Kapolda: Masyarakat harus kecam teroris

Ditulis 25 Sep 2009 - 23:37 oleh Banyumas1

SOLO – Menyusul terjadinya aksi penolakan penguburan jenazah teroris di Kudus, Solo dan Purbalingga, Kapolda Jateng Irjen Pol Drs Alex Bambang Riatmodjo menyatakan sangat bersimpati dengan masyarakat yang menyuarakan perlawanan terhadap para teroris. ”Sebaiknya memang begitu. Masyarakat juga harus memberikan kecaman keras terhadap aksi-aksi terorisme, jangan justru mendukung,” kata Kapolda, Jum’at (26/9).

Menurut Kapolda, siapapun boleh menyampaikan pendapatnya, asal mengikuti prosedur dan mendapatkan izin. Termasuk soal pemasangan spanduk-spanduk penolakan penguburan mayat teroris, itu hak masyarakat untuk menolak. Polisi tidak mempermasalahkannya. Namun, lanjut Kapolda, apabila terjadi konflik karena ada perlawanan dari pihak-pihak yang mendukung aksi terorisme, Kapolda berjanji akan mencermati dan memprosesnya secara hukum.

”Kalau misalnya mereka mencopoti spanduk-spanduk tersebut padahal spanduknya berizin, itu dikategorikan pencurian. Kalau dibakar, bisa masuk pasal perusakan. Kita akan tindak sesuai prosedur hukum,” tegas Kapolda.

Belakangan muncul spanduk-spanduk penolakan penguburan mayat teroris bertebaran di Solo. Tak lama di pasang, spanduk-spanduk tersebut dicopot paksa oleh massa di antaranya dari Front Pembela Islam (FPI) Solo. Saat ini, 6 pelaku pencopotan dan perusakan ditangkap aparat Poltabes Surakarta dan diproses hukum.

Kapolda juga menyesalkan adanya pernyataan pihak-pihak tertentu yang secara terbuka memberikan simpati atau bahkan mendukung gerakan terorisme. Tindakan tersebut justru akan menyuburkan aksi-aksi terorisme di Indonesia.

Terorisme, lanjut Kapolda, adalah perbuatan sadis dan biadab, yang meresahkan seluruh masyarakat di Indonesia. Karena itu pihaknya meminta agar jangan ada pihak yang memberikan pernyataan yang isinya simpati atau dukungan terhadap para pelaku terorisme, termasuk beberapa teroris yang tewas baru-baru ini. ”Seperti TPM (Tim Pembela Muslim) misalnya, boleh bersuara keras di persidangan pengadilan tapi jangan lewat media-media,”kata Kapolda.

Kapolda menyarankan, seharusnya ada undang-undang yang melarang pernyataan simpati atau dukungan pada gerakan terorisme yang disampaikan secara terbuka, baik melalui pernyataan maupun tulisan, spanduk dan sebagainya. ”Harus ada sanksi hukum terhadap siapapun yang berbuat seolah-olah setuju dengan aksi-aksi teror tersebut dengan alasan atau dalih apapun,” kata Kapolda.

Kedatangan Kapolda di Solo, Jum’at (25/9) menyusul adanya rencana unjuk rasa besar-besaran dari massa pendukung aksi-aksi terorisme. Sebanyak 535 anggota Poltabes Surakarta dan Brimob disiagakan untuk mengamankan aksi tersebut. Namun hingga pukul 17.00 WIB, belum ada aksi unjuk rasa tersebut. ”Saya ke sini karena mendengar ada kabar akan ada aksi unjuk rasa besar-besaran yang mendukung aksi terorisme. Karena itu saya juga harus siaga,” tandas Kapolda. (banyumasnews.com/tgr)

Kapolda Jateng Irjen Pol Bambang Alex Riatmojo

Kapolda Jateng Irjen Pol Bambang Alex Riatmojo

Tentang Penulis

Leave A Response