Ki Dalang Soediro, Pentaskan Wayang Teroris

Ditulis 10 Okt 2009 - 01:40 oleh Banyumas1

BANYUMAS-

Ki Dalang Soediro memainkan wayang saat ceramah agama di Koramil Ajibarang (foto:n-1/BNC)

Ki Dalang Soediro memainkan wayang saat ceramah agama di Koramil Ajibarang (foto:n-1/BNC)

Diringi Rebana Banyumasan, ceramah menjadi terasa gayeng (foto:n-1/BNC)

Diringi Rebana Banyumasan, ceramah menjadi terasa gayeng (foto:n-1/BNC)

Ratusan penonton enggan beranjak hingga akhir ceramah (foto:n-1/BNC)

Ratusan penonton enggan beranjak hingga akhir ceramah (foto:n-1/BNC)

Terorisme yang belakangan marak terjadi, nampaknya mengilhami seorang penceramah agama Islam di Banyumas. Dalam setiap ceramahnya selalu menampilkan wayang sebagai simbol perilaku manusia. Seperti dalam pengajian memperingati HUT TNI di Koramil 17 Ajibarang Jumat (09,10) malam. Penceramah ini mementaskan sejumlah wayang yang menampilkan perilaku teroris.

Penceramah yang satu ini memang sedikit beda. Setiapkali diundang ceramah sejumlah wayang pasti selalu dibawanya. belakangan pria bernama Soediro Wirjodihardjo warga Kranji Purwokerto ini kerap tampil di sejumlah acara pengajian.

Maklum, karena Soediro yang juga seorang dalang wayang kulit ini pandai mencari moment yang tepat untuk materi ceramahnya. Belakangan pria yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini laris diundang karena wayangnya yang cukup kontraversial.

Soediro menjadikan wayang wayang berperangai jahat atau antagonis seperti Buta,Cakil dan Togog diperanakanya sebagai teroris. Wayang wayang ini digambarkan bahwa mereka hanyalah merupakan korban dari dalang itu sendiri yang telah menjadikannya teroris.

“ Sekarang yang terpenting cari akar masalah kenapa muncul terorisme” ujar Soediro , seraya menambahkan, perlu adanya pemahaman agama yang lebih intensif. Karena pemahaman yang salah bisa berakibat fatal bagi generasi muslim di Indonesia (banyumasnews.com/n-1)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Sudir mt, pandansari 24/12/2009 pukul 13:58 -

    Salutttttt…. dawah penuh kreatif and innovative ….
    Kapan yahc… aku bisa ngupulna wong2 Banyumas sing neng Jkt.
    terus ngudang pak Diro…
    maju terus Pak smg Allah selau memberi kemudahan …

  2. udjik 22/12/2009 pukul 15:08 -

    yang menyebabkan ‘masalah’ adalah kata-kata ‘mainkan’

  3. udjik 30/11/2009 pukul 15:07 -

    wayang sebagai produk budaya mengalami evolusi dari awal mula sampai sekarang, jadi SAH saja wayang mau diringi apa, tidak diringi juga ngga papa… adapun jika kurang nikmat karena iringannya bukan gamelan.. memang benar bagi orang penggemar wayang klasik… Ki Sudiro memberikan tontonan alternatif berupa wayang kontemporer… mungkin suatu saat wayang kontemporer akhirnya menjadi klasik juga..

  4. soediro wirjodihardjo 16/10/2009 pukul 09:59 -

    Untuk Pak Sukarjo saya ucapkan terima kasih atas kritiknya. Pada prinsipnya, wayang dahulu adalah media dakwah yang dilakukan para wali. Jadi secara substansial apa yang saya lakukan sah-sah saja. Persoalan wayang disajikan dengan iringan apa? itu pun berkembang. Pertama kali dulu diiringi gamelan tapi hanya laras pelog. Kemudian ditambah dengan laras slendro. Dalang kondang asal Surakarta, H.Manteb Sudarsono berkreasi dengan membawa bedug dan terompet dalam pentas. Lalu seperti kita lihat sekarang, pagelaran wayang menyertakan organ , sekaligus dengan penyanyi campur sari atau dangdut, seringkali bahkan ditambah lawak atau malah tokoh wayang orang naik ke pentas. Menurut saya, berbagai inovasi tersebut sah-sah saja. Tentang pakem yang sampai saat ini selalu menjadi perbincangan, menurut saya adalah patokan dasar pedalangan. Di sana ada alur cerita, silsilah, dan lain-lain. Kenyataannya, banyak dalang yang menampilkan lakon cerita carangan/ karangan, yang juga diklaim keluar dari pakem. Catatan untuk Pak Sukarjo, jika wayang memang budaya bangsa yang perlu dilestarikan, maka berceramah dengan membawa wayang termsuk salah satu di antaranya. Jadi, bukan “waton payu” seperti yang anda katakan. Saya bertindak menggunkan “waton”. Mudah-mudahan “payu”.

  5. sukarjo 14/10/2009 pukul 10:32 -

    Lepas dari fungsi dakwah yang positif, saya keberatan jika wayang diiringi bukan dengan gamelan. Selain “cita rasa” nya tidak tercapai, juga merusak pakem. Jika hal ini diabaikan, maka suatu saat boleh jadi kita akan menonton wayang dengan iringan musik “undert ground” atau kelompom musik cadas yang lain. Saya prihatin. Makanya Pak ustadz, sebelum berkarya pikirkan dulu, jangan “waton payu” lalu merusak budaya itu sendiri.

  6. azzoarq 14/10/2009 pukul 10:23 -

    bagus-bagus perlu dilestarikan….

  7. Awaludin 14/10/2009 pukul 09:19 -

    kalo seandaianya saya bisa bertemu dengan pria ini sebaiknya saya panggil Ki Dalang apa Pak Ustadz atau mungkin Pak Dosen? Sebuah multi talenta yang luar biasa…..

  8. agus r 11/10/2009 pukul 05:57 -

    sosok dalang yang satu ini memang luar biasa…………………..dahsyat…ora kaya dalang liyane. dalang yg satu ini..intelek, wawasannya luas (karena alumni s-2 UGM) dan yang jelas banyolannya……mengena+tidak provokatif. tapi aku pesen..tanggapene aja diundhakna……dumeh wis terkenal..tarif naik..aja kaya kuwe ya kang diro…………ck ck ck ck ck

Leave A Response