Dakwaan tak jelas, hakim bebaskan Syech Puji

Ditulis 13 Okt 2009 - 23:18 oleh Banyumas1
Syech Puji dan istri keduanya yang masih bocah Lufiana Ulfa (foto:tgr/BNC)

Syech Puji dan istri keduanya yang masih bocah Lufiana Ulfa (foto:tgr/BNC)

SEMARANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang dalam putusan sela, Selasa (13/10) membebaskan terdakwa Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji (43). Hakim menilai dakwaan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap. Persetubuhan yang didakwakan terhadap pengusaha nyentrik ini tidak detil sehingga hakim memutuskan dakwaan batal demi hukum.

Atas putusan sela tersebut, Syech Puji langsung bersujud syukur di ruang sidang. Sementara ratusan pendukungnya yang berada di halaman kantor pengadilan melakukan solawat dan takbir.

Majelis hakim yang diketuai Hari Mulyanto menyatakan, dakwaan persetubuhan tidak diuraikan secara jelas. Seharusnya cara, posisi, tempat dan kapan persetubuhan itu dilakukan diuraikan. “Dakwaan JPU disusun tidak jelas, cermat dan lengkap. Sehingga dakwaan dinyatakan batal demi hukum,“ kata Hari Mulyanto.

Hakim berpendapat, dakwaan tidak memenuhi Pasal 143 KUHAP. Tidak ada alasan untuk memeriksa terdakwa berdasarkan surat dakwaan. ‘’Terdakwa harus segera dikeluarkan dari tahanan dan membebankan biaya perkara kepada negara,’’ ujarnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai Suningsih pada persidangan sebelumnya mengajukan tiga dakwaan, yakni menyetubuhi anak dibawah umur, eksploitasi seksual dan pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Dalam sidang terungkap, pertemuan antara Syekh Puji dan Lutfiana Ulfa lewat Kusmiyati. Pada Juli 2008 Kusmiyati berboncengan dengan Ulfa lewat di depan Ponpes Miftahul Jannah milik Syekh Puji. Kebetulan terdakwa berada di pos satpam.

Terdakwa kemudian minta Kusmiyati berhenti. Mereka sempat bincang-bincang menanyakan siapa Ulfa dan berniat menikahinya. Pada 27 Juli 2008 Suroso (ayah Ulfa) bersama Ulfa datang ke Bedono di rumah Kusmiyati. Terdakwa minta mereka datang ke rumahnya di Ponpes.

Istri terdakwa, Umi Hani diminta menanyakan identitas Ulfa. Umi Hani juga bertanya apakah Ulfa bersedia dinikahi Syekh Puji. Ulfa diminta memberitahu ayahnya.

Pada 30 Juli 2008 Suroso dan Ulfa datang ke ponpes sambil membawa ijazah SD dan rapor sesuai permintaan terdakwaa. Suroso mengizinkan anaknya dinikahi Syekh Puji.

“Ulfa sempat menangis dan memeluk ibunya ketika ayahnya setuju dinikahi terdawak. Saat ditanya kenapa menangis, Ulfa menjawab tidak apa-apa dan tak masalah yang penting bisa sekolah,“ ungkap hakim.

Sebelum akhirnya dinikahi, Ulfa sempat dites akademik di salah satu ruangan ponpes dan dinyatakan lolos. Tanggal 8 Agustus 2008 pukul 03.00 WIB, terdakwa menikahi Ulfa dihadapan para kiai dan santrinya. Di rumahnya terdakwa melakukan persetubuhan lebih dari sekali sehingga membuat selaput dara Ulfa robek dengan bukti hasil visum RS Tugurejo.


Atas putusan tersebut, JPU mengaku kecewa. JPU menyatakan akan melakukan perlawanan hukum dan segera memperbaiki dakwaan. ”Putusan hakim sudah masuk materi perkara yang semestinya dibuktikan dalam sidang. Mengapa dalam sidang sebelumnya eksepsi penasehat hukum terdakwa dibacakan seluruhnya, sementara tanggapan JPU hanya dibaca sebagian,” ujar jaksa Suningsih.(banyumasnews.com/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response