Klenteng Hok Tek Bio tak hanya untuk umat Konghucu

Ditulis 14 Okt 2009 - 19:35 oleh Banyumas1

klenteng sketsaKLENTENG Hok Tek Bio Purwokerto yang beralamat di jalan Pemotongan nomor 3 (belakang Pasar Wage) didirikan pada tahun 1831. Semula hanya sebuah bangunan biasa yang menyerupai rumah joglo. Berfungsi sebagai tempat peribadatan pemeluk agama Konghucu. Setelah dua kali direnovasi yaitu pada tahun 1879 kemudian renovasi kedua pada tahun 1987 bentuknya menjadi khas seperti bentuk sekarang. Baik atap maupun dinding dan ornamennya memliki bentuk bangunan bergaya khas China .

Menurut penuturan Ketua Klenteng Hok Tek Bio Suryana Erawan kepada banyumasnews.com pada Rabu, (14/10), klenteng ini dibangun oleh para pemuka agama Konghucu khususnya komunitas Tionghoa yang tidak secara khusus sebagai penyebar agama. Melainkan mereka berada di Purwokerto tujuan utamanya untuk berniaga. Hal itulah yang menjadi salah satu ciri khas keberadaan klenteng karena terkait dengan aktivitas para pendirinya.

“Umumnya bangunan klenteng itu didirikan di sekitar pasar atau di daerah pesisir. Seperti klenteng Hok Tek Bio ini di belakang Pasar Wage Purwokerto,” kata Suryana.

Dijelaskan, pada awal mulanya kegiatan niaga di pasar tidak sampai sore hari seperti sekarang. Paling hanya sampai siang hari. Kemudian sore harinya para pedagang yang beragama Konghucu sering berkumpul di belakang Pasar Wage, tepatnya rumah milik Hok Tek Tjeng Sin. Selain untuk membicarakan masalah usaha yang tengah mereka jalankan akhirnya mereka berinisiatif untuk mendirikan sebuah tempat ibadah sesuai agama yang mereka anut.

”Klenteng Hok Tek Bio lebih berafiliasi kepada Dewa Bumi. Namun demikian di klenteng ini juga ada Dewa-Dewa lainnya yang jumlahnya sebanyak 19 Dewa,” jelas Suryana.

Nama –nama Dewa itu di antaranya Dewa Kesetiaan, Dewa Obat, Dewa Keberuntungan, Dewa Panjang Umur dan lain-lainnya.

Mestinya, lanjut Suryana, klenteng itu hanya diperuntukkan sebagai rumah ibadah bagi umat Konghucu, namun di klenteng Hok Tek Bio yang kini menempati area seluas 900 meter persegi ini di dalamnya terdapat  tiga aliran yaitu Kong hu cu, Toisme dan Budha. Sedangkan altar masing-masing di bagian tengah untuk tuan rumah alias sebagai rumah yang mbaurekso yaitu Dewa Bumi, altar sebelah kiri (Barat ) untuk unsur Budha sedangkan sebalah kanan untuk unsur Taoisme. Sementara di bagian tengah terdapat beberapa dewa sesembahan. Bangunan ruang depan sebelah kanan dipergunakan sebagai  ruang tunggu tamu sedangkan bagian kiri untuk ruang kantor.

Pada tahun 1992 halaman klenteng dipercantik dengan dibangun aula atau ruang tunggu sedangkan di pojok kiri halaman dibangun pagoda sebagai tempat pembakaran kertas doa, dinding temboknya dilukis penuh dengan gambar para dewa-dewi.

Aktifitas pelaksanaan ibadah dilakukan pada setiap tanggal 1 dan 15 Imlek pada setiap bulan. Sedangkan upacara besar dilaksanakan pada setiap tanggal 1 hingga penutupan tahun baru Imlek atau dikenal perayaan Cap Go Meh. Selain itu ada ritual sembahyang arwah umum bulan tujuh, juga ada sembahyang besi kubur atau Cheng Beng.

Biasanya dalam perayaan Cap Go Meh seperti pada Imlek 2560 lalu, diramaikan parade budaya, antara lain berupa arak-arakan barongsai, wushu, musik kenthongan, dan kesenian kuda lumping.

Selain parade budaya, arak-arakan tersebut juga membawa tiga buah patung suci berupa Kiem Sien Kongco Hok Tek Tjeng Sin dari Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto serta Kiem Sien Kongco Hok Tek Tjeng Sin dan Kiem Sien Dewi Kwan Im dari Klenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas.

Menurut dia, perayaan Cap Go Meh atau Sembahyang Purnama Raya di hari ke-15 bulan Cia Gwee merupakan penutup rangkaian kegiatan perayaaan Tahun Baru Imlek 2560.

“Perayaan ini sebagai ucapan syukur etnis Tionghoa dan warga Tri Dharma kepada Tuhan karena, telah memasuki Tahun Baru Imlek 2560,” katanya.

Selain itu, kata dia, melalui perayaan ini warga juga memohon keselamatan dan kelancaran rezeki dari Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diberikan selama ini.

Menurut Suryana Erawan, setiap usai pelaksanaan sembahyang sedekah bumi bisanya diaplikasikan dalam bentuk bhakti social bagi masyarakat Purwokerto dan sekitarnya, termasuk juga membagikan sejumlah bingkisan kepada anak yatin di panti asuhan.

“Pelaksanaan bhakti sosial pada September lalu membagikan sebanyak 6000 bingkisan ke seluruh panti asuhan yang ada di Purwokerto,” jelasnya (banyumasnews.com/Hamidin Krazan).

Klenteng Ho Tek Bio Purwokerto (foto:ham/BNC)

Klenteng Ho Tek Bio Purwokerto (foto:ham/BNC)

Ketua Klenteng Hok Tek Bio Suryana Erawan berpose di ruang tengah klenteng (foto:ham/BNC)

Ketua Klenteng Hok Tek Bio Suryana Erawan berpose di ruang tengah klenteng (foto:ham/BNC)

Dewa dewa sesembahan di altar utama (foto : ham/BNC)

Dewa dewa sesembahan di altar utama (foto : ham/BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response