Gelar budaya sedakah laut Cilacap dan sejarahnya

Ditulis 17 Des 2009 - 23:12 oleh Banyumas1

CILACAP – Sudah menjadi tradisi rutin turun temurun, setiap bulan Syura (Muharram – penanggalan Islam) masyarakat didukung Dinas Pariwisata Kab Cilacap mengadakan Prosesi Sedekah Laut. Untuk tahun 2009 ini diselenggarakan pada Kamis Wage – Jumat Kliwon, 17 – 18 Desember 2009.

Gelar budaya ini berupa arak-arakan jolen dengan rute dari alun-alun menuju teluk Penyu. Tahun ini rute dari arak-arakan Jolen adalah Pendopo Wijayakusuma Cakti – Jl. Jend. Sudirman – Jl. Wiratno – Jl. Pemintalan – Jl. Kendilwesi – Jl. Veteran – Jl. Dayung – Jl. Pasir Mas – dan berakhir di pantai Teluk Penyu

Sekilas sejarah sedekah laut

Upacara sedekah laut adalah salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh Kelompok Nelayan Sidakaya, Donan, Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong, Pandanarang, PPSC dan Kemiren.
Upacara ini didahului dengan acara prosesi membawa sesaji (jolen) untuk dilarung ke tengah laut lepas dari Pantai Teluk Penyu Cilacap. Jolen diarak dari dalam Pendopo Kabupaten Cilacap menuju arah Pantai Teluk Penyu dengan diiringi arak-arakan Jolen Tunggul dan diikuti Jolen-Jolen pengiring lainnya oleh peserta prosesi yang berpakaian adat tradisional Nelayan Kabupaten Cilacap tempo dulu.

Setibanya di Pantai Teluk Penyu sesaji kemudian di pindahkan ke kapal Nelayan yang telah dihias dengan hiasan warna-warni untuk di buang ketengah lautan di kawasan pulau kecil yang di sebut Pulau Majethi.

Tradisi sedekah laut bermula dari perintah Bupati Cilacap ke III Tumenggung Tjakrawerdaya III yang memerintahkan kepada sesepuh nelayan Pandanarang bernama Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji kelaut selatan beserta nelayan lainnya pada hari Jumat Kliwon bulan Syura tahun 1875 dan sejak tahun 1983 diangkat sebagai atraksi wisata.

Upacara sedekah laut sebelum hari pelaksanaan didahului dengan prosesi nyekar atau ziarah ke Pantai Karang Bandung (Pulau Majethi ) sebelah timur tenggara Pulau Nusakambangan yang dilakukan oleh ketua adat Nelayan Cilacap dan diikuti berbagai kelompok nelayan serta masyarakat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan pada musim panen ikan melimpah dan para nelayan diberi keselamatan.

Disamping upacara nyekar juga mengambl air suci/ bertuah di sekitar Pulau Majethi yang menurut legenda tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma.
Pada malam harinya acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional di tiap-tiap desa/ kelurahan oleh kelompok Nelayan yang bersangkutan.

Pada malam H-1 puncak acara, masyarakat dari luar kota sudah berduyun-duyun ke kota Cilacap, dengan berkumpul di pantai teluk penyu. Keramaian gelar budaya ini menyerupai keramaian saat lebaran.

Pro kontra atas sedekah laut ini juga terjadi di masyarakat, dimana kalangan agamawan (ulama Islam) ada yang menganggap upoacara ini sebagai syirik, sekalipun dibungkus dalam label gelar budaya. Hal ini karena adanya sajian yang dibuang ke laut untuk tolak bala, sesuatu yang dianggap dilarang agama. Namun demikian tradisi ini secara rutin tetap berlangsung. (BNC/Ist)

prosesi sedekah laut

prosesi sedekah laut

Tentang Penulis

Leave A Response