50 tahun Ibu Soemadi berjualan Kue Serabi

Ditulis 26 Sep 2009 - 18:22 oleh Banyumas1

KUE serabi bikinan Ibu Achmad Soemedi (70) yang beralamat di Jalan Bank Purwokerto sejak setengah abad silam hingga kini masih dijadikan jajanan favorite oleh para pemudik dari penjuru nusantara yang pulang ke Purwokerto. Uniknya, para pembeli rela mengantri berjam-jam setelah dirinya didaftar nama dan jumlah pesanannya sesuai nomor urut layaknya pasien yang berobat di sebuah klinik.

Seperti diakui Eko Prayitno seorang karyawan dari sebuah perusahaan tambang batu bara di Samarinda Kalimantan Timur. Dia salah atu pemudik yang pagi itu tengah mengantri serabi. Menurut Eko, sejak jam 05.30 WIB dia sudah didaftar dan mendapat nomor urut 12. Namun baru mendapatkan kue serabi pesanannya setelah satu jam menunggu. Selama menunggu itu justru merupakan suasana yang membuatnya berkesan. Seperti terkenang pada masa silam sekitar tahun 1977 dirinya juga pernah mengantri serabi bikinan Bu Soemedi.

“Selain faktor comunity juga selama mengantri kita bisa bertemu kawan lama dengan suasana kota Purwokerto yang tetap nyaman menjadi sisi lain yang membuat kita selalu ingin datang kesini untuk membeli serabi setiap mudik ke Purwokerto, di samping faktor kenikmatan kue serabi itu sendiri tentunya,” kata Eko kepada banyumasnews.com .

Bu Soemadi sibuk melyani pembeli Serabi (foto:ham/BNC)

Bu Soemadi sibuk melyani pembeli Serabi (foto:ham/BNC)

Membeli Serabi Bu Soemadi harus rela antre (foto:ham/BNC)

Membeli Serabi Bu Soemadi harus rela antre (foto:ham/BNC)

Dituturkan Ibu Soemadi saat ditemui banyumasnews.com di rumahnya, nenek dengan empat cucu ini lupa-lupa ingat kapan pastinya ia dan almarhum suaminya mulai berjualan serabi. Hal yang masih diingat, ia dan suaminya mulai berjualan serabi sejak awal berumah tangga, sedangkan kini anaknya yang ketiga, Sutrisno sudah berumur 49 tahun. Berarti usaha yang dijalankan sudah lebih dari 50 tahun.

“Awalnya saya membuat serabi hanya untuk melayani para penjual kue keliling dan hanya berjualan di rumah,” kata Ibu Medi.

Semakin lama, lanjut Bu Medi, para tentangga berdatangan ikut memesan serabi termasuk ibunya dokter Dewi Yani datang ke rumahnya. Selang beberapa hari, dokter Dewi menawarkan agar Bu Medi memasang tenda untuk berjualan di jalan bank sebelah utara rumah dokter Dewi. Alasannya, jalanan itu bagian dari tanah miliknya. Sejak itulah Bu Medi setiap jam 04.00 WIB hingga sekitar jam 08.00 WIB berjualan serabi di jalan bank sehingga akhirnya dikenal serabi jalan bank.

Diakuinya, awal berjualan serabi hanya menghabiskan bahan baku berupa beras sekitar 7 kilogram setiap hari. Sedangkan harga serabi semula Rp 25, kemudian Rp 50 dan meningkat menajdi Rp 75 perpotong. Kompor yang digunakan untuk memasak hanya empat buah, sedangkan untuk menumbuk beras hingga menjadi tepung masih dengan proses manual yaitu menggunakan alat tumbuk dari batu (lumpang). Untuk memarut kelapa masih menggunakan parutan tradisional. Agar tidak basi, Bu Medi mulai memarut kelapa sejak jam 02.00 WIB dini hari.

“Alhamdulillah kini harga serabi sepuluhkali lipatnya, bahkan sudah memiliki mesin penggiling tepung dan kelapa sendiri, sedangkan untuk memarut kelapa dalam jumlah banyak bisa dilakukan sehari sebelumnya dan tidak kawatir menjadi basi karena sudah ada kulkas,” akunya.

Menurutnya, selama bulan puasa ia tidak berjualan. Begitu sehari setelah lebaran (H + 1) dia mulai berjualan dengan dibantu lima karyawan dan dua putranya yang tengah mudik lebaran. Pada saat itulah sebagaimana pantauan banyuamsnews.com para pemudik dengan rela mengantri serabi setelah namanya didaftar sesuai nomor urut kedatangan. Harga serabi yang biasanya Rp 750 selama musim mudik naik menjadi Rp 1.000 perpotong. Selama dua hari setelah lebaran, Bu Medi dapat menghabiskan bahan baku beras sebanyak 35 kilogram perharinya. Sedangkan pada hari biasa menghabiskan beras sekitar 15 kilogram perhari.

“Sebenarnya saya tidak enak dengan harga segitu, tapi khusus untuk para pemudik mereka tidak keberatan, nanti lima hari setelah lebaran kembali ke harga normal. Karena pembelinya dan para pelanggan dari warga sekitar,” sela Bu Medi menjelaskan.

Sejak enam bulan lalu, pangkalan tempat berjualan serabi dan jajanan lain sudah pindah di depan gedung tua bekas pabrik sabun tepatnya di sebelah utara Museum BRI di Jalan Bank nomor 1, sebrang barat dari tempat berjualan semula.

Sebagaimana pantauan banyumanews.com pada hari kedua setelah lebaran, para pemudik yang mengantri cukup banyak. Para karyawan Bu Medi juga dua putranya turut membantu melayani para pembeli. Selain berjualan serabi dan mendoan tempe, kini juga tersedia nasi rames dengan lauk ayam goreng dan serba aneka jajanan lainya. Tersedia juga buntil dan susu kedelai serta minuman kesehatan seperti kunir asem. Penasaran ingin mencoba serabi di Jalan Bank? Daftar dulu dan sabar mengantri baru bisa merasakan sedapnya aroma dan manisnya kue serabi bikinan Bu Soemadi. (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. adang 16/03/2012 pukul 10:23 -

    ada menu apa j,tahan berapa lama kl bt oleh2

  2. Miswanto 25/05/2010 pukul 15:01 -

    Saya pingin tahu cara membuatnya serta resepnya. karena saya pingin merasakan serabi karena udah lama ga makan serabi maklum saya sekarang tinggal di jakarta. susah cari serabi

Leave A Response