Mengubah sampah biang masalah, menjadi pembawa berkah

sampah-2

Mesin pengolah-sampah
Mesin pengolah-sampah

BANJARNEGARA – Sampah merupakan permasalahan yang terjadi hampir diseluruh pasar tradisional. Selama ini sebagian besar pasar tradisional dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah ( TPA ). Hal ini berpotensi besar melepas gas metan ( CH4 ) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu juga diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengangkut sampah tersebut ke TPA.

Berbagai upaya telah dilakukan manusia untuk mengkonversi sampah sehingga memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Begitu juga dengan Kabupaten Banjarnegara, melalui Dinas Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop), Dinas Pekerjaan Umum(DPU), dan Kantor Lingkungan Hidup mencoba membuktikan bahwa sampah bukanlah masalah, namun dapat menjadi berkah. Bekerjasama dengan Yayasan Danamon Peduli ( YDP ) rencananya pada tanggal 29 Oktober 2009 akan dilaksanakan penandatanganan peresmian pengembangan Unit Pengolahan Kompos Pasar Banjarnegara. Unit ini bertugas mengkonversi sampah organik yang berasal dari Pasar Induk Banjarnegara menjadi pupuk kompos.

Di tahun 2008 program ini telah berjalan di Bantul, Sragen, Wonosobo, Pacitan dan Grobogan. Pada tahun 2009 ini,  program tersebut menurut Kepala DPU lewat Kabid. KPPJ Drs.Umar Sadjad telah direplikasi oleh 26 Kabupaten/kotamadya seluruh Indonesia, termasuk Banjarnegara, Tapanuli Selatan, Pekanbaru, Payakumbuh, Tanjung Balai, Jakarta Pusat, Bogor, Bekasi, Jepara, Kendal, Klaten, Magelang, Pemalang, Purbalingga, Rembang, Temanggung, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, Semarang, Barru, Gowa, Palopo, Pinrang, Sidrap, Soppeng, dan Bitung.

“Khusus untuk Banjarnegara, penempatannya akan dipusatkan di sebelah timur Stadion baru. Secara keseluruhan, setiap harinya Unit Pengolahan Sampah Kompos ini berpotensi mengonversi 60-120 ton sampah menjadi 24-48 ton pupuk organik. Adapun harga yang ditetapkan pengelola nantinya hanya Rp.500,-/kg,” ujar Umar

Umar menambahkan, program ini diharapkan dapat menjadi titik awal bangkitnya pasar tradisional dan ketahanan pangan berbasiskan pertanian organik di Banjarnegara. “Pupuk kompos yang dihasilkan oleh Unit Pengolahan Sampah Pasar Banjarnegara nantinya bisa dimanfaatkan oleh petani untuk memperbaiki struktur tanah pertanian yang mulai rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan,” jelasnya (banyumasnews.com/Yovi Andriani).

1 Comment

  1. sampah, sesuatu yg dihindari tetapi dibuat tiap hari oleh setiap manusia, coba kalau 20% saja program CSR perusahaan dialokasikan ke sampah kayaknya Indonesia bersih, indah dan sehat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.