Kudi, Golok Khas Banyumasan

Ditulis 04 Feb 2014 - 19:04 oleh Nanang BNC
Proses pembuatan Golok Kudi khas Banyumas (foto: must)

Proses pembuatan Golok Kudi khas Banyumas (foto: must)

SUASANA yang bising di tengah kampung diikuti dengan suara tempaan menjadi ciri khas keseharian pengrajin alat-alat pertanian, seperti arit, pisau, dan golok khas Purwokerto yang sering dikenal dengan kudi. Keringat yang terus mengucur tidak menghentikan semangat para pengrajin untuk terus berkarya.

Seperti itulah yang dirasakan oleh Hadi (66) Warga Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Banyumas.  Pekerjaan yang sudah digelutinya selama 38 tahun ini tetap diteruskannya meskipun sudah terbilang kuno karena ia tetap berusaha mempertahankan pekerjaan yang turun-temurun dari keluarganya.

Meskipun dilakukan secara tradisional, mutu barang yang dihasilkan pun tak kalah dengan buatan mesin. Ketajaman dari alat-alat pertanian miliknya tak diragukan lagi sesuai dengan harga yang ditawarkan. Kudi, arit, dan pisau dijual mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 300 ribu sesuai dengan ukuran.

Dalam satu hari, mampu memproduksi 12-15 buah, “Rata-rata kami membuat karena adanya pesanan, agar harga tetap stabil, tidak rugi. Mayoritas yang memesan para petani,” ujar Hadi (66). Namun untuk bahan mentah, ia tetap menerima kiriman berupa peer mobil dari bengkel dan  penampung rongsok dari daerah sekitar. Tiap kilo dihargai Rp 8 ribu dan biasanya membeli 10 kg saat menerima kiriman.

Konsumen yang membeli alat-alat pertanian buatan Hadi bersama kedua rekannya, Uswanto dan Siswanto terdiri dari berbagai macam daerah. Selain dari ekskarisidenan Banyumas dan Banjar, barang buatannya ini dikirim juga hingga ke Kalimantan dan Sumatera. 2

Cara pembuatan kudi, arit, dan pisau cukup rumit dan butuh ketelatenan. Pertama, bahan disiapkan dan kemudian dipotong sesuai dengan ukuran dan kebutuhan. Untuk pemotongan dibantu sangat bergantung dengan alat yang dihubungkan dengan listrik. Kemudian dibakar dalam tumpukan arang, dibentuk, dan ditempa berkali-kali agar tercipta wujud yang diinginkan sesuai dengan fungsinya. Setelah itu dihaluskan dan diasah untuk mempertajam alat-alat pertanian yang telah dibuat.

Tentu ada perbedaan antara pembuatan kudi, arit, dan pisau secara tradisional dengan buatan mesin modern. “Seperti ibaratnya membuat batik, batik tulis dengan batik stempel. Pasti harganya juga berbeda. Harga batik tulis lebih tinggi daripada harga batik stempel karena pembuatannya yang lebih rumit. Sama halnya dengan pembuatan kudi, arit, dan pisau dengan cara tradisional dan modern,” kata Hadi sambil mengistirahatkan tubuhnya.

Tangan dan kaki yang kotor tidak menyurutkan kemauan mereka untuk terus membuat alat-alat pertanian tersebut. Pekerjaan ini dimulai pukul 07.30 WIB hingga 16.30 WIB dan menghabiskan 30 menit untuk beristirahat. Pekerjaan yang dimulai sejak tahun 1975 merupakan waktu yang cukup lama dalam berwirausaha, namun di dunia yang serba modern ini ia dan kedua rekannya tetap mempertahankan cara tradisional yang mutunya tidak kalah dengan alat-alat pertanian modern. (Nur Must)

Tentang Penulis

Leave A Response