Soal pilkada, TBS pastikan tak ada keluarganya yang nyalon

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko (TBS)  memastikan, setelah dirinya selesai menjabat Bupati pada tahun 2010 mendatang, tidak memiliki jago dari keluarganya. “Keluarga saya, termasuk istri saya juga tidak akan njago  bupati atau wakil bupati,” tegas Triyono didepan forum silaturahmi Paguyuban Pensiunan Pemda Purbalingga, di Pendopo Dipokusumo, Selasa (29/9).

Dikatakan Triyono, pihaknya bersama keluarga terus mendorong agar pelaksanaan pilkada tahun 2010 mendatang berjalan dama dan demokratis. “Suasana kondusif menjelang pilkada harus terus kita jaga. Masyarakat hendaknya dapat melaksanakan pesta demokrasi itu dengan santun, bijak dan arif. Para pensiunan PNS harus berpartisipasi didalamnya,” kata Bupati Triyono.

Dalam kesempatran tersebut Bupati Triyono menginformasikan kepada para mantan PNS, bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang sudah relatif baik ini, menjadi kewajibann kita untuk bagaimana meteruskan ke masa yang akan datang. Bulan November 2009 mulai penjaringan calon bupati dan wabup.

Menurutnya, selama ini pihaknya telah mendorong partai politik dan kelompok-kelompok masyarakat untuk menimang-nimang calon atau kandidat-kandidatnya. Mudah-mudahan  mereka sebagai calon bupati dan calon wakil bupati mempunyai kapabilitas dan akseptabilitas yang bisa diterima masyarakat.

“Saya sungguh menciptakan suasana yang demikian. Namun kelihatannya seret apa bagaimana ya munculnya calon-calon baru. Memang sekarang untuk menjadi kepala daerah itu bukan hal yang gampang,” kata Triyono.

Jika akan mencalonkan diri, lanjut Triyono, setidaknya mempertimbangkan tiga hal. Pertama, kalau mau nyalon bupati atau wabup memang harus punya duit. Sebenarnya kalau tidak pakai uang, banyak yang nyalon. “Untuk bisa nyalon memang harus naik kendaraan (parpol-red). Nanti menyiapkan tim sukses. Menyiapkan dana untuk operasional di lapangan. Kalau sudah jadi bupati harus mengadakan syukuran dan sebagainya,” ujar Triyono.

Alasan kedua, karena belum ditemukan sistim demokrasi yang pas. Masih sering terjadi aturan-aturan yang berubah-ubah. Sehingga masih terus mengkaji, merubah ini dan itu. ”Sehingga gampang kepleset atau celaka. Ibarat berjalan dengan sepatu hak tinggi di jalan yang licin,” ujar Triyono.

Yang ketiga, mau maju mungkin dibebani tingkat prestasi. Kalau nanti bupati yang menggantikan tidak bisa seperti yang diharapkan, nanti akan mendapat hujatan dari masyarakat. “Memepertahankan saja berat. Apalagi kalau slow-down. Itu jelas akan mendapatkan hujatan, dan tuntutan-tuntutan dari masyarakat,” ujar Triyono. (banyumasnews.com/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.