Dia diminta, bukan meminta jabatan

Oleh: Puad Hasan Dipaleksana *)

“Anda itu lurah kun fayakun” begitu Pak Camat mengomentari keterpilihan seorang ustadz, guru madrasah diniyah (sekolah agama sore) di sebuah desa. Namanya memang sama sekali tidak diperhitungkan saat kampanye. Dia underdog, hanya pelengkap di antara dua calon lain yang rivalitasnya sampai ke telinga para pejabat di kecamatan bahkan kabupaten.

Salah satu calon adalah ketua DPC partai besar dimana ketua DPD-nya menjadi bupati. Pencalonannya pun konon atas restu bupati, demi -saat itu- pemenangan pileg dan pilpres 2009 di desa yang secara tradisi adalah ‘desa abang’. Satu calon lagi tokoh yang sudah malang melintang di pemerintahan desa: ketua LKMD, BPD, dan jabatan lain pernah disandangnya. Sedangkan dia hanya seorang yang giat di pertanian, petani, yang karena bekal ilmu dari sebuah pesantren di Kaliwungu Kendal, sorenya mengabdi sebagai guru/ustadz di madrasah khusus agama.

Bayaran sebagai ustadz yang saya tahu hanya sekitar 50 – 75 ribu sebulan (angka yang tidak dapat dijadikan alasan orang untuk mau mengajar, tapi begitulah, masih banyak guru2 agama yang mau mengajar karena se-mata2 ikhlas niat beramal lillahi ta’ala, mengharap ridlo Allah. Materi tidak memiliki nomor urutan prioritas -tidak dibayar pun tidak mengapa. Sungguh malu ketika kita tidak bisa berbuat sesuatu, menyisihkan sedikit rizki untuk pemeliharaan sarana pun hanya sekali-sekali, bahkan mungkin tidak terpikir sama sekali karena menganggap itu urusan pemerintah).
Sang ustadz pun diminta oleh warga lingkunganya untuk maju ‘nyalon’ lurah. Dia awalnya ragu, karena tidak punya uang.

Untuk jadi calon harus punya uang untuk mendaftar, mendanai tim sukses, dan menyediakan konsumsi para tamu yang ingin men-support pencalonannya (untuk hal ini ada yang berpindah dari rumah calon satu ke rumah calon lain demi bisa makan enak dan rokok gratis). Namun sang ustadz dari awal meminta komitmen kepada yang mencalonkan: kalau mau apa adanya, saya siap maju. Tidak ada dana untuk tim sukses, kalau kumpul2 di rumah pun tidak ada makanan enak, cukup dari hasil ladang: ubi2an, pisang, dll. Jadi sang calon yang justru minta komitmen kepada pendukung, bukan warga yang minta komitmen pada calon untuk, misalnya, tidak korupsi. Ini tentu karena kepercayaan yang sedemikian tinggi kepada sang ustadz.

Demikianlah, di tengah hiruk pikuk rivalitas antara calon dari politisi dan tokoh berpengalaman di lembaga desa, ditunjukan dengan banyaknya poster dan spanduk, tim sukses sukarelawan (benar2 relawan) sang ustadz bekerja tanpa terlihat di permukaan. Silent movement. Kalau di pasar dan tempat nongkrong warga nama sang ustadz sama sekali jarang disebut. Tapi ‘endong syistem’ tim sukses bekerja cukup rapi. Dan, sejatinya, warga pun sudah punya preferensi rekam jejak ketiga calon, mana yang terbaik dan ikhlas akan mengabdi. Tanpa diberitahu, mereka sudah mengamati sendiri tingkah laku calon2 di tengah masyarakat. Kalau hati sudah berbicara, uang tidak lagi berguna (untuk membeli suara mereka).Dan tanpa banyak publikasi keluar, tanpa diduga oleh kebanyakan orang, dia sang ustadz unggul. Kun fa yakun… Demikianlah Allah berkehendak dia jadi lurah.

Sampai sekarang aktifitas bertani tetap dijalankan, sepulang dari kantor atau di hari libur. Dan setelah menjadi lurah undangan berceramah agama (pengajian) justru makin banyak. Dia penuhi undangan berceramah tanpa mengganggu pelayanan kepada warga.
Ketika akhirnya duduk, dia tidak sungkan belajar pada mantan lurah dan lurah2 desa tetangga. Tidak malu dan gengsi bertanya. Tidak ada dalam pikirannya bahwa jabatannya membatasi dirinya untuk berlaku normal seperti biasanya. Dia ingin seperti sedia kala, akrab dengan siapa saja.
Mungkin dia sedikit contoh yang baik, di tengah perebutan jabatan yang marak. Levelnya memang berbeda, tapi pesan moralnya tetaplah sama. Jabatan janganlah diminta, tapi jabatan yang meminta (karena kriterianya yang pas) seseorang untuk mendudukinya. Kini, atas nama power sharing (belakangan ada yang memperhalus: responsibility sharing) jatah menteri ini dan itu diminta!

Kampoeng Galoehtimoer, 26 Sept 09

*) Puad Hasan Dipaleksana ,penulis lepas tinggal di Purwokerto

Puad Hasan Dipaleksana
Puad Hasan Dipaleksana

1 Comment

  1. sebuah suri tauladan, sementara banyak manusia berlomba lomba mencari jabatan dengan segala cara baik jabatan politik, jabatan sosial, PNS, pegawai swasta, ini adalah sebagai contoh tempat kita berkaca ……..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.