Nikmatnya Soto Grombyang Khas Pemalang

Ditulis 04 Feb 2014 - 12:35 oleh Eko Nurhuda

grombyang pemalangAPA ya sebutan yang tepat untuk grombyang? Sekilas makanan ini seperti soto karena berkuah dan berisi daging. Tapi kalau dibilang soto, grombyang sangat berbeda dari soto. Jadi, sebut saja dia grombyang yang memang hanya ada di Pemalang.

Kuliner khas Pemalang ini merupakan yang paling dikenal masyarakat luas. Rasanya segar gurih sedap, membuat lidah bergoyang nikmat. Grombyang terasa lebih nikmat jika disajikan dalam keadaan hangat-hangat. Kuahnya yang hitam segar, dipadu dengan daging sapi kenyal namun lembut di lidah, sungguh menggoda selera.

Yang membuat grombyang unik sekaligus membedakannya dari soto adalah adanya parutan kelapa yang digoreng dan kluwek yang dicampurkan langsung dalam hidangan. Campuran srundeng membuat grombyang memiliki rasa khas yang tak dimiliki masakan berkuah lainnya seperti soto atau rawon. Sedangkan kluwek membuat warna kuah grombyang menjadi pekat kehitaman. Kelihatannya keruh, namun jangan tanya bagaimana rasanya.

Satu lagi keunikan grombyang terletak pada pilihan daging yang dipakai. Jika soto bisa memakai daging ayam atau sapi, grombyang hanya memakai daging kerbau. Memang ada variasi grombyang yang memakai daging ayam karena alasan praktis dan ekonomis. Namun grombyang akan terasa jauh lebih nikmat jika dibuat dari daging kerbau.

Grombyang-grombyang
Cara penyajian grombyang adalah dengan sebuah mangkuk kecil, mirip mangkuk wedang ronde. Sebagai pelengkap, penjual grombyang biasanya juga menyertakan satu kerbau, sate telur puyuh, atau yang paling sering dijumpai adalah kerupuk usek khas Pemalang.

Bagi orang Jawa, kata “grombyang” tidak asing di telinga. Kata ini dipakai untuk menyebutkan kondisi di mana sebuah benda bergoyang-goyang terapung di atas air. Nah, nama grombyang sendiri berasal dari sini. Konon kata grombyang dipakai karena sajiannya yang lebih banyak kuah ketimbang isian. Karena lebih banyak kuah, isiannya yang terdiri dari irisan daging kerbau, potongan daun bawang, dan lainnya seperti ‘berenang’. Lalu ketika mangkuk berisi grombyang dibawa oleh pelayan, air kuah bergoyang-goyang bersama isiannya. Isian yang bergoyang-goyang inilah yang dalam bahasa Jawa disebut “grombyang-grombyang.” Jadilah nama grombyang.

Tak ada referensi pasti mengenai sejak kapan grombyang dimasak orang Pemalang. Namun, cerita dari mulut ke mulut mengatakan grombyang sudah ada di Pemalang sejak sekitar tahun 1960-an. Di masa itu penjual grombyang menjajakan dagangannya dengan pikulan, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Kini, penjual grombyang keliling, apalagi dengan pikulan, sudah jarang ditemui.

Kini, untuk mencicipi grombyang kita bisa mendatangi beberapa warung grombyang kenamaan. Salah satu yang paling banyak direkomendasikan adalah Grombyang Hj. Warso di utara alun-alun Pemalang. Warung ini pernah didatangi Pak Bondan Winarno untuk liputan acara Wisata Kuliner di salah satu televisi swasta. Selain Haji Warso ada juga Grombyang Waridin di kawasan Sirandu.

Harganya? Jangan kuatir. Mencicipi semangkuk grombyang tak bakal membuat kantong bolong kok. Yang jelas, kalau penasaran ingin mencicipi grombyang datang saja ke Pemalang!

Tentang Penulis

Eko Nurhuda, kontributor tetap BanyumasNews.com. Berdomisili di Pemalang, Jawa Tengah.

Leave A Response