Batik Kombinasi Banyumasan Makin Diminati Konsumen

Ditulis 07 Feb 2014 - 18:16 oleh Yit BNC
Batik kombinasi Banyumasan.

Batik kombinasi Banyumasan.

BANYUMAS (BanyumasNews.Com)  – Nurul Wuryaningsih (37), tampak suntuk memilih-milih kain batik di gerai Batik “R” di Jalan Kebutuh Sokaraja Kulon, Banyumas (Jateng). Nurul yang berasal dari Depok Jawa-Barat memang sengaja berburu batik Banyumasan di kampung batik Sokaraja Kulon siang itu.Ia memborong sejumlah kain batik Banyumasan sebagai oleh-oleh, setelah pulang kampung menjenguk orang tuanya di Purbalingga.

“Saya terarik batik Banyumasan, karena coraknya yang khas, dengan warna dominan hitam dan coklat. Saya juga tertarik dengan batik Banyumasan yang sekarang sedang ngetrend dengan warna ngejreng,” ujar Nurul Wuryaningsih.

Tak hanya Nurul, belakangan banyak pembeli dari luar kota yang berburu batik Banyumasan ke Sokaraja Kulon. Di tempat ini, ada 7 pengusaha batik dengan jumlah karyawan mencapai ratusan. Mereka menggantungkan hidup dari batik, dan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Dan satu diantara 7 pengusaha batik di Sokaraja kulon yang terbilang sukses, adalah Heru Santoso, pemilik usaha batik “R” . Diberi nama R, karena merujuk plat nomor kendaraan wilayah banyumas, yakni R.

Heru Santoso (45) mengatakan, saat ini pihaknya memproduksi tiga jenis batik, yakni batik tulis, cetak dan kombinasi. Khusus batik kombinasi ini merupakan perpaduan antara batik tulis dan cetak. “Yang sedang ngetrend sekarang adalah batik kombinasi. Batik jenis ini sekarang banyak diburu konsumen, karena harganya terjangkau. Namun demikian, batik tulis dan batik cap juga laku keras di pasaran,” ujar Heru Santoso yang juga guru seni membatik di SMA Negeri Sokaraja ini.

Heru mengakui, batik asli Banyumas memiliki warna dominan hitam dan coklat, dengan berbagai motif seperti motif kangkungan, kitiran, gedhung kosong, beras wutah, buncisan , suket grinting dan sebagainya. “Batik Banyumasan yang asli, memang warna dominannya hitam dan coklat. Namun seiring selera konsumen yang terus berubah, maka belakangan yang ramai diburu adalah yang memiliki warna-warna cerah atau ngejreng, seperti kuning, merah, hijau, ungu dan orange,” tambah Heru.

Di gerai batik miliknya itu, Heru menjual kain batik yang rata-rata berukuran 2,40 meter X 1,05 meter bervariasi, dari harga termurah Rp 85 ribu – termahal Rp 700 ribu. Untuk batik cetak dan kombinasi dijual Rp 85 ribu/lembar, sedangkan batik tulis dijual mahal, karena prosesnya memang rumit dan butuh ketelatenan.

“Sejak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), kami memang menaikkan harga batik. Untuk batik cetak dan kombinasi  semula Rp 80 ribu menjadi Rp 85 ribu. Itu karena, harga bahan baku  berupa kain mori dan obat-obatan yang kami beli di Perkalongan, juga ikut naik. Upah karyawan juga kami naikkan, sehingga ikut mempengaruhi harga jual kain batik,” ujar Heru Santoso, anak nomer 2 dari H Sugito, perintis batik Sokaraja.

Selama ini, lanjut Heru, ia memasarkan batik produksinya, dengan cara konsumen datang sendiri dan memenuhi pesanan ke luar kota , seperti Jogja, Bogor dan Jakarta serta berbagai kota besar lainnya. Hampir setiap bulan, Heru selalu mengirim produksi batiknya ke luar kota itu.

“Bahkan di Jogja, batik Banyumasan sangat diminati di sana. Ini terbukti, hampir setiap bulan kami kirim ribuan kain batik ke Jogja,” ujarnya.

Selain menjual kain batik, di gerai miliknya Heru Santoso juga menjual pakaian jadi dengan bahan kain batik. (BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response