Cuaca Buruk, Perajin Gula Kelapa Paceklik

Ditulis 22 Feb 2014 - 19:46 oleh Nanang BNC
GULA KELAPA : Perajin gula tengah mencetak gula. (foto Ruhito)

GULA KELAPA : Perajin gula tengah mencetak gula. (foto Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Musim penghujan seperti sekarang ini merupakan masa sulit bagi para perajin gula kelapa atau yang biasa dikenal dengan gula jawa di Kabupaten Banjarnegara tengah mengalami masa paceklik. Pasalnya, akibat nira tercampur air hujan membuat kualitas gula merah yang dihasilkan jelek.

Kirno, perajin gula merah Dusun Kubang, Desa Gumelem Kulon,
Kecamatan Susukan, Banjarnegara mengatakan, air hujan bercampur dengan nira saat masih dipohon. Air hujan masuk ke bumbung (penampung nira-red) lewat manggar. Di samping kualitas jelek, dengan adanya air itu membuat waktu yang butuhkan untuk memasak nira menjadi gula lebih lama sekitar dua jam.

”Biasanya hanya dibutuhkan waktu sekitra lima jam, tapi
sekarang sampai tujuh jam. Otomastis kayu bakar yang diperlukan juga tambah banyak. Adapun kualitas gula yang dihasilkan BS (rendah-red),”kata penderes 30 batang pohon.

SIAP JUAL : Salah seorang pengepul tengah mengepak gula sebelum dikirim ke luar daerah. (foto Ruhito)

SIAP JUAL : Salah seorang pengepul tengah mengepak gula sebelum
dikirim ke luar daerah. (foto Ruhito)

Sirun, penderes yang sekaligus menjadi pengepul gula merah di
dusun Dares, Gumelem menambahkan, harga gula saat termasuk sedang turun dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu. Pada akhir tahun kemarin, harga gula mencapai Rp 6,5 ribu per kgnya.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) Banjarnegara
Sarwono mengatakan, dengan banyaknya kualitas gula yang jelek membuat sulit menembus segmen pasar menengah ke atas. Saat ini sebagian besar gula Banjarnegara masuk ke industri kecap. ”Sekitar 70 persen masuk pabrik kecap, sisanya terbagi ke pasar tradisional dan super market,” ujar Sarwono.

APKI sendiri, lanjut Sarwono, pernah mengupayakan agar gula
merah Banjarnegara bisa masuk super market atau swalayan. Namun setelah dicoba tidak bisa berjalan karena kurang menguntungkan dan prosedurnya ribet. ”Pembayaran tidak cash. Kita di sana (super market-red) istilahnyahanya titip barang saja, dibayar setelah barang laku. Jika ada kerusakan dikembalikan lagi. Padahal kita telah banyak melakukan pembenahan, baik kualitas, bentuk dan pengemasan agar mendukung,” ujar Sarwono.

Lebih jauh dia mengatakan, gula yang kualitasnya jelek
sebenarnya bisa dilakukan daur ulang. Caranya, gula-gula BS ini diolahlagi dengan dicampur sedikit gula pasir ataupun nira. (Ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response