MUI prihatin siaran televisi yang ajarkan Hedonisme

Ditulis 08 Okt 2009 - 09:46 oleh Banyumas1

BANJARNEGARA- Majelis Ulama Indonesia Pusat melalui Sekretaris Jenderalnya, Prof. DR. H. Amrulloh Ahmad memprihatinkan materi siaran televisi Indonesia yang banyak menampilkan program-program yang menonjolkan paham hedonisme. Menurutnya, siaran televisi dari pagi sampai tutup siaran mayoritas menonjolkan gambaran yang berisikan muatan bahwa kenikmatan di dunia adalah tujuan dari hidup. Hal tersebut disampaikannya pada pengajian Halal bi Halal Panitia Pengajian Umum Kabupaten yang diselenggarakan di Pendopo Dipayudha Adigraha, Rabu siang (07/09).

Ia menambahkan, bahkan semasa bulan Ramadhan silam, materi siaran dari berbagai stasiun televise pun tidak ada perubahan. Prihatin atas hal tersebut, MUI Pusat telah melakukan beberapa kali teguran dan himbauan, agaknya langkah tersebut tidak cukup efektit. Buktinya muatan siaran televisi dari berbagai stasiun masih sama dan cenderung seragam.

Bila fenomena siaran televisi itu terus menerus terjadi di ruang pribadi setiap rumah tangga, Ia mengkhawatirkan, di dalam masyarakat kita sekarang ini akan banyak orang yang menderita penyakit kejiwaan yang dikenal dengan istilah split personality atau kepribadian ganda. “Sholat jalan, memburu nikmat keduniawiaan juga terus dijalani” katanya.

Mengkaitkan usainya Ramadhan dan upaya kita ingin kembali fitrah di Hari Raya Iedul Fitri, Ia menyampaikan keraguannya kondisi fitrah atau kembali suci dapat tercapai bila selama Ramadhan hari-hari kita lebih banyak diisi dengan nonton televise dari pagi hingga malam. “Jadi saya meragukan, apakah benar kita telah kembali fitrah, bila selama Ramadhan kemarin hari-hari puasa kita justru disesaki oleh siaran-siaran televisi dari pagi sampai petang yang menginjeksi pengetahuan dan jiwa kita dengan paham hedonis tersebut” katanya.

Secara bijak, Ia menganjurkan kepada umat Islam untuk menyeleksi siaran televise yang ditonton oleh keluarganya. Diingatkan, pengaruh paling besar dari budaya nonton televise ini adalah anak-anak. “Karena bila kita tidak hati-hati, informasi yang salah tersebut akan tertanam terus sepanjang usia hidupnya” pungkasnya (banyumasnews.com/eko)

Tentang Penulis

Leave A Response