Problem Energi di Jateng Cukup Serius

Ditulis 07 Feb 2014 - 18:13 oleh Yit BNC
Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo

Semarang (BanyumasNews.Com) – Masyarakat Batang yang lahannya terkena proyek pembangunan PLTU Batang, diminta mau melakukan rembugan. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah pun siap berembug dan memfasilitasi masyarakat.

“Jika masyarakat ingin nguda rasa, Gubernur siap menampung. Silahkan berdialog, nguda rasa, duduk bersama karo aku rembugan mencari jalan keluar. Yang saya minta hanya itu. Maka kalau dua kali kami pernah mengundang dan tidak hadir, mbok yao, mari kita duduk bersama. Gubernurnya mau mendengarkan kok. Insya Allah saya fasilitasi,” ujar Gubernur Jawa Tengah, H Ganjar Pranowo SH, di Semarang, Kamis (6/2/2014).

Menurutnya, problem energi di Jawa Tengah cukup serius. Apalagi, pada 2017 mendatang diprediksi akan terjadi krisis listrik. Untuk itu, harus dilakukan upaya untuk mengatasi kekurangan listrik. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan sejumlah upaya. Antara lain, bersama masyarakat mulai menghemat penggunaan listrik.

Selain itu, pada level remote area dan pedesaan, terus didorong untuk menghasilkan energi alternatif. Dan pembangkit listrik tenaga mini atau mikro tersebut, termasuk solar sell, semakin bermunculan, di samping diversifikasi energi lainnya. Namun, semua itu belum cukup mengingat kebutuhan listrik sangat besar dan semakin bertambah. Terlebih, dengan masuknya sejumlah investasi baru di provinsi ini.

“Kalau bebannya demikian tinggi, dan kita gagal untuk memberikan suplai listrik, ya tidak ada pertumbuhan apa-apa di Jawa Tengah. Maka, ada pilihan politik yang mesti dilakukan. Sehingga, kalau Jawa Tengah mau tumbuh baik, problem kemiskinan, pengangguran, pertumbuhan ekonomi sudah berjalan, ya suka tidak suka, mau tidak mau, harus membuat pembangkit baru,” kata Ganjar.

Ditambahkan, sejumlah pembangkit listrik tengah dibangun di Jawa Tengah. Salah satunya, pembangkit listrik di Cilacap yang sebentar lagi akan selesai dikerjakan. Sekarang ini, juga tengah dilakukan pembangunan PLTU di Batang. Namun, dalam pelaksanaannya, masih menemui permasalahan. Terutama, dalam pengadaan lahan.

Pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, dan mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam pembangunan PLTU Batang. Tidak hanya itu, pemerintah provinsi juga meminta kepada investor, agar memberikan kepastian dan jaminan kepada masyarakat, untuk bisa hidup lebih baik lagi seiring dengan pembangunan PLTU Batang. Jadi, tidak ada istilah ganti rugi lahan, melainkan ganti untung.

“Saya sudah omongkan, lahan pengganti harus ada. Kalau lahan masyarakat basah, tapi gantinya yang ada lahan kering, ya harus dibasahkan dulu. Tidak ada yang tidak saya carikan solusi. Tapi, kalau ada free raider, penumpang gelap, harus dipangkasi satu-satu,” tegas Ganjar.

General Manager PT Distribusi PLN Jawa Tengah-DIY, Djoko R Abumanan, membenarkan adanya peningkatan kebutuhan listrik setiap tahunnya. Bahkan, penambahan 10 persen energi yang dilakukan setiap tahun, pada realisasinya selalu terlampaui. Apalagi, dengan masuknya investor di Jawa Tengah, yang membuat lonjakan kebutuhan listrik. Diperkirakan, 2017 akan terjadi krisis energi listrik, karena tidak terpenuhinya cadangan energi sebanyak 30 persen.

Peristiwa pada 3 September lalu di mana terjadi gangguan (black out) pada subsistem yang ada di Ungaran, yang mengakibatkan 70 persen wilayah Jawa Tengah menjadi gelap, menjadi pengalaman berharga yang diupayakan tidak akan terulang. Dan saat itu, PLN baru memiliki dua subsistem baru atau gardu tegangan tinggi. Yakni, di Ungaran dan Tanjungjati. Untuk menghindari hal serupa, pihaknya menambah empat subsistem baru. Salah satunya, di Boyolali, yang MoU-nya telah ditandatangani beberapa waktu lalu.

Pihaknya juga terus berupaya memenuhi kebutuhan listrik di provinsi ini. Tidak hanya bagi investor, melainkan juga bagi masyarakat Jawa Tengah. Dia menargetkan rasio elektrifikasi (RE) di Jawa Tengah pada 2016 mencapai 96 persen. Sementara, pada 2013 ini RE sebesar 85 persen.

Pembangunan PLTU Batang, kata dia, diharapkan dapat memberikan kontribusi listrik yang besar di provinsi ini, karena memiliki kapasitas 2×1.000 mega watt. Apalagi, investasi pembangunan itu sangat besar, yakni mencapai Rp 40 triliun. Dan sudah ada investor yang mau membangunnya. Karenanya, Djoko berharap dukungan semua pihak untuk memperlancar pembangunan PLTU Batang. “Mari kita siapkan tidak hanya listrik, tapi masyarakat juga harus disiapkan. Juga prasarana yang lain. Kita buat Jawa Tengah ini tidak kalah dengan Jawa Timur dan Jawa Barat,” ajaknya. (BNC)

 

Tentang Penulis

Leave A Response