Karya Sastra Novel, Bukan Buku Sejarah

Ditulis 13 Feb 2014 - 18:26 oleh Yit BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
116
Dalam Tag
Drs. Supriyadi, M.Hum

Drs. Supriyadi, M.Hum

YOGYAKARTA (BanyumasNews.Com) – Fakta sejarah yang terdapat dalam novel-novel Indonesia yang menggunakan sekaligus menyimpangi fakta sejarah ternyata memiliki fungsi-fungsi tertentu. Dalam hal ini, fungsi utama unsur-unsur tersebut tidak membuat novel menjadi bentuk penulisan kembali peristiwa-peristiwa masa lalu atau sebagai karya sejarah, tetapi merupakan kreativitas pengarang dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Dengan kata lain, novel yang menggunakan sekaligus menyimpangi fakta sejarah merupakan karya sastra, bukan buku sejarah.

“Karya sastra ini tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya sebagai sebuah fenomena sosial, khususnya ketika karya itu dihubungkan dengan kehidupan masyarakat yang melatarbelakangi proses penciptaannya,” papar Drs. Supriyadi, M.Hum pada ujian terbuka doktor Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya UGM, Kamis (13/2) di R. Multimedia Lt. II Gedung Margono Djojohadikusumo FIB UGM. Pada kesempatan itu Supriyadi mempertahankan disertasinya yang berjudul “Fakta Sejarah dalam Novel Indonesia: Kajian Posmodern Menurut Linda Hutcheon Atas Lima Novel Indonesia”.

Lebih lanjut Supriyadi menilai bahwa fakta sejarah yang digunakan yaitu peristiwa-peristiwa sejarah yang berhubungan dengan perebutan kekuasaan dan kekuasaan raja yang sangat luas dan otoriter sehingga rakyat menderita. Ia mencontohkan dalam trilogi novel Roro Mendut. Fakta sejarah yang digunakan yaitu masa pemerintahan Mataram Islam, terutama masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat 1. Namun, trilogi itu lebih berfokus pada pemerintahan Amangkurat 1 daripada Sultan Agung.

“Ini ditunjukkan peran Amangkurat 1 sebagai antagonis, baik dalam novel kedua (Genduk Duku) maupun novel ketiga (Lusi Lindri). Sultan Agung jadi tokoh bawahan yang muncul di beberapa halaman awal novel pertama (Roro Mendut),” terang dosen Jurusan Sastra Indonesia UGM itu.

Sementara itu jika trilogi novel Roro Mendut menggunakan fakta sejarah tentang keotoriteran seorang raja, novel Arok Dedes lebih berfokus pada peristiwa perebutan kekuasaan yang terjadi di Tumapel yang di dalamnya penuh intrik dan kelicikan. Untuk mempertajam intrik-intrik ini, novel Arok Dedes banyak menyimpangi peristiwa sejarah untuk menggambarkan lemahnya kekuasaan Tunggul Ametung. Sebabnya, hampir semua kelompok di dalam istana ingin menjadi penguasa. Sementara Empu Gandring juga ingin merebut kekuasaan melalui kekayaan dan kepandaiannya membuat senjata.

Sedangkan dalam novel Putri Cina, fakta sejarah yang digunakan yakni perebutan atau peralihan kekuasaan dari Orde Baru ke Orde Reformasi pada 1998. Namun, hal yang menjadi fokus pada novel ini yaitu dampak perebutan kekuasaan itu pada kelompok minoritas tertentu (etnis Cina) atau yang lebih dikenal sebagai Tragedi Mei 1998.

“Rakyat yang menuntut lengsernya penguasa Orde Baru saat itu menjadi beringas dan membakari toko-toko milik orang keturunan Cina,” imbuh Supriyadi.

Dari hasil kajian yang dilakukan itu Supriyadi mengatakan selain berfungsi sebagai pembangun novel, fakta sejarah memiliki fungsi yang dominan, yaitu untuk mengalegorikan peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah tertentu pada masa kini. Dalam hal ini, kekinian itu dihubungkan dengan waktu ketika novel muncul atau ketika diterbitkan. Trilogi novel Roro Mendut yang terbit pada tahun 1980-an berhubungan dengan pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan militeristik; novel Arok Dedes yang terbit tahun 1999 berhubungan dengan peralihan kekuasaan, dan novel Putri Cina yang terbit tahun 2007 berhubungan dengan keterbukaan dan konflik SARA.

Tentang Penulis

Leave A Response