Jenazah teroris Mistam Husamudin gagal dibawa pulang

Ditulis 28 Sep 2009 - 01:11 oleh Banyumas1
Mistam Husmaudin

Mistam Husmaudin

PURBALINGGA – Jenazah salah satu teroris yang tewas dalam penggrebekan di Solo, Ario Sudarso alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji alias Dayat alias Mistam Husamudin, gagal dibawa pulang ke Dukuh Kedungjampang, Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari, Purbalingga.  Semula dikabarkan, mabes Polri akan menyerahkan jenazah Mistam kepada perwakilan keluarga pada Hari Sabtu (26/9). Namun, karena masih dalam identifikasi di Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur, jenazah belum bisa dibawa pulang.

Penundaan penyerahan jenazah diduga juga berkaitan dengan makin banyaknya aksi penolakan warga masyarakat terhadap pemakaman Mistam Husamudin di Karangreja, Kutasari. Bahkan, Sabtu (26/9), sebanyak 19 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan ormas telah mengirimkan surat kepada pihak-pihak terkait termasuk Muspida Purbalingga, untuk menolak pemakaman Mistam Husamudin di wilayah Purbalingga.

Pengacara keluarga Mistam Husamudin, Muhammad Kurniawan mengatakan, jenazah Mistam Husamudin belum bisa dibawa pulang karena proses identifikasi jenazah belum selesai. “Proses ante-mortem dan pos-mortem belum selesai,” kata Kurniawan, Minggu (27/9).

Menurut Muhamad Kurniawan yang berangkat ke Jakarta  bersama adik Mistam Husamudin, Sardi Hadi Priyanto, selama di rumah sakit, pihaknya juga belum diperkenankan untuk melihat jenazah Mistam. ”Kami masih menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari polisi, kapan jenazah bisa diambil. Namun demikian, pada hari Senin (28/9) kami akan datang lagi ke Jakarta,” kata Kurniawan.

Jenazah Urwah

Sama seperti halnya jenazah Mistam Husamudin, pihak keluarga Bagus Budi Pranoto alias Urwah juga gagal membawa pulang jenazah Urwah. Meski keluarga  Urwah sudah sampai di Jakarta, namun mereka terpaksa kembali dengan tangan hampa karena pemulangan jenazah Urwah masih menunggu hasil identifikasi dari Polri.

Juru bicara keluarga Urwah, Taufiq Ahmad, Minggu (27/9) mengungkapkan, gagalnya pengambilan jenazah tersebut karena pihak polisi beralasan masih melakukan proses identifikasi lagi. ”Saat keluarga di Jakarta, mereka dimintai data untuk pemeriksaan antem mortem guna proses identifikasi,”ujar Taufiq.

Hal tersebut tentu cukup mengecewakan pihak keluarga.Pasalnya, mereka sudah terlanjur jauh-jauh dari Kudus ke Jakarta dengan harapan bisa langsung membawa jenazah Urwah. Apalagi, pihak keluarga sebelumnya sudah pernah diambil sampel DNA untuk dicocokkan dengan DNA Urwah. Sehingga, proses identifikasi harusnya sudah bisa diselesaikan.

Taufiq menyatakan hingga kini belum ada kejelasan dari pihak Polri. Hanya saja, diharapkan dalam pekan depan jenazah sudah bisa dijemput kembali.

Sementara, terkait melunaknya sikap warga Desa Mijen yang mengizinkan jenazah Bagus dimakamkan di pemakaman Bulu desa setempat dengan beberapa persyaratan, Taufiq sangat bersyukur. Sebab, dengan demikian tidak ada lagi pro kontra akibat pemakaman Urwah.

Terpisah, Kepala Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus (Jateng) Sujono mengungkapkan, sebelumnya warga memang masih bersikeras menolak jenazah Urwah ke Kudus. Apalagi, status Urwah sendiri saat ini sudah bukan warga Desa Mijen lagi karena sudah pindah ke Solo karena menikah. Namun, dalam mediasi yang dilakukan, Sabtu (26/9), pihak keluarga memohon dengan sangat agar Urwah bisa dimakamkan di tempat kelahirannya. Keluarga pun menyadari dan meminta maaf jika perbuatan Urwah semasa hidupnya tidak berkenan di hati warga. ”Dengan dasar tersebut, warga akhirnya menerima  dengan sejumlah syarat,” kata Sujono.

Menurut Sujono, beberapa syarat tersebut diantaranya dalam prosesi pemakaman nanti, jenazah tidak boleh disambut bak pahlawan Mujahid. Proses pemakaman pun harus sebagaimana prosesi pemakaman warga desa lain.

Sujono juga mengungkapkan, keluarga untuk  tidak mendatangkan Ustad Abu bakar Baasyir maupun massa Front Pembela Islam (FPI) dalam pemakaman tersebut. Kalaupun mereka hadir, Baasyir dilarang memimpin prosesi maupun memberi sambutan. Kedatangan mereka harus sebagaimana pelayat lainnya. ”Untuk proses pemakaman, akan dilakukan oleh perangkat desa dengan menggunakan Modin dari desa,” kata Sujono. (banyumasnews.com/tgr)

Foto :

Tentang Penulis

Leave A Response