Mie ayam kriyik rasanya kriyik-kriyik

Ditulis 21 Okt 2009 - 09:59 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Makanan ringan jenis mie ayam, gampang dijumpai dimana saja. Ada yang berjualan keliling, dan ada pula yang mangkal di suatu tempat. Di Purbalingga, ada mie ayam yang pantas sebagai tujuan kuliner Anda.

Selain rasanya yang gurih, mie ayam yang mangkal di Jalan Raya Kaligondang tepatnya di depan Kantor Dishubkominfo Purbalingga, juga rasanya agak aneh, kriyik-kriyik. Rasa kriyik itu dihasilkan dari usus yang digoreng kering. Oleh karenanya mie tersebut lebih dikenal sebagai mie ayam kriyik.

Hal yang istimewa pada mie ayam kriyik, sayuran sebagai campuran bukan berupa cesim. Tetapi sayuran yang dicampur berupa slada. Praktis rasanyapun menjadi segar. Campuran lainnya, hampir sama dengan mie ayam biasa. Ada ayam yang dipotong-potong kecil, kacang goreng, dan bawang merah goreng. Pembeli bisa saja meminta tambahan berupa ceker atau kepala ayam.

Harga per mangkuk pun tidak terlalu mahal. Untuk ukuran mie kriyik cukuplah murah. Satu mangkuk dihargai Rp 5.000. Dengan porsi yang tidak terlalu banyak, cukup membuat perut kita kenyang.

Pemilik mie ayam kriyik, Suparman (35) mengungkapkan, dirinya mulai berjualan pada tahun 1989. Ketika itu, tuntutan pekerjaan sebagai sopir untuk  menghidupi anak dan istri, mulai ditinggalkan. Parman berobsesi ingin memiliki usaha sendiri. Dan berjualan mie ayam dipilihnya. Bukan tanpa alasan memilih berjualan mie ayam, Ayahnya yang semula juga berjualan mie ayam membuatnya semakin tertarik untuk membuka usaha mie ayam

“Ketika mulai berjualan, saya sengaja menjual mie ayam yang harus berbeda dengan penjual mie ayam lainnya termasuk mie ayam yang dijual orang tua saya. Akhirnya saya menambahkan usus goreng dan mengganti sayuran cesim dengan slada,” kata Parman.

Dalam seharinya, lanjut Bapak tiga orang anak ini, ia menghabiskan rata-rata 10 kilogram mie dan 9 kilogram ayam potong. Mie dibuatnya sendiri dengan dibantu seorang adik dan saudaranya. Sementara untuk bahan baku lain seperti usus, ada yang memasoknya dalam keadaan sudah matang.

“Setiap kilogram mie basah, bisa dibuat 21 mangkok. Jadi setiap hari saya bisa menjual sekitar 210 mangkuk mie,” kata Parman yang membuka warungnya mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB

Seorang pengunjung dengan lahap menikmati mie ayam kriyik (foto:tgr/BNC)

Seorang pengunjung dengan lahap menikmati mie ayam kriyik (foto:tgr/BNC)

Mie ayam kriyik rasane kriyik kriyik (foto:tgr/BNC)

Mie ayam kriyik rasane kriyik kriyik (foto:tgr/BNC)

Suparman melayani pembeli (foto:tgr/BNC)

Suparman melayani pembeli (foto:tgr/BNC)

(tegar brillianto)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. anton jael 13/05/2011 pukul 22:23 -

    muantabz…itu mi ayam langgananku…

  2. widhi 18/01/2010 pukul 12:31 -

    wah enak kiye…. enyong sering mangan ng kene, siki bukak nganti wengi kok, tapi nek wengi biasane kriyik karo cekere wis entong

  3. samsul 28/12/2009 pukul 22:10 -

    patut di conto inovasine. Sip markusip

  4. anang 26/10/2009 pukul 19:16 -

    muantap kriyike, tapi jam bukanya nyampe sore doang sih……….????pulang kerja nda bisa menikmati…

  5. Mas Joko Lodhang 22/10/2009 pukul 20:21 -

    di depan Dishubkominfo Purbalingga memang enak mi ayam nya….

Leave A Response