Kerajinan Ece Gumelem Tembus Pasar Malaysia

Ditulis 11 Feb 2014 - 23:46 oleh Nanang BNC
Tiga orang pekerja bagia finishing sedang berkonsentrasi meakukan pewarnaan kerajinan Ece. (foto ruh)

Tiga orang pekerja
bagia finishing sedang berkonsentrasi meakukan pewarnaan kerajinan
Ece. (foto ruh)

LAMBAT tapi pasti, sejumlah kerajianan dari bahan ece asal Desa Gumelem, Kecamatan Susukan,Banjarnegara  terus digemari masyarakat. Bila wilayah pemasarannya dulu hanya di seputar karsidean Banyumas, kini telah merambah ke luar Malaysia.

Dalam tiap bulannya, setidaknya ada ribuan hasil kerajinan ece
seperti pegura (tempat foto), burung garuda, burung merak, cermin dari berbagai model dan ukuran yang dibawa ke Kalimantan dan Sumatra oleh para pedagang dari luar Banjarnegara.
Anisah, salah seorang pengrajin dan sekaligus pengepul kerajian ece asal Grumbul Karangpace desa setempat mengugkapkan, dalam beberapa bulan terakhir ini jumlah pesanan dari para pedagang besar terus mengalami peningkatan. Mereka yang biasanya mengambil dua kali dalam
satu bulan, kini sampai tiga kali. Karena itu, pihaknya mengku sedikit kewalahan. Ada ?sekitar empat pedagang
biasanya mengambil ke sini (Gumelem-red), dan mereka rela ngantri unggu barang jadi. Sedangkan proses pebuatan tidak bisa dikebut. Saat ini katanya sedang mencoba di bawa ke Malaysia,” ujar Anisah.
Dia menuturkan, ada sekitar lima orang yang menekuni usaha ini. Dalam pengerjaannya masing-masing memiliki karyawan di atas 50 orang lebih denga sistem borongan. Para pengusaha menyediaka alat dan bahan baku seperti ece dan triplek, sementara pekerjanya siap tenaga dan dikerjakan di rumah sendiri.
Dalam tiap bulannya, setidaknya ada ribuan hasil kerajinan ece(foto ruh)

Dalam tiap bulannya, setidaknya ada ribuan hasil kerajinan ece(foto ruh)

Upah pemasangan ece pada triplek, jelas dia, disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan ukuran. ”Untuk bentuk garuda, pigura kecil Rp 2.500 per buah, sedangkan untuk ukuran sedang Rp 5 ribu,” kata dia.
Adapun untuk finishing seperti pewarnaan dikerjakan oleh karyawan khusus. Hal ini mengingat agar tidak semua karyawa bisa melakuka ini. ”Mereka hanya masang ece, untuk pewarnaan ditangani khusus karena ini menyangkut keindahan,” ujar dia.
Sardi, salah seorang pekerja mengatakan, dengan sistem kerja seperti tersebut, ia merasa lebih diuntungkan karena tidak terikat dengan waktu. Selain bisa tetap menjalankan pekerjaan pokoknya sebagai pengrajin gula kepala, pekerjaan memasang ece bisa dikerjakan anggota keluarga yang lain. ”Penghasilan tidak pasti, tergantung banyak sedikitnya. Karena seringkali saya kerjakan malam hari, dalam sebulan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, namun kadang bisa dua kali lipat itu,” ungkap Sardi.
Anisah menyebutkan, bahan baku berupa ece didatangkan dari daerah pesisir seperti Cilacap dan Tegal. Kepala Dusun (Kadus) Karangpace, Siswoyo mengatakan, di samping mengangkat perekonomian masyarakat, kerajinan ece merupakan salah satu pendukung dalam mewujudkan Gumelem sebagai desa wisata. Pasalnya, di Gumelem terdapat sejumlah tempat yang layak dijadikan untuk sarana wisata murah meriah. Diantaranya,
petilasanan Sunan Giri, pemadian air hangat Pingit di lereng Gunung Wuluh. ”Untuk hari libur atau minggu banyak orang datang,” ujar dia (Ruhito).
Tentang Penulis

Leave A Response