Melongok Purwokerto, Kotaku yang Tengah Berbenah

lanscap taman kota Purwokerto masa depan
lanscap taman kota Purwokerto masa depan

PENATAAN dan pembangunan kota Purwokerto di bawah kepemimpinan Bupati Mardjoko tampak mulai signifikan. Kondisinya jelas sekali berbeda (secara fisik) dengan keadaan kota setahun lalu. Bagi anda yang lama tidak berkunjung ke kota berjuluk ’kota kripik’ di selatan Gunung Slamet ini akan terkaget-kaget, ”kiye jalan apa yah” (ini jalan apa ya?’) begitu melewati jalan protokol yang sudah direnovasi.

Bahkan untuk penduduk asli Purwokerto sekalipun yang baru beberapa bulan merantau, ketika pulang ke kampung halaman akan bertanya-tanya. Seperti Idan, yang mulai Agustus 2009 ini mulai kuliah di Jogja, saat pulang belum lama ini, bingung ketika harus menuju suatu tempat dan harus melintasi Jl. Dr Angka di depan Hotel Dinasty. ”Loh bener kiye lewat mrene… jalan Dr Angka mbok akeh wit-witane…..” (lho, betul ini lewat sini… jalan Dr Angka ’kan banyak pohon-pohonan…).

Ya. Kota Purwokerto tengah berdandan. Dalam setahun terakhir ikon-ikon kota mulai ditata: alun-alun; jalan-jalan protokol; bangunan mangkrak; dan yang pemabangunannya akan berlangsung bertahun-tahun: taman kota di eks terminal bus. Berbagai kontroversi yang mewarnai proses ’berhiasnya’ kota mendoan ini tidak menghalangi tekad sang pemimpin, untuk menciptakan dan memperbarui fisik yang menjadi landmark kota.

jl dr angka sore hari yang mendung...
jl dr angka sore hari yang mendung…

Proses ’renovasi’ dan penyatuan alun-alun Purwokerto menuai protes kalangan budayawan. Juga protes PKL yang tidak lagi boleh berjualan di dalam alun-alun. Kini di pojok alun-alun, berdiri megah videotron yang sumber pendanaannya sempat menjadi bahan perselisihan antara eksekutif dan legislatif. Kemudian yang fenomenal adalah pembangunan kembali toserba eks Matahari menjadi Rita yang sudah berlarut-larut selama bertahun-tahun. Di bawah Mardjoko, bangunan yang lama mangkrak karena proses hukum penerbitan IMB-nya berlarut-larut itu kini berubah menjadi bangunan tempat belanja yang megah.

eks bangunan mangkrak di jl jend sudirman
eks bangunan mangkrak di jl jend sudirman

Lagi-lagi kontroversi berlanjut ketika penataan Jalan Jenderal Sudirman berdampak pada penertiban PKL. Sebagaimana rutin diberitakan situs ini, sering terjadi bentrok antara Satpol PP dengan pedagang kaki lima. Penebangan pohon di jalan Dr Angka dan Jl. Gatot Subroto pun dikeluhkan warga.

Namun seperti sudah diduga sebelumnya, bahwa pembangunan jalan terus. Kini setelah tampak perbedaannya secara signifikan, masyarakat mulai merasakan ’kenyamanan’. Dulu ketika melintas di jalan Dr Angka, harus konsentrasi tinggi karena jalan yang sempit dan di kanan kiri ada pembatas dengan jalur sepeda yang cukup tinggi, sehingga semakin terasa sempit. Kini jalan sangat lapang untuk ukuran kota Purwokerto, dan bangunan hotel, ruko dan bangunan lain di jalan tsb ’menjadi lebih kelihatan’.

Pertokoan di Jalan Jend Sudirman Timur pun – toko-toko kuno yang kusam—kini mulai berhias. Nama toko yang masih khas –dari huruf timbul dibuat dengan semen—dicat ulang, sehingga mengesankan kota lama Purwokerto muncul kembali. (Tulisan nama toko di sekitar Pasar Wage ini menyimpan sejarah tersendiri, dimana di situ hanya ada dua ciri penulisan: tulisan huruf miring dan tulisan tegak huruf kapital. Konon waktu itu hanya ada 2 orang yang pandai membuat dekorasi semacam itu, dengan ciri khas masing-masing. Lain kali insya Allah akan ditelusuri dalam tulisan lain).

Pertokoan ini sebelumnya tertutup oleh pajangan dagangan para PKL. Dengan pembangunan kembali drainase, trotor yang rapi, dan penataan parkir yang baik, kemacetan yang sebelumnya menjadi momok di jalan depan Pasar Wage ini akan berkurang. Namun kita berharap tentunya ada solusi yang dapat diterima semua pihak, termasuk para PKL ini.

Ibarat membangun rumah, ketika satu bagian direnovasi, akan muncul bagian lain yang menjadi kurang singkron apabila tidak ikut diperbaiki. Setelah jalan Jend Sudirman, Jl Gatot Subroto, dan jalan Dr Angka diperbaiki, maka ketika melintas di Jl. Overste Isdiman (Ovis) dan Jl. HR Bunyamin menjadi terkesan ’rumit’ dan sempit. Jalur ini memang super padat karena merupakan jalan utama ke Kampus Unsoed dan tempat wisata Baturaden.

Itu hanya pembangunan fisik yang dilakukan pemerintah kabupaten. Bangunan lain yang dibuat swasta juga marak. Setiap sudut kota ada ruko-ruko baru. Kini sedang dibangun hotel Santika di Jl. Gerilya, dan tak lama lagi hotel bintang jaringan internasional di selatan rumah sakit DKT. Selamat berbenah kotaku… (banyumasnews.com/ist/phd)

jl. gatot subroto tengah dibenahi
jl. gatot subroto tengah dibenahi
pohon pengganti nantinya kembali rindang
pohon pengganti nantinya kembali rindang
jl Ovis yang masih rindang...
jl Ovis yang masih rindang…
taman kota Purwokerto masa depan...
taman kota Purwokerto masa depan…