Rakyat Banyumas serbu Mardjoko

Ditulis 28 Okt 2009 - 19:57 oleh Banyumas1

PURWOKERTO – Ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat Banyumas seperti seniman, budayawan, LSM, Akademisi, PKL, dan juga pengamen Rabu (28/10) menggelar aksi unjuk rasa dihalaman depan Pendopo Si Panji Kabupaten Banyumas. Unjuk rasa ini bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda. Mereka memprotes berbagai kebijakan Bupati Mardjoko yang dianggap sangat arogan.

Ekspresi kemarahan pengunjuk rasa (foto:cit/BNC)

Ekspresi kemarahan pengunjuk rasa (foto:cit/BNC)

Seorang wanita tengah mengacung ngacungkan poster bergambar Mardjoko yang dianggap membohongi rakyat Banyumas (foto:cit/BNC)

Seorang wanita tengah mengacung ngacungkan poster bergambar Mardjoko yang dianggap membohongi rakyat Banyumas (foto:cit/BNC)

Para pengunjuk rasa memacetkan jl. Masjid (foto:cit/BNC)

Para pengunjuk rasa memacetkan jl. Masjid (foto:cit/BNC)

Penebangan pohon, penggusuran PKL, pencabutan SKTM, dan rencana pembongkaran gedung kesenian Soetedja menurut para pengunjuk rasa adalah sekian dari berbagai kebijakan kontroversial yang sangat merugikan rakyat Banyumas khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sambil membentangkan berbagai poster kecaman terhadap Mardjoko,

para pengunjuk rasa juga meneriakan yel – yel anti Mardjoko dan menggelar aksi teaterikal.“Tong kosong nyaring bunyinya, Mardjoko bohong wajib dilengserna, janjine mengurangi pengangguran nyatane nggedebus nggusuri PKL nambahi pengangguran” ujar salah seorang pengunjuk rasa.

Menurut koordinator aksi Bambang Set, aksi ini adalah bentuk kekecewaan rakyat Banyumas terhadap pemerintahan Mardjoko yang dianggap sembrono terhadap rakyat. Silang putih yang tersebar diseluruh pertigaan dan perempatan jalan se – Kabupaten Banyumas menandakan matinya komunikasi antara rakyat dengan pemimpin. Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari satuan keamanan baik itu polisi maupun Satpol PP. Desakan para pengunjuk rasa untuk menemui para anggota DPRD Banyumas guna menyampaikan aspirasi disambut dengan hangat oleh para wakil rakyat tersebut.

Menemui para pengunjuk rasa, Ali Umar Basalamah, Agus Prianggodo, Yoga Sugama, Ibnu Salimi, dan Agung Kostrad berjanji akan meneruskan aspirasi mereka kepada eksekutif. Menurut para anggota DPRD, kesemua hal ini terjadi karena saluran komunikasi antara rakyat dengan pemimpin macet sehingga seluruh kebijakan tidak tersosialisasikan dengan baik (banyumasnews.com/cit).

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. didik 02/11/2009 pukul 21:45 -

    betul kebenaran harus bangkit

Leave A Response