Investor garap penambangan pasir besi

KEBUMEN – Investor PT Mitra Niagatama Cemerlang (MNC) Jakarta akan menanamkan investasi senilai Rp 27 milyar untuk mengeksploitasi penambangan pasir besi di Kecamatan Mirit Kebumen. Luas lahan yang akan diekploitasi sekitar 1000,79 hektar yang tersebar di enam desa yakni Wiromertan, Lembupurwo Tlogo Pragoto, Tlogo Depok, Mirit dan Mirit Petikusan.

Umur tambang eksploitasi sekitar 10 tahun. Pada tahap awal rencana produksi ditarget 30.000 metrik ton per bulan, dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 60.000 metrik ton per bulan atau 720.000 metrik ton per tahun.

Staf Ahli MNC Jakarta Supriyadi mengatakan, metode penambangan yang digunakan adalah open pit sistem berjenjang menggunakan pemboran (drilling), penggalian dan pengerukan. “Penambangan diawali dengan pengupasan lapisan pucuk kemudian ditimbun atau disimpan untuk keperluan rehabilitasi lahan bekas tambang maupun lahan bekas pembuangan limbah,” kata Supriyadi disela-sela persiapan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Selasa (29/9).

Lapisan penutup pasir diganti penggalian secara manual kemudian langsung disalurkan belt conveyor ke jam crusher jenis mesin SF 67300, med crusher jenis mesin LS-150-JJE dan core crsuehr. Selanjutnya biji besi dipisahkan dengan magnetic separation. “Mineral pengotor masuk ke pembuangan limbah atau tailer dan biji besi disalurkan ke penimbunan sementara menunggu pemuatan untuk dibawa ke pelabuhan,” jelasnya.

Supriyadi menjelaskan, total biaya produksi untuk penambangan pasir besi sekitar Rp 163 miliar. Penjualan utama pasir besi ke China dengan harga jual US$ 27,50 atau 288.750 per ton pada kondisi free on board (FOB). “Dari hasil itu disimpulkan penambangan pasir besi di Mirit layak diusahakan,” kata Supriyadi.

Tenaga kerja pada pertambangan sekitar 147 orang, dan 7 orang untuk pengapalan dan pemuatan di Cilacap. Selain itu, masih ada tenaga kerja tidak langsung untuk kegiatan bongkar muat, pengemudi kendaraan angkutan, operator alat berat hingga pemuatan ke kapal di Cilacap.

Supriyadi menjamin, kegiatan penambangan dilakukan secara terpadu untuk mengurangi dampak penambangan, termasuk proses reklamasi lahan. Jalan yang dilalui kendaraan produksi disiram dan dirawat rutin. Selain reklamasi, juga dilakukan revegetasi dengan tanaman yang sesuai seperti tanaman ketapang laut, akasia dan jenitri.

”Sistem penambangan pasir besi menggunakan sistem tambang terbuka dengan alat berat dan tambang semprot. Reklamasi lahan digunakan material tailing atau back filling. “Material yang diambil hanya yang memiliki kadar pasir besi sekitar 20 persen, sisanya dikembalikan untuk reklamasi, sehingga tidak akan merusak lahan,” kata Supriyadi. (banyumasnewscom/tgr)

1 Comment

  1. Saya sebagai Kades yang mau di tambang berharap ada sosialisasi yang jelas dengan bahasa Desa.. sosialisasi hendak nya di lakukan secepat nya..satu hal yang terpenting hargai Otonomi Desa..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.