Geger, Presiden Geguritan menggugat di pentas sastra Jateng

CILACAP- Presiden geguritan dari Ajibarang, Wanto Tirta sesumbar dengan bersikap jengkel seperti tokoh wayang Baladewa, gara-gara namanya tak disebut oleh pembawa acara sebagai salah seorang penyair Jawa Tengah yang turut diundang untuk baca puisi dalam pentas budaya dan sastra di Pendopo Kecamatan Kroya, Minggu malam (11/10).

Sebelumnya para penyair dari berbagai kota tampil dengan gaya dan karakter masing-masing. Gilrian terakhir tampilah penyair dari Ajibarang, Banyumas, Nanang Anna Noor. Selesai Nanang membawakan puisinya yang didendangkan menjadi lagu apik lengkap dengan iringan gitar dan tiupan harmonika, tiba-tiba Wanto menerabas keheningan dan melompat ke panggung sambil sesumbar dan memaki Nanang. Jari tangan kanannya menuding-nuding dengan luapan
emosi seperti tak terkendali.

“Kamu payah. Penyair lain baca puisi kamu sendiri malah menyanyi. Pembawa acara juga pilih kasih. Masa nama saya tidak disebutkan? Padahal sebelum acara dimulai saya disodori blangko biodata penyair dan sudah saya isi. Itu tak masalah. Biar saja nama saya nggak disebut oleh pembawa acara, yang penting di sini saya akan baca puisi saya. Saya akan mengajak penonton untuk ngebor bersama biar suasana semakin ngglosooor….” kata Wanto dengan penuh permainan karakter. Sementara Nanang hanya bersikap seperti orang pikun dan kebingungan. Padahal sebelumnya saat tampil sarat dengan ngebanyol.Alhasil, para penonton yang semula tegang dan panik, beberapa saat kemudian urat saraf pentonton semakin mengendur begitu sadar kalau gugatan yang diaktingkan kedua penyair asal Ajibarang
itu sekedar trik sebagai teknik muncul yang semata demi merampas perhatian hadirin.

“Berkesenian harus total, pentas seni pun harus memiliki daya picu yang kuat untuk membuat ledakan di awal tampil, sehinga kehadiran kita di atas pentas mampu merampas perhatian,” kata Nanang usai pentas seraya ngakak.

Setelah Nanang mendendangkan puisinya, disusul Wanto Tirta mengalunkan geguritan karyanya berjudul ‘Ngebor’.
“Tua enom lanang wadon. Dina wengi kepengin ngebor. Keliru ngebor bokong dadi ngglosor. Kesasar ngebor pipa lapindo malah bocor. Gawe sengsara maring wong.” papar Wanto yang disambut ger-geran.

Di awal pentas, penyair asal Pati, Anis Sholeh juga memukau penonton dengan puisinya yang cukup panjang, yakni Suluk Duka Cinta dan Suluk Montang Manting. Pada puisi kedua Anis berpuisi dengan diiringi paduan musik dari berbagai irama seperti Aceh, Padang, kroncong dan Jawa. Beberapa bait dia alunkan dengan irama meregang bernada protes kepada segala bentuk kedzaliman.

“Kalaulah engkau ingin berkuasa kenapa kami yang jadi tumbalnya. Kalaulah engkau ingin berkuasa kenapa kami yang nanggung biayanya…” pekiknya berulang ulang. Lain Anis, lain dengan Wijang Wharek yang lebih mengandalkan gaya gerak tubuh yang stakatis dan konon setiap membaca puisi dia gemar berakting pingsan. Sedangkan Alfian
lebih tampil sebagai cowok yang feminis dengan menyajikan syair romantis syarat makna mistis, begitu juga irama pengiring yang diaransemennya. Berpadu dengan sis syair yang ditulisnya.

“Bersama serulingku aku terus bernyanyi sampai angin mencatat notasinya,” ujarnya romantis. Dan satu-satunya perempuan penyair, Nana Eres dari Tegal yang tampil lembut menggelanyutkan syair bernada protes lirih para buruh pabrik gula dan kaum papa (banyumasnews.com/Hamidin Krazan).

Presiden Geguritan Wanto Tirta saat 'merusak' acara pentas sastra Jateng (foto:ham/BNC)
Presiden Geguritan Wanto Tirta saat 'merusak' acara pentas sastra Jateng (foto:ham/BNC)
Penyair Nana Ernest Tegal, tampil memukau (foto:ham/BNC)
Penyair Nana Ernest Tegal, tampil memukau (foto:ham/BNC)
Penyair Nanang Anna Noor, tampil dengan gitar dan harmonika (foto:ham/BNC)
Penyair Nanang Anna Noor, tampil dengan gitar dan harmonika (foto:ham/BNC)
Penikmat sastra dari berbagai daerah yang datang ke Kroya (foto:ham/BNC)
Penikmat sastra dari berbagai daerah yang datang ke Kroya (foto:ham/BNC)

5 Comments

  1. Salut untuk kota Kroya yang mampu mengadakan event sastra se-Jateng. Ini dimungkinkan karena ada dedengkot pegiat sastra di situ yang mau pro aktif. Kata-kata dalam puisi tetaplah harus ditampilkan dalam tampilan panggung untuk memberikan efek lebih luas… walauupun era digital virtual memungkinkan orang mempublikasikan puisi via blog/web. ‘Pembacaan’ di panggung tetaplah penting. Kita tunggu event serupa di kota lain di Banyumas Raya… Bravo!

  2. Kroya memang luar biasa. Setiap kegiatan pasti yang datang dari berbagai kota. Sangat beda dengan Banyumas, kalau gelar sastra, yang datang orang lokalan. Anehnya satrawan/penyair Banyumas seperti Teguh Trianton dan Nanang Anna Noor malah lebih suka bersastra di Kroya Cilacap. Ada apa dengan Banyumas???

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.