Wibawa Polisi dan Polisi ‘Wibawa’

Oleh: Puad Hasan Dipaleksana*)

BANYAK Puad hasan DLpolisi dan orang ‘busuk’ tapi banyak juga polisi dan orang ‘baik’. Demikian Buya Syafi’ie Ma’arif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah) memberikan sebersit optimisme kita, bahwa masih ada (dan banyak) orang baik (termasuk polisi) dalam bangsa ini, di tengah pemberitaan yang taka henti kasus KPK vs Polri/Kejaksaan (cicak vs buaya), yang seakan meruntuhkan wibawa penegak keadilan. Dibalik kasus yang memang menyayat rasa keadilan itu, kita tetap harus menyimpan bara optimisme bahwa bangsa ini masih memiliki orang-orang baik yang care dan ber-itikad sungguh-sungguh memajukan Indonesia.

Tentang pak Polisi misalnya. Sangatlah tidak bijak kalau dikatakan semua polisi busuk. Karena banyak dari mereka yang menjalankan tugas dengan benar. Hanya yang tampak ke permukaan, yang mungkin kita juga mengalaminya, ketika berurusan dengan polisi ujung-ujungnya adalah soal ‘duit’ (UUD). Kasus yang sampai ke polisi, untuk tidak dibawa ke kejaksaan mesti ‘diatur-atur’. Belum kucing-kucingan beking bisnis ilegal (miras, judi, kayu, narkoba, dll) yang –agar aman dari garukan– mesti kasih upeti. Ini pemahaman publik, yang tentunya berat mengembalikan citra negatif ini. Dengan terkuaknya rekaman di MK yang menunjukkan secara ‘telanjang’ intervensi seorang Anggodo kepada para oknum penyidik dan bahkan seorang Kabareskim, makin menguatkan sangkaan orang bahwa polisi memang ‘busuk’.

Kita tentu benci polisi busuk. Dan mendambakan polisi baik dan jujur. Tapi siapkah kita sendiri menghadapoi mereka yang baik, tegas, dan jujur? Kadang kita mau ‘menang’ sendiri kok, misalnya ketika ada operasi lalu lintas, ketika kita lupa tidak membawa SIM/STNK, kita kadang –karena malas sidang dengan alasan sibuk, jauh, repot lah– minta ‘diselesaikan sekarang saja’. Nah, ujung-ujungnya kita sendiri ‘menawarkan’ sesuatu yang harus mereka hindari. Dan, klop lah…. karena oknum itu ‘ngarep’ juga. Ini realitas yang masih kadang ditemui.

Berbagai pengalaman, penglihatan, berita tentang polisi menjadikan persepsi tentng wibawa polisi yang semakin hilang. Yang ada polisi ‘Wibawa’ — itu loh patung polisi tegap yang ada di perempatan-2 jalan. Nah patung polisi Wibawa pun kini mulai langka –konon di Jogja cuma tinggal satu, di depan toko Gramedia. Nah lho! Jadi baik wibawa polisi maupun polisi wibawa sudah nggak ada?

Tidak se-pesimis itu tentunya. Postingan blog ini pernah memuat kisah polisi yang dengan ikhlas membuang tumpahan oli di jalan raya, di tengah terik matahari, demi keselamatan pengguna jalan. (coba telusuri blog ini). Juga setiap pagi, bagi yang rutin antar anak ke sekolah, pasti merasakan lancarnya jalan karena ada pak Polisi yang mengatur lalu lintas…. Kita dukung polisi memiliki WIBAWA, bukan sekedar patung polisi ‘WIBAWA’.

*) Puad Hasan Dipaleksana, pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Purwokerto. Dikirim  dengan sukarela tulisan ini dari http://puadhasan.blogspot.com/2009/11/wibawa-polisi-dan-polisi-wibawa.html

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.