Aksi Mardjoko babat pohon,dikecam warga

Pohon yang ditebang mebuat warga yang melintas diwilayah tersebut kepanasan (foto:cit/BNC)
Pohon yang ditebang mebuat warga yang melintas diwilayah tersebut kepanasan (foto:cit/BNC)

PURWOKERTO – Aksi babat pohon yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyumas akhir-akhir ini banyak menimbulkan konroversi di masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian mengecam tindakan tersebut karena dianggap merusak lingkungan dan ekosisitem. Jalan – jalan di Kota Purwokerto seperti Jl. Dr. Angka, Jl. Gatot Soebroto, dan Jl. Jenderal Soedirman dirasa semakin panas dan gersang akibat ditebangnya pepohonan di sepanjang jalan tersebut. Selain itu jalan – jalan tersebut sangat berdebu karena hingga saat ini proyek pelebaran belum rampung sepenuhnya.

Purwokerto sekarang panas, tidak seperti kaya dulu lagi sejuk, sekarang semua pohon ditebang. Harusnya Mardjoko mencontoh Kabupaten Bantul dan Jember yang memelihara pohon di sepanjang jalan” ketus Jeni (36) warga Kranji Purwokerto.

Hal senada juga dilontarkan Ratno (57) warga Jatiwinangun. Harusnya pemerintah menanam pohon pengganti dulu baru kemudian pohon-pohon ini ditebang. Jalan disini tidak senyaman dulu, dulu kalau lewat Jl. Dr. Angka sejuk banget, sekarang boro-boro sejuk, debu banget lah iya, panasnya nyengat banget”.tutur Ratno.

Pemerintah Kabupaten Banyumas berdalih, bahwa penebangan tersebut adalah bagian dari upaya pemerintah untuk membangun Banyumas menjadi lebih baik dengan kota yang lebih tertata. Jalan – jalan tersebut pada nantinya akan diperlebar, hal ini guna menunjang pembangunan.

Saya sih setuju dengan pembangunan, apalagi kalau Banyumas jadi lebih maju, tapi kalau pembangunannya pakai acara nebang pohon segala, apalagi jadikan Purwokerto ini panas saya tidak setuju, wong sekarang lagi pada kampanye global warming masa kita nebangin pohon” tambah Ratno (banyumasnews.com/cit)


4 Comments

  1. selain mehangcurkan ekosistem dan lingkungan, saya kira pak bupati juga menghancurkan perempuan… karena perempuan dan lingkungan adalah dua hal yang saling bersahabat…
    kalau saja Vandana Shiva orang Indonesia, Pak Bupati pasti menjadi penjahat lingkungan dan perempuan…

  2. Infrastruktur yg baik & rapi tidak berhubungan dg pembabatan zona hijau. Purwokerto, proyeksi mewujudkan Purwokerto Metropolitan-lah yg mungkin ‘mensyaratkan’ adanya penebangan pohon2 sbg tumbal kebijakan eksekutif. Mungkinkah para eksekutif beranggapan bahwa Purwokerto tidak akan terkena dampak Global Warming?
    Jika alasannya adalah pohon yang ditanam “tidak indah” lalu mengapa tidak ditanam penggantinya dulu baru kemudian yang lama di’bantai’? setidaknya hingga umur pohon yg baru skitar 3 bulan, sehingga niat baik pemerintah kabupaten dalam menjaga Purwokerto Hijau tetap terlihat. Apakah dinilai terlalu lama memakan waktu dan mengesankan Bupati bertindak lambat dalam membuka daya tarik jalur investasi?
    Sangat disayangkan, mengingat Purwokerto pernah menjadi salah satu dari sedikit kota besar di Jawa yg masih mempertahankan areal hijau di jalur protokolnya..
    Untuk menjadi renungan, kita tentunya tidak menginginkan anak cucu dan keturunan kita justru diwarisi lingkungan yang kualitasnya rusak-rusakan karena global warming.
    STOP GLOBAL WARMING NOW, HIJAUKAN PURWOKERTO KEMBALI!!

  3. Saya sih setuju saja dg upaya pak Mardjoko menata kota pwt/bms…kalau penebangan pohon memang bikin kota menjadi panas..memang iya…tp kan hanya untuk sementara…toh nanti 3-4 tahun akan sejuk kembali dg penanaman kembali pohon pengganti. Ingat jika berbicara pembangunan kita harus berpikir jauh ke depan…jangan sampai terlambat melakukakan tindakan yg seharusnya dapat dilakukan sekarang, bisa fatal akibatnya..artinya seiring dengan pesatnya pembangunan di kota pwt/bms maka sudah saatnya jalan2 di kota pwt/bms dilebarkan mengingat volume kendaraan yang sudah sangat banyak dan berpotensi macet (jl. dr. angka jika jam sekolah pasti macet, apalagi jika musim hujan). Apalagi mumpung di kanan kiri belum banyak bangunan/pkl sehingga lebih memudahkan untuk melakukan penataan/pelebaran jalan. Di sisi lain jika berbicara dg penataan lampu jalan yang selama ini belum ada, dg penataan kembali maka antara lampu dg pohon dapat diatur sedemikian rupa sehingga pencahayaan lampu akan maksimal tanpa terhalang pohon, pohon pun dapat diatur lebih rapi. Kedepan diharapkan ini berdampak pada masuknya para investor ke pwt/bms dg melihat infrastrukstur yang baik dan rapi.

  4. Apakah untuk membangun/menata Kabupaten Banyumas harus dengan cara merubah lingkungan yang asri dan menggantinya dengan lingkungan yang terlihat terang benderang, lapang dan GERSANG? Kalau begini sepertinya issue global warming hanya angin lalu saja di Banyumas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.