Jadikan krisis sebagai cambuk kebangkitan Sastra

Ditulis 12 Okt 2009 - 18:18 oleh Banyumas1
Performance penyair dari Pati, Shaleh Ba'asyin (Foto:ham/BNC)

Performance penyair dari Pati, Shaleh Ba'asyin (Foto:ham/BNC)

KRISIS terjadi akibat kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan sebagaimana yang dicita-citakan. Persoalan itu melanda di berbagai aspek kehidupan termasuk di bidang kebudayaan yang di dalamnya terdapat seni sastra. Oleh karenanya, khususnya untuk megangkat kembali sastra Indonesia dibutuhkan perjuangan secara serius untuk mengatasi krisis yang tengah melanda. Hal itu dikatakan penyair Trianto Triwikromo selaku pengurus Dewan Kesenian Jawa Tengan (DKJT) dalam abstraksinya pada pentas budaya dan sastra dengan tema Perjuangan Sastra Melawan Krisis yang digelar DKJT kerjasama dengan Tjlatjapan Poetry Forum dan sebuah harian regional pada Minggu malam (11/10) di Pendopo Kecamatan Kroya, Cilacap.

“Seharusnya krisis yang menghempaskan seluruh aspek kehidupan termasuk di bidang sastra itu tidak dijadikan dalih sehingga tak membuat sastra Indonesia semakin terpuruk. Justru sastra harus dijadikan sarana berjuang untuk merebut eksistensi dirinya agar menjadi sesuatu yang bermakna,” kata Trianto.

Dia juga merujuk bahwa pada periode Nabi Muhammad, profesi sebagai penyair menjadi suatu kebanggan. Itu menandakan adanya penghargaan terhadap karya sastra yang begitu tinggi. Padahal pada masa itu kondisinya berada dalam massa krisis. Namun perkembangan sastra justru tumbuh subur.

Adapun bentuk krisis dalam dunia sastra Indonesia yang pantas dicemati dan harus diperjuangan agar kondisinya kembali normal sehingga mampu kembali merangkak meraih menara gading sastra Indonesia, menurut monologer dan penyair Eko Tunas, salah satunya akibat ulah para seniman aau sastrawannya juga. Dicontohkan, adanya perhelatan sastra semacam dialog budaya, pembacaan puisi selama ini hanya terkungkung di panggung eksklusif dengan
penonton hanya terbatas dari kalangan penyair atau penyuka seni sastra yang itu-itu saja.

“Jika sastra hanya hidup di forum-forum sastra dan tak bisa tampil di depan publik atau khalayak umum ya itu wujud dari krisis sastra itu sendiri,” tandas Eko Tunas sebelum ia membacakan puisi ‘Bintang Kata Kata’ karyanya.

Sastra Indonesia ke dapan, kata Eko, mesti kembali ke ‘sasaran’. “Termasuk dari bentuk krisis sastra bilamana karya ‘eksperimental’ tidak lagi mendapatkan tempat yang layak,” ungkapnya getir.

Sejumlah penyair Jateng yang tampil membacakan puisi karyanya yaitu Alfian Harfi (Cilacap), Anis Shaleh Ba’asyin (Pati), IH Antasalam (Cilacap), Faisol Komandobat (Cilacap), Wijang Wharek Almauti (Surakata), Eko Tunas (Semarang), Teguh Trianto (Purbalingga), Nana Erest (Tegal), S Wibowo (Magelang), Nanang Anna Noor (Ajibarang) dan Wanto Tirta (Ajibarang).

Hadir wakil dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Dian Arinda Murni, selain memberikan sambutan beliau juga membacakan satu puisi karya Bandrudin Emce  (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)

Tentang Penulis

Leave A Response