Cicak vs buaya ala seniman Lima Gunung

Ditulis 04 Nov 2009 - 22:19 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
103
Dalam Tag

MAGELANG – Para seniman yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung menggelar aksi teaterikal Cicak vs Buaya di studio Mendut Magelang, Rabu (4/11) sore. Aksi teatrikal dilakukan dengan membisu, bahkan sejumlah seniman gunung tampil dengan mulut tertutup lakban. Sementara, pematung asal Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Ismanto tampil dengan memakai topeng buaya putih yang siap “memangsa” lawan –lawannya.

Aksi tersebut digelar menyusul perseteruan institusi Polri melawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau yang sering disebut cicak melawan buaya dan berakhir dengan penangguhan penahanan atas pimpinan nonaktif Bibit Samad
Rianto dan Chandra Hamzah

Dalam aksi tersebut, para seniman tidak melontarkan kecaman, hujatan, bukan pula pembelaan pada salah satu pihak yang berseteru, tetapi mereka memihak kepada rakyat jelata ini lebih kepada mengingatkan.

Aksi teatrikal seniman Lima Gunung

“Aksi para seniman dari Komunitas Lima Gunung ingin mengingatkan para petinggi negara terutama di bidang hukum agar menggunakan momen perteruan ini sebagai sarana intropeksi,” kata ‘Presiden Gunung’ Sutanto Mendut yang juga pemilik studio Mendut.

Aksi dimulai dengan seekor buaya putih yang dengan gagahnya berlenggak-lenggok diantara puluhan orang yang menggambarkan sebagai rakyat biasa. Di sisi lain, seekor cicak justru hanya terdiam. Hanya sesekali melawaan saat diinjak oleh sang buaya.

Sementara beberapa seniman yang memerankan cicak terlihat merayap di tanah dan memanjat pohon, hingga atap rumah milik Tanto Mendut yang dijadikan sanggar seni. Beberapa seniman yang memerankan diri sebagai masyarakat bawah, mulai memberikan dukungan kepada cicak. Meski dengan tergopoh-gopoh mereka membawa cicak dan memberikan bantuan. Cicak akhirnya bisa kembali berdiri. Namun saat bersamaan muncul api membara di antara kawanan cicak dan buaya, sebagai simbol perseteruan yang makin memanas tiada akhir.

Pertunjukan yang berdurasi 60 menit tersebut diawali dengan pembacaan Wasiat “Wangsit Spritual Tokoh dari Dusun” yang dibacakan oleh “Presiden Gunung” Sutanto Mendut.

Wangsit yang ditulis di dalam telepon genggamnya, Tanto Mendut menyerukan apa yang terjadi saat ini adalah karma atas apa yang terjadi di dunia hukum selama ini. ”Perseteruan antara Polri dan KPK adalah karma elit, tapi sebenarnya, di ranah jelata, kita bisa melihat selama ini, bagaimana upaya penegakan hukum di negeri ini,”katanya.

Menurut Sutanto Mendut, dalam cerita fabel, ragam hayati tidak hanya cicak dan buaya. Melainkan masih ada binatang lainnya seperti kadal, buaya darat, air mata buaya, komodo yang dipelihara sebagai barang langka. Selain itu, juga di dunia ini juga terdapat hewan seperti tokek yang hidupnya untung-untungan antara kaya dan miskin.

“Ada juga yang melata atau sejenisnya yang sering disebut dengan nama bunglon yang warnanya bisa hitam, merah, coklat mengikuti arus yang berjalan,”ujar Sutanto.

Sutanto menambahkan, istilah “cicak dan buaya” yang telah dilontarkan oleh oknum, tetapi sebagai upaya perbaikan diri, pimpinan institusi seharusnya segera melakukan perbaikan dengan meminta maaf saat itu juga, bukan beberapa hari sesudahnya. (banyumasnews.com/tgr)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. nej 07/11/2009 pukul 08:27 -

    SEMUA PADA WAS-WAS SEJAK ADA KPK ABIS BANYAK PEJABAT YANG TAKUT KETANGKEP… BERHENTI DONG JADI KORUPTOR HARTA ANDA G ADA YG NEMANI ANDA WAKTU MATI………… KAMU-2 BERFOYA-FOYA PAKAI UANG NEGARA…. E ANGGODO TIKUS SAMPAH KAMU………

  2. nej 07/11/2009 pukul 08:22 -

    abis buayanya punya senjata, tahu hukum makanya bisa semaunya untuk nindas cicak-cicak, seperti anak buaya (evan) dari sumsel yg bilang ….. cicak kok mau lawan buaya sekalian dihabisi saja …. polri g butuh rakyat, rakyat yg butuh polri… eh evan pakai dong otakmu klo kamu masih waras

Leave A Response