Sidang PLTU Bunton,sebagian petani asal tandatangan

Ditulis 16 Okt 2009 - 23:48 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
71
Dalam Tag

CILACAP- Sebagian besar petani penggarap lahan PLTU Bunton yang dipersoalkan, ternyata tidak tahu apa yang tertulis surat pernyataan untuk 16 petani penggarap lahan tersebut. Yang mereka tahu hanya tanda tangan untuk nantinya mendapatkan ganti rugi, tanpa mengetahui isi surat pernyataan itu.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus PLTU Bunton di Pengadilan Negeri Cilacap, dengan agenda mendengarkan kesaksian para petani penggarap lahan untuk terdakwa Sekdes Bunton – Sudaryanto,Jumat (16/10).

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim – Manahan Sitompul bersama 2 hakim anggota – Irfanudin dan Heru Budyanto itu, menghadirkan 7 dari semestinya 16 petani penggarap lahan PLTU Bunton.Ketujuh petani itu adalah Sumantika, Pardono, Muryanti, Kartadinama, Karsem Wiryanto, dan Eka Murni.

Sementara surat pernyataan yang dipertanyakan hakim karena ditandatangani oleh para petani itu, intinya berisi tentang keberadaan lahan 17 bidang tanah yang nantinya akan mendapatkan ganti rugi proyek PLTU Bunton.

Dalam surat itu juga tercantum, jika di kemudian hari adalah masalah, masing-masing petani penggarap akan bertanggung jawab.Sayangnya, para petani sebagian tidak bisa membaca isi surat itu dan langsung menandatangani surat tersebut.

Mereka juga mempercayakan sepenuhnya pada Sekdes yang juga terdakwa – Sudaryanto, tidak akan menjerumuskan warganya.Bahkan, Muryanti yang notabene adalah PNS guru, mengaku langsung saja tanda tangan isi surat tanpa membaca isi surat.

Fakta menarik lainnya yang terungkap dalam persidangan tadi adalah perbedaan keterangan antara Muryanti selaku bendahara biaya ganti rugi dengan terdakwa Sudaryanto. Pada sidang Rabu lalu, Sudaryanto secara tegas membantah bukan dirinya yang membuatkan rekening Bank Jateng cabang Kroya atas nama Muryanti untuk menampung sebagian dana ganti rugi.

Namun dalam sidang tadi, Muryanti juga dengan tegas bahkan bersumpah atas nama Tuhan, dirinya sama sekali tidak tahu menahu namanya tercantum di rekening tersebut. Muryanti mengaku bahkan baru melihat buku rekening tabungan itu pada 8 Mei sampai 17 Mei 2008, ketika kasus ini mulai mencuat.Ia kemudian menyerahkan buku rekening kepada Kejaksaan Negeri Cilacap (banyumas.com/ gir)

Tentang Penulis

Leave A Response