Wisata Desa Limbasari Mulai Bergeliat

Ditulis 22 Jan 2014 - 17:48 oleh Yit BNC
Tubing, salah satu aktifitas yang dilakukan wisatawan saat bekrunjung ke Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari. Desa Limbasari tengah dikembangkan sebagai desa wisata dengan keunggulan curug Patrawisa, pemandangan alam, kerajinan batik, dan ‘Kampung Inggris’. (BNC/tgr)

Tubing, salah satu aktifitas yang dilakukan wisatawan saat bekrunjung ke Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari. Desa Limbasari tengah dikembangkan sebagai desa wisata dengan keunggulan curug Patrawisa, pemandangan alam, kerajinan batik, dan ‘Kampung Inggris’. (BNC/tgr)

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com)  – Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari, Purbalingga mulai bergeliat mengembangkan potensi wisata yang dimiliki. Kesungguhan desa dalam mengembangkan potensi yang ada telah ditunjukan dengan terbentuknya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Patrawisa yang diketuai Edi Prasodjo.

“Bersama pemuda dan elemen masyarakat Limbasari, kami bertekad untuk memajukan Limbasari melalui pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi,” kata Edi Prasodjo yang juga sekretaris desa setempat, Selasa(21/1) kemarin.

Kemasyhuran potensi wisata Limbasari sesungguhnya telah bergema sejak lama. Desa yang berada di deretan pegunungan tepatnya di kaki gunung Plana, memiliki tempat legenda Putri Ayu Limbasari yang namanya tersohor sampai sekarang. Desa limbasari juga memiliki potensi budaya dan seni tradisional yang beraneka ragam.

Potensi cerita legenda “Putri Ayu Limbasari” bahkan tengah dibuatkan bukunya oleh salah seorang warga Limbasari yang sukses di Jakarta, Ning Sujito. Selain membuat buku legenda Putri Ayu Limbasari, Ning Sujito, putri Limbasari yang sukses menjadi Ketua Umum Asosiasi Tata Boga Seluruh Indonesia,  akhir Desember lalu, juga melounching Galeri Batik Puteri Muning Sari, Home Stay Puri Sunrise Garden dan Cetre of Activitis Limbasari Village. Sarana prasarana ini membuktikan betapa seriusnya warga setempat dalam menggenjot sektor pariwisata di desanya.

“Batik Limbasari dan legenda Putri Ayu Limbasari, menjadi potensi unggulan desa ini. Selain potensi lainnya berupa wisata alam dan budaya yang masih sangat perawan,” katanya.

Dikatakan Edi, sejumlah wisatawan lokal dan nasional telah berkunjung ke desa Limbasari. Terakhir pada Desember tahun lalu, Limbasari dikunjungi 26 wisatawan asal Mojokerto, Jawa Timur, yang tertarik melihat potensi batik tulis dan keindahan alam desa di wilayah perbukitan berjarak 15 km dari pusat kota Purbalingga.

Selain itu, sejumlah pengurus salah satu pondok pesantren di wilayah Provinsi Lampung, sengaja datang ke Limbasari khusus untuk belajar bahasa Inggris. Seperti diketahui, desa ini juga telah dicanangkan oleh Bupati Sukento Rido Marhaendrianto, sebagai “Desa Inggrisnya” Purbalingga.

“Ada rencana tiap liburan sekolah, akan mengirim santrinya belajar bahasa inggris di sini,” ujar Edi Prasodjo.

Semangat warga desa itu, mendapat dukungan penuh dari Pemkab Purbalingga. Sejauh ini, pemkab melalui Bappeda Purbalingga telah melakukan pemetaan potensi pengembangan wisata desa Limbasari. Bahkan desa Limbasari menjadi satu-satunya desa yang telah memiliki Rencana Tata Bangunan dan Lahan (RTBL).

“RTBL kita susun supaya saat menjadi desa wisata, orang tidak akan membangun sembarangan. Dimana boleh dibangun ini, dimana tidak boleh dibangun itu. Semua sudah dipetakan dengan menimbang kemanfaatan dan kelestarian keaslian Limbasari,” jelas Sekretaris Bappeda Drs Suroto MSi.

Penyusunan RTBL Desa Limbasari, lanjut Suroto, merupakan tindak lanjut program fasilitasi pengembangan desa terpadu yang dilakukan Bappeda sejak dua tahun lalu. Program ini, untuk mewadahi potensi-potensi lokal yang ada di Limbasari, termasuk SDM, potensi alam dan budaya setempat.

“Adanya RTBL, bisa digunakan oleh pihak desa sebagai dasar penerbitan ijin. Kalau ada yang mau bikin hotel tempatnya disana, lokasi ini khusus untuk pertanian saja, dan seterusnya,” ungkap Suroto yang memastikan bila penataan itu sudah melalui diskusi mendalam dengan masyarakat.

Kepala Desa setempat, Halimah, membenarkan, dari hasil pemetaan itu, rencananya desa Limbasari akan dikembangkan menjadi desa terpadu. Yakni pengembangan potensi desa secara terpadu menuju Desa Wisata Ayu Limbasari.

“Mudah-mudahan program ini akan segera terlaksana sehingga mampu mendukung upaya pengembangan wisata desa yang masih membutuhkan banyak polesan. Terutama menyangkut infrastruktur jalan menuju beberapa lokasi wisata alam,” harapnya.

Menurut Halimah, saat ini sejumlah lokasi wisata alam dan budaya yang dikelola Pokdarwis Patrawisa masih belum memiliki sarana prasarana yang memadai. Seperti obyek wisata Pertapaan Tunggul Wulung yang berada di puncak gunung tukung dan Patrawisa yang berada diantara kaki gunung tukung dan gunung plana, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Itupun harus melalui jalan setapak.

Potensi lainnya, lanjut Halimah, di desa yang dipimpinya juga berkembang sebagai desa produksi, terkait keberadaan potensi produk batik Limbasari yang terus berkembang baik. Menurut Dia, saat ini di desa Limbasari masih terdapat 400-an perajin batik tulis.

“Terakhir, Limbasari diresmikan sebagai Desa Inggris yang dikelola Pokdarwis. Potensi ini juga mulai berkembang dengan adanya kunjungan sejumlah wisatawan untuk belajar bahasa inggris disini,” jelasnya.

Bupati Purbalingga Drs Sukento Rido Marhaendrianto MM saat meninjau Desa Inggris Limbasari mengaku akan memberikan bantuan untuk Desa Inggris. Sebab, menurutnya Desa Inggris Limbasari, bisa menjadi pendukung berkembangnya pariwisata di Purbalingga. Bahkan, setengah bercanda Bupati bakal membawa kepala SKPD untuk belajar Bahasa Inggris di Desa Inggris Limbasari, agar seluruh kepala SKPD lancar Berhabasa Inggris.

Kunjungan sejumlah wartawan liputan Purbalingga ke Desa Limbasari, juga sebagai salah satu upaya mengenalkan potensi wisata Limbasari. “Semula, acara konferensi pers antara Bapak Bupati dengan para pewarta Purbalingga akan dilaksanakan di Pringgitan Pendopo. Namun Bupati meminta tempatnya dialihkan ke Desa Limbasari. Sekaligus sebagai upaya mempromosikan Limbasari kepada masyarakat,” jelas Kabag Humas Drs Rusmo Purnomo. (BNC/tgr)

 

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response