Menilik Pemakaman Syeh Makdum Wali

makam syekh makdumPEMAKAMAN Syeh Makdum Wali terletak Karanglewas sekitar 500 meter ke utara dari jalan Raya Karanglewas. Untuk menuju ke komplek makam yang berada di tempatAsri itu harus melalui jalan jalan lingkar Karang Lewas. Jika dari arah Ajibarang (Barat) berada setelah jembatan Kali Logawa sebaliknya dari arah Purwokerto (timur) maka sebelum jembatan belok kanan.

Syeh Makdum Wali sebagaimana diceritakan juru kunci makam, M Jufri kepada banyumasnews.com, katanya, Syeh Makdum adalah seorang priyayi beasal dari Kerajaan Demak Bintoro. Dahulu kala beliau datang di tlatah kadipaten Pasir Luhur atas utusan raja Demak yaitu Raden Patah dengan maksud untuk menyiarkan agama Islam. Di wilayah yang kini berubah menjadi Banyumas. Sampai sekarang tempat makam syeh dan adipati yang membantu dalam berjuang menyiarkan Islam di Banyumas itu dijadikan sebagai tempat wisata ziarah bagi umat Islam dari wilayah Banyumas serta daerah lain.

Di komplek pemakaman Syeh Makdum terdapat tiga makam. Yakni di sebelah utara tedapat makam Senopati Mangkubumi I, sedangkan dua makam yang ada aulanya masing-masing makam Syeh Makdum Wali yang berdampingan dengan makam Mangkubumi II.

Di makam Syeh Makdum Wali inilah biasanya para peziarah melakukan amalan dan ritual seperti berdzikir serta tahlil atau kegiatan ritual lainnya. Khususnya pada setiap Kamis Wage atau malam Jumat Kliwon. Sedangkan setiap bulan Sya’ban di tempat ini digelar acara Khaul Akbar Syeh Makdum Wali dan Senopati Mangkubumi. Selain itu, ada kegiatan rutin pada setiap malam Minggu di masjid yang berada di komplek makam, yaitu simtudurrar. Semacam memainkan musik terbangan atau rebana untuk mengiringi shalawatan.

Dikisahkan M Jufri, Syeh Makdum Wali konon penyebar agama Islam di tlatah kadipaten Pasir Luhur. Beliau berasal dari kerajaan Demak yang sengaja datang ke Pasir Luhur sekitar abad 15 masehi. Kedatangannya atas titah raja Raden Patah. Syeh Makdum diutus untuk menyiarkan agama Islam di wilayah Pasir Luhur tetapi dengan satu syarat agar dalam upaya menyiarkan Islam tidak dengan jalan kekerasan melainkan dengan cara dakwah dan cara damai lainnya.

Pada masa itu Kadipaten Pasir Luhur dibawah pimpinan Bupati Raden Banyak Blanak dengan patihnya bernama Wirakecana alias Raden Banyak Glek. Mereka ada kakak beradik. Kehadiran syeh wali disambut secara baik-baik oleh Raden Banyak Blanak maupun Patih Wirakencana. Bahkan mereka berdua mendukung upaya yang dilakukan Syeh Makdum dalam menyiarkan agama Islam secara damai. Meskipun ada salah seorang putra dari Raden Banyak Blanak yang menentangnya. Dia adalah Raden Banyak Tole.

Atas jasa dalam membantu menyiarkan agama Islam di Pasir Luhur sehingga baik Raden Banyak Blanak maupun Patih Wirakencana keduanya secara bergantian dipanggil oleh Raden Patah untuk menghadiri pisowanan agung di Demak. Dalama cara itu Raden Banyak Blanak diberi gelar Senopati Mangkubumi I begitu juga apda kesempatan lain Raden Banyak Glek mendapat gelar Senopati Mangkubumi II.

Persoalan muncul justru dari yaitu Raden Banyak Tole atau anak Raden Banyak Blanak. Sebab dia bersama para prajurit yang tidak menginginkan kehadiran Syeh Makdum di Pasir Luhur dengan missi Islam itu akhirnya bertekad menyerang ke Demak. Meskipun Raden Banyak Tole dikenal sakti memiliki kekuatan yang lebih namun untuk melawan parajurit Demak tentu bukan tandingan yang sepadan. Kekuatan Demak tentu jauh lebih besar dan kuat. Meski ayahnya mencegah dan mengingatkan hal itu, namun Raden Banyak Tole dan prajurit yang setia tetap bersikeras ingin menyerang Demak.

Tragisnya semua prajurit yang ikut menyerang ke Demak teramsuk Raden Banyak Tole dapat ditumpas habis oleh prajurit Demak. Mereka tidak ketahuan dimana kuburnya.

Akibat tragedi itu, Raden Banyak Blanak sangat menyesalkan dan akhirnya menderita batin akibat memikirkan nasib anaknya yang keras kepala itu. Setelah menderita sakit cukup lama akhirnya meninggal dunia. Jasadnya disemayamkan di pesarean di sebelah paling utara.

Inilah Makam Syekh Makdum Ali yang dikeramatkan (foto:ham/BNC)
Inilah Makam Syekh Makdum Ali yang dikeramatkan (foto:ham/BNC)
Dua orang pengunjung berdoa di depan makam (foto:ham/BNC)
Dua orang pengunjung berdoa di depan makam (foto:ham/BNC)
Pintu masuk ke pemakaman, terlihat angker (foto:ham/BNC)
Pintu masuk ke pemakaman, terlihat angker (foto:ham/BNC)

Sementara perjuangan Islan terus dilanjutkan Syeh Makdum dengan dibantu Patih Wirakencana atau Raden Banyak Glek hingga keduanya sampau ajal. Kini keduanya dimakamkan di tampat utama yakni berdampingan dengan makam Syeh Makdum.

Mereka dikubur berdampingan karena atas permintaan Syeh Makdum selagi masih hidup, sebagai kehormatan atas segala bantuan dan perjuangan Raden Banyak Glek. Konon, Raden Banyak Blanak dan Raden Banyak Glek adalah keturunan ke 5 dari Raden Kamandaka. (Banyumasnews.com/Hamidin Krazan)

2 Comments

  1. DENGAN ADANYA CERITA SEJARAH SEPERTI INI SEMOGA GENERASI MUDA DAPAT MENELADANI PERJUANGAN PARA PENDAHULU KITA.

  2. AKAN LEBIH LENGKAP LAGI JIKA ADA YANG MENAMBAH KHASANAH SEJARAH PEJUANG ISLAM KHUSUSNYA DI BANYUMAS, DENGAN MENAMPILKAN PROFIL SYEKH ABDUSHSHOMAD JOMBOR-CIPETE, CILONGOK

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.