Ini Baru Beda! Bakso Tanpa Pentol à la Pemalang

Ditulis 08 Jan 2014 - 19:05 oleh Eko Nurhuda

Bakso Daging tanpa Pentol Putri Miad Pemalang

PEMALANG (BanyumasNews.com) – Menyebut bakso, yang pertama kali terbayang di kepala biasanya bulatan-bulatan campuran tepung dan daging. Beberapa orang menyebutnya sebagai pentol bakso, sebagian lagi hanya menyebutnya bakso saja.

Pentol inilah ciri khas yang membedakan bakso dengan makanan berkuah berisi campuran mi lain, misalnya soto. Ukuran pentol bakso umumnya sebesar bola pingpong, namun ada juga yang besarnya menyamai bola tenis.

Kalau Anda kebetulan mampir di Pemalang, kota kecil diantara Tegal dan Pekalongan, ada satu bakso yang sangat kondang di sini. Bakso daging Pak Miad, demikian warga sekitar menyebutnya. Tapi, jangan harap menemukan pentol dalam bakso tersebut.

Bakso Daging Putri Miad PemalangPelopor Bakso
Sudah banyak orang kecele ketika pertama kali mencicipi bakso daging Pak Miad. Saat mangkuk bakso disodorkan pelayan, pembeli sering bertanya-tanya heran, “Lho, kok langka ondhol-ondhole?” Ondhol-ondhol adalah istilah lokal untuk menyebut pentol bakso. Namun setelah dicicipi, cita rasanya dijamin membuat ketagihan.

Bakso daging Pak Miad sangat populer di Pemalang, terutama di wilayah Kec. Taman yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kota. Pak Miad sendiri disebut-sebut sebagai pelopor pedagang bakso di Pemalang. Saat belum ada pedagang bakso, warga Desa Banjaran, Kec. Taman, ini sudah berkeliling kampung menjajakan bakso racikannya dengan pikulan bambu. Tak heran jika nama Pak Miad menjadi jaminan kelezatan rasa bakso daging khas Pemalang tersebut.

Awalnya bakso ini hanya bisa didapat di Desa Banjaran. Setelah Pak Miad meninggal pada 1999, dua anak perempuannya meneruskan usaha sang ayah di dua desa berbeda. Warung yang di Banjaran dilanjutkan oleh Eny, sedangkan warung lainnya terletak di Desa Jebed Utara, sekitar 3-4 kilometer dari Banjaran.

Pada perkembangannya, warung yang di Jebed Utara lebih populer. Kebetulan Kusyati, pemilik warung yang terletak persis di seberang jalan Tugu Jebed Utara itu, tampak lebih piawai menjajakan bakso warisan ayahnya.

Bakso Daging Putri Miad Pemalang

Bakso Daging Putri Miad 01

Meski kondisi warung yang dinamainya Bakso Daging Putri Miad begitu sederhana, hanya berupa warung kayu berlantai tanah dengan dinding bercat kapur, pembelinya selalu ramai. Konsumennya kebanyakan pegawai dan siswa sekolah, namun warga biasa juga tak kalah banyak.

Saat musim mudik, pembelinya didominasi para pemudik yang melintasi Jl. Sirayak, jalan di depan warung Kusyati. Kebetulan jalan tersebut merupakan jalur alernatif Jakarta-Semarang, dan selalu dipadati kendaraan setiap menjelang lebaran.

Selain di Jebed Utara, Kusyati juga membuka cabang di Desa Mulyoharjo yang jauh lebih dekat dengan pusat kota. Di sini kondisi warungnya tampak lebih bagus, paling tidak bangunannya sudah berdinding beton.

Benar-benar Beda
Seperti bakso pada umumnya, bakso daging Putri Miad disajikan dalam mangkuk. Bedanya, sebagai pengganti pentol bakso di dalam genangan kuah panas terdapat irisan daging kerbau disertai irisan tomat hijau dan daun bawang.

Perbedaan lain, sebelum dihidangkan di bagian atas bakso ini ditaburi bawang goreng dan bubuk kerupuk. Disebut bubuk kerupuk karena memang terbuat dari kerupuk yang ditumbuk halus. Lalu kalau bakso lain biasa disantap dengan sendok-garpu, bakso daging Putri Miad disajikan dengan sendok lebar seperti yang biasa digunakan penjual es buah.

Sebagai teman makan, disediakan dua piring berisi irisan lontong dan kerupuk panjang yang oleh penduduk lokal dikenal sebagai kerupuk jentik atau kerupuk jari. Tak ada saus tomat. Selain tisu, di atas meja hanya ada botol kecap. Itu pun tak banyak yang menyentuh karena dianggap malah akan merusak rasa.

Meski sudah “terpecah” di beberapa tempat, baik Eny maupun Kusyati mengatakan warung mereka tetap ramai pembeli. Keduanya mengaku dalam sehari menghabiskan rata-rata 4 kg daging. Di hari libur stok daging yang musti disediakan menjadi 7-8 kg/hari. Sayang, ketika ditanya berapa omset yang diperoleh dalam sebulan, kedua perempuan ini kompak tak mau menjawab.

Tertarik mencoba? Kalau kebetulan melintasi Pemalang, jangan ragu-ragu mampir dan mencicipi bakso daging Putri Miad.

Tentang Penulis

Eko Nurhuda, kontributor tetap BanyumasNews.com. Berdomisili di Pemalang, Jawa Tengah.

Leave A Response