Santri Ngruki kawal pemakaman jenazah teroris Urwah

Ditulis 02 Okt 2009 - 21:00 oleh Banyumas1

Ratusan Santri Ngruki Solo kawal pemakaman teroris Urwah (foto:tgr/BNC)

Ratusan Santri Ngruki Solo kawal pemakaman teroris Urwah (foto:tgr/BNC)

KUDUS – Ratusan santri dari pondok pesantren Ngruki Solo, Jum’at (2/10) berbondong-bondong ke Kudus (Jateng). Tujuan mereka mengawal dan sekaligus menghantarkan jenazah teroris  Bagus Budi Pranoto alias Urwah, salah satu tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Solo. Pengawalan yang dilakukan anak buah Ustad Abu Bakar Basyir itu menyusul adanya penolakan warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, atas rencana pemakaman Urwah.

Baasyir tidak terlihat dalam pemakaman itu. Padahal semula, Baasyir berniat memimpin upacara pemakaman. Baasyir hanya mengirim empat buah bus besar untuk membawa santrinya menghadiri pemakaman Urwah.

Bsesuai kesepakatan semula, Baasyir tidak diperkenankan hadir. Begitu pula dengan kedatangan massa Front pembela Islam (FPI) yang semula dikabarkan gencar akan melawan siapapun yang menentang pemakaman Urwah. Sesuai kesepakatan sebelumnya, seluruh prosesi dilakukan oleh panitia yang dibentuk dari desa. Prosesi tersebut diawali dengan sambutan tuan rumah yang diwakili Kades Mijen, Sujono KS.

Sujono meminta agar baik para pelayat yang hadir dari Ngruki, Solo maupun warga untuk saling menghormati. Sebab, warga memang bersedia menerima jenazah Urwah dengan syarat seluruh prosesi dilakukan oleh panitia desa. ”Kami minta agar semua pelayat saling menghormati satu sama lain dan menjaga agar Desa Mijen tetap kondusif,” pinta Sujono ketika memberikan sambutan pelepasan jenazah.

Teriakan takbir yang seakan mengagung-agungkan Urwah sebagai Mujahid akhirnya muncul saat jenazah Urwah diberangkatkan dari rumah orang tuanya ke pemakaman. Teriakan takbir tersebut sempat memancing ketegangan dengan warga setempat yang sebelumnya melakukan penolakan. Pasalnya, dalam kesepakatan sebelumnya, warga sepakat menerima jenazah Urwah dengan syarat pemakaman tanpa diwarnai yel-yel yang mengesankan Urwah sebagai pahlawan. Hanya saja, ketegangan tersebut akhirnya bisa diredam ketika warga Mijen membiarkan aksi tersebut, untuk menjaga kondusifitas desa.

Wartawan diancam.

Sama halnya pada pemakanan jenazah Mistam Husamudin di Purbalingga, para santri Ngruki melakukan tindakan arogan dengan melarang para wartawan melakukan pengambilan gambar saat jenazah diberangkatkan maupun saat jenazah dikuburkan. Larangan tersebut bahkan disertai ancaman. Mereka beralaaan larangan pengambilan gambar tersebut atas permintaan dari pihak keluarga Urwah. ”Seluruh wartawan tidak boleh meliput,” kata seorang santri dengan ketusnya

Jenazah Susilo.

Sementara itu jenazah Adib Susilo dimakamkan di Pracimoloyo, Solo. Pemakaman Susilo luput dari perhatian massa yang banyak, karena dimakamkan pagi dini hari. Jenazah Susilo sampai ke dukuh Kagokan, Pajang Solo, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Tidak lama berselang, jenazah langsung dimakamkan di poemakaman umum Astana Pracimoloyo. (tgr/BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response