negara. Sayangnya, meskipun permintaan banyak ia mengaku sulit untuk
manaikan produksi karena terkendala tenaga kerja dan modal untuk
membeli bahan baku. Karena sulit mencari generasi penerus, ketiga
orang karyawannya adalah sudah berusia lanjut, di atas 50 tahun.
Mereka merupakan karyawan yang dulu bekerja pada ayahnya. ”Walau
telah berusia lanjut tapi tenaga sudah terlatih. Tenaganya yang sudah
menurun bisa ditutup dengan kualitas barang yang dihasilkan,”
ungkapnya.

Untuk membuat satu pelana kuda dengan kualitas bagus dibutuhkan waktu
sekitar dua hari dengan konsentrasi penuh. Adapun bahan baku berupa
kulit sapi dan kambing didatangkan dari Yogyakarta, Magelang dan
Magetan (Jatim). Saat ini dalam satu bulan Bambang hanya bisa
memproduksi sekitar 10 hingga 20 buah pelana dengan berbagai model dan ukuran.

Dia menuturkan, tahun 1980 adalah masa puncak usaha pelana kuda
karena saat itu kuda masih menjadi sarana transportasi utama oleh
masyarakat. Jumlah pelana yang sekarang diproduksi hanya sekitar 30
persen dari jumlah pelana yang dibuat di waktu keemasan. Agar tetap
eksis ia mencoba berimpromisasi membuat kerajian yang dibutuhkan
masyarakat dari bahan baku kulit seperti tas, dompet, sarung HP,
sarung pedang, clurit, dan sarung pistol.

Sedangkan untuk lebih mengenalkan hasil kerajinannya, ia berharap
bisa membuka kios di lokasi strategis. Dan juga menerima segala bentuk
kerajianan sesuai dengan pesanan. Sistem penjualan kerajianan lain
yang saat ini berjalan kebanyakan melalui pesanan yang diberikan oleh
para konsumen pelana kuda dari sejumlah seperti Tegal, Salatiga dan
Klaten. (Ruhito)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. jauza 08/10/2016 pukul 04:51 -

    ada kontaknya bapak bambang irianto gak? atau alamatnya saya mau pesan pelana kuda dalam porsi besar

  2. sepatu 03/07/2015 pukul 23:21 -

    I really like what you guys tend to be up too. This type of
    clever work and exposure! Keep up the excellent works guys
    I’ve included you guys to our blogroll.

Leave A Response