Ipuk NM Nur,pemusik Tegalan yang tetap eksis

Ditulis 18 Nov 2009 - 21:38 oleh Banyumas1

MENGENAL seniman Ipuk NM Nur (48), oranIPUK NM jadig akan terus mengaitkan dengan tembang-tembang Tegalan. Sebagai warga Desa Mejasem Timur, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, dia telah bertahun-tahun suntuk berkiprah di dunia Tegalan. Seabrek  lagu Tegalan ciptaannya kerapkali dibawakan ke berbagai panggung pentas pertunjukan dan hajatan di kampung-kampung bersama Kelompok Musik “Lintang Ngalih” yang dia bikin.
Tidak cuma lewat panggung pertunjukan, ia pun tak sungkan menjajakan lagu ciptaannya melalui ngamen keliling dari satu desa ke desa lainnya. Ia beralasan bahwa tembang Tegalan perlu dipopulerkan ke segala penjuru dan lapisan masyarakat memiliki kesempatan sama untuk mengapresiasikannya.

“Sudah saatnya lagu Tegalan menjadi ikon di daerahnya sendiri. Jangan sampai kita berlarut-larut ‘dijajah’ oleh budaya asing yang datang dari daerah lain. Karena kultur masyarakat yang satu dengan yang lainnya amat berbeda. Saya tetap pede, semangat, dan tidak merasa malu kendati saya harus menjajakan lagu saya dari satu kampung ke kampung lainnya,” kata Ipuk.

Karena kegigihannya memperjuangkan budaya lokal, nama Ipuk NM Nur dibelantikan musik dan cipta lagu Tegalan cukup diperhitungkan tidak hanya oleh para seniman Tegal, namun beberapa lagu ciptaannya masuk dalam album Remix Anyar Tegalan produksi Doble “R” Record, Jakarta tahun 1996. Kemudian pada tahun 2002 beberapa lagunya kembali direkam dalam album “Tembang Tegalan”, produksi indie lebel.

Satu tembangnya berjudul “Kang Daroji” tidak tanggung-tanggung dikontrak oleh “Ariwani Record” dari Jakarta bersama lagu karya Lanang Setiawan berjudul “Wangsalan Tegal”.

Kesuntukan Ipuk dalam cipta lagu terbilang produktif dan tak pernah lelah mempopulerkannya di jagad kebudayaan. Tidak mengherankan untuk tahun depan, ia sudah mempersiapkan sepuluh tembang yang rencananya dibuat sebuah album.

“Terjun ke dunia tembang Tegalan, sudah kadung saya jalani selama bertahun-tahun. Insya Allah pada tahun depan saya mau buat album Tegalan bersama Lanang Setiawan dalam kemasan musik irama orkestra program keybord. Saat ini beberapa sedang diprogram musikus handal dari Tegal,” katanya.

Sebagai seniman yang suntuk pada budaya lokal, Ipuk tidak saja bertumpu pada satu bidang seni, melainkan dunia sastra pun dia ambah. Beberapa kali dia terlibat dalam dunia Sastra Tegalan dan tak jarang menyelenggarakan even pementasan baca puisi.

Satu contoh yang akan dia lakukan adalah pada perayaan “Hari Sastra Tegalan” yang jatuh pada tanggal 26 Nopember 2009 mendatang. Secara spektakuler dia telah mempersiapkan acara Baca Puisi Tegalan bertajuk “Menyongsong Tahun Kampiyun Lewat Sastra Tegalan” bertempat di Taman Wisata “Lembah Agro” Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Tepatnya di sebelah utara jembatan leter S jalur menuju Obyek Wisata Guci. Tidak tanggung-tanggung dia mengundang para seniman dari 4 kota yaitu Tegal, Slawi, Brebes, dan Ajibarang – Banyumas.

Menurut Ipuk, acara tersebut dipandang penting digeber karena gerakan Sastra Tegalan di Kota Tegal telah mewarnai peta sastra Nasional dan khususnya Tegal sekitarnya.“Tidak dipungkiri, sejak seniman-seniman Tegal dan Slawi melakukan lawatan budaya lokal di Taman Budaya Surakarta (TBS), Indramayu, Jakarta tahun 2004 – 2005, Sastra Tegalan telah menjadi gerakan budaya daerah kami yang mewarnai peta sastra Nasional,” tandas Ipuk.

Mengapa acara tersebut digelar di Lembah Agro? Dengan mengutip penjelasan pasal 32 UUD 1945, Ipuk lebih jauh menjelaskan, bahwa Budaya Nasional terdiri dari puncak-puncak kebudayaan lokal. Salah satu puncak-puncak budaya lokal jenius itu yakni Sastra Tegalan. “Oleh karena itu, saya memandang perlu bahwa hendaknya acara Hari Sastra Tegalan lebih pas dirayakan di daerah puncak Lembah Agro, disamping kami ingin memperkenalkan keasrian taman wisata tersebut kepada masyarakat luas” kata Ipuk beralasan.
Sebagai seniman, lelaki kerempeng yang lahir di Tegal, 23 September 1961 ini juga banyak menulis puisi Tegalan. Beberapa puisinya terhimpun dalam Antologi puisi Tegalan “Angkatan TEGAL TEGAL” pada tahun 2005 (banyumasnews.com/tgl)

Tentang Penulis

Leave A Response