Dokter Turki berhasil obati penyakit “tidak pernah berhenti orgasme”

Persistent Genital Arousal Disorder
Ilustrasi Persistent Genital Arousal Disorder (Credit: cnn.com)

Tim dokter Turki berhasil mengobati “penyakit tidak pernah berhenti orgasme” (Persistent Genital Arousal Disorder -PGAD), yakni penyakit yang mengakibatkan seseorang tidak bisa berhenti orgasme dan menahan rangsangan orgasme, bahkan di saat kondisi non-seksual sekalipun. PGAD terdeteksi secara klinis pada tahun 2009 dan baru tahun ini, seperti dilaporkan The Daily Mail 18 November 2013, tim dokter Turki berhasil menemukan cara pengobatannya.

Penyakit yang awalnya disebut Persistent Sexual Arousal Syndrome (PSAS) itu menyebabkan penderita mengalami orgasme sampai ratusan kali dalam sehari itu bisa mendatangkan depresi pada penderitanya. Kasus terakhir menimpa perempuan usia 39 tahun asal Florida Amerika Serikat, Gretchen Molannen, yang melakukan bunuh diri karena tak kuat menahan derita.

Kisah penderitaan kroban penyakit ini kali pertama dimuat boingboing.com pada bulan Oktober 2009. Perempuan Amerika yang dirahasiakan namanya, menceritakan kisah dan penderitaannya mengidap penyakit PGAD. Dia mengaku orgasme pertama kali saat berumur 17 tahun ketika dia sedang duduk di bangku sekolah. “Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang hangat dan merangsang bagian kewanitaan saya. Rasanya seperti ada seseorang yang meremas bagian itu dan saya pun mulai terangsang,” ujar wanita itu.

Diakuinya rangsangan itu membuatnya nyaman dan senang tapi juga takut dan bingung. Rangsangan orgasme spontan itu pun dialaminya beberapa kali dalam sehari dan lama kelamaan semakin parah. Berikut ini kisah selanjutnya dari perempuan penderita PGAD tersebut sebagaimana dimuat boingboing.net yang dikutip mypotik.blogspot.com:

“Menjelang semester ke-2 saya kuliah, saya coba menghitung dan mencatat di selembar kertas berapa kali orgasme yang saya lakukan. Dan ternyata saya melakukannya 100 hingga 200 kali setiap harinya. Ketika rangsangan itu muncul, saya selalu lari dan sembunyi di kamar mandi untuk melakukan hal itu dan menenangkan diri,” tuturnya.

Orgasme yang ia rasakan membuatnya sangat depresi dan tidak bisa konsentrasi. “Saya tidak tahu apa yang salah dengan saya. Saya sering menangis, sembunyi di kamar mandi dan menjadi sangat protektif terhadap privasi sendiri,” imbuhnya.

Ketika ia mencoba menjelaskan pada orang lain tentang kondisinya, mereka justru mengolok-oloknya dan mengatakan, ‘Kamu sangat beruntung, saya mau kencan denganmu’. Bahkan seorang psikiater di kampus menganggapnya gila. Akhirnya ketika tingkat 2, ia memutuskan membeli alat vibrator dan mengonsumsi obat penenang.

Suatu hari pada tahun 2003, sang perempuan menemukan sebuah artikel dari the Boston Globe tentang penemuan sebuah penyakit yang disebut dengan Persistent Sexual Arousal Syndrome (PSAS).

“Ketika saya membacanya, saya menangis histeris karena gejala yang disebutkan sama dengan yang saya alami. Saya pun langsung membuat janji bertemu dengan institusi yang memuat artikel itu,” tuturnya.

Awalnya para dokter menganggapnya mengidap penyakit Delusional Hypochondriac atau halusinasi berlebihan. Namun setelah dilakukan tes, ternyata ia memang benar-benar mengidap PSAS atau PGAD.

Penyakit ini sering disebut juga sebagai penyakit hipersensitif pada bagian kemaluan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan karena infeksi jamur pada organ kewanitaan, ada juga yang mengatakan penyakit ini berhubungan dengan masalah psikologi, namun belum ada bukti cukup tentang hal itu.

“Memiliki penyakit ini bagaikan memiliki detak jantung tambahan di bagian bawah. Dorongan dari bawah itu akan naik ke otak dan mengganggu pikiran. Mungkin ini yang dirasakan pria-pria saat terjadi ereksi,” ujarnya.

Tak hanya menderita karena penyakitnya itu, sang gadis pun harus menanggung beban mental karena orang tuanya tidak mau mengerti dengan keadaannya. “Ibu saya sangat kolot. Ia paling tidak suka mendengar kata orgasme, bahkan ia menganggap saya kotor karena menemukan beberapa vibrator di kamar saya. Ia tidak mau mengerti keadaan saya,” jelasnya.

PSAS adalah penyakit gangguan seksual yang sangat kompleks. Ia tidak hanya muncul ketika menonton film porno atau melihat sesuatu yang merangsang. Tapi ia bisa muncul kapan saja, bahkan dalam kondisi biasa-biasa saja.

“Melihat film porno tidak membuat saya terangsang, tapi ketika seseorang menepuk bahu, hasrat itu justru muncul. Saya tidak bisa memprediksi kapan hasrat itu muncul. Untuk mengatasinya, saya menghindari olahraga dan menambah berat badan karena kata orang bisa mengurangi hasrat seksual,” ujarnya.

“Saat ini saya berusia 24 tahun dan sudah banyak belajar mengendalikan penyakit ini. Saya menemukan bahwa olahraga joging dan dansa bisa mengendalikan saya lebih baik. Saya punya kekasih tapi saya belum pernah berhubungan seks dengannya selama 6 tahun berpacaran. Meskipun kondisi saya seperti ini, tapi dia sangat sabar dan selalu menenangkan saya,” tuturnya.

“Penyakit ini muncul tiba-tiba dalam hidup saya dan berharap bisa hilang dengan sendirinya pula. Meskipun saya tidak yakin hal itu bisa terjadi, tapi saya akan berusaha melakukan apa saja untuk mengatasi penyakit ini,” ujar sang gadis yang tertunda 2 tahun kuliahnya karena penyakit tersebut.

Pengobatan dengan Botox

Penyakit PSAS saat ini masih diteliti dan diganti namanya menjadi Persistent Genital Arousal Disorder (PGAD) untuk menghindari stigma miring tentang penyakit ini.

Setelah sekian lama para dokter mencoba mencari jawaban atas penyakit ini, dailymail.co.uk memberitakan bahwa tim dokter Turki berhasil mengobati dua pasien penderita PGAD. Di Turki, dokter “berhasil mengobati dua wanita (penderita PGAD) dengan suntikan Botox tunggal untuk memblokir saraf dorsal, yang menyediakan sensasi pada klitoris,” lapor The Daily Mail.

Surat kabar itu mengutip ahli Botox Dr Patrick Bowler, pendiri Klinik Courthouse, yang mengatakan bahwa Botox bisa mengurangi aktivitas listrik pada saraf.

Apa itu Botox?

o-BOTOX-570Botox merupakan kependekan dari Botulinum Toxin, merupakan toksin (racun) yang di produksi oleh bakteri Clostridium Botulinum.

Toksin bakteri Botulinum dikenal sebagai penyebab keracunan makanan massal yang menyebabkan kelumpuhan otot perut. Tetapi Botox yang digunakan untuk terapi dosisnya hanya 1% dari dosis yang bisa menyebabkan gejala keracunan.

Saat ini ada beberapa Botulinum Toxin yang digunakan untuk peremajaan. Yang paling pertama (original) ,memiliki penelitian ilmiah paling banyak dan paling populer adalah BOTOX tipe-A, buatan ALLERGAN Amerika Serikat. Ada pula produk tiruan buatan Inggris dan beberapa merk buatan Cina. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.