Atasi sedimentasi, petani di-SL-kan

foto sekolah lapangan
Model pengajaran dan pelatihan ala sekolah lapangan

Sebagai upaya mengatasi sedimentasi (pengendapan Lumpur) yang semakin parah di Bendungan Mrica, Pemkab Banjarnegara melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan bekerja sama dengan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Mrica–Banjarnegara menyelenggarakan Sekolah Lapangan bagi para petani di Desa Kubang Kecamatan Wanayasa dan Desa Leksana Kecamatan Karangkobar.
Dalam Sekolah Lapangan (SL) ini, para petani dididik untuk ramah lingkungan sehingga erosi tanah yang disebut-sebut sebagai biang keladi sedimentasi bisa diminimalisasi.
Saat meninjau lokasi Sekolah Lapangan di Desa Kubang Kecamatan Wanayasa, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Syamsudin SPd MPd meminta agar para petani untuk menyebarluaskan ilmu yang didapatkannya secara cuma-cuma itu kepada para petani lainnya. Sebab selain bermanfaat untuk mengurangi erosi dan sedimentasi, jika ilmu tersebut diterapkan juga bisa meningkatkan ekonomi para petani.
Menurut salah satu fasilitator dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Setyawan Pambudi, dalam SL ini petani diajarkan cara membuat kompos, pupuk bokashi, pengolahan tanah, hingga pembibitan kopi. Dari pembuatan pupuk yang berasal dari limbah pertanian yang sangat mudah mereka dapatkan itu, para petani tidak perlu lagi tergantung dengan pupuk subsidi sehingga menghemat pengeluaran mereka.
Tanah mereka juga menjadi lebih subur, hasil pertanian lebih sehat dan berlimpah karena pupuk yang mereka gunakan sama sekali tidak mengandung unsur kimia berbahaya.
Dalam SL, petani diajarkan pembibitan kopi. Selain pohon kopi diharapkan bisa menjaga tanah agar tidak longsor, harga kopi kualitas ekspor seperti Arabica juga bisa menjadi sumber penghasilan menggiurkan bagi para petani.
Indopower
Keinginan Pemkab Banjarnegara untuk mengatasi erosi dan sedimentasi memang gayung bersambut dengan PT Indonesia Power. Selama ini Pemkab terkendala dana mengingat APBD Kabupaten Banjarnegara sangat terbatas. Sementara, sangatlah naïf jika hanya bergantung dengan bantuan Pemerintah Pusat maupun provinsi. Di sisi lain, PT Indonesia Power sebagai penyandang dana, membutuhkan partner untuk mengatasi sedimentasi yang berbahaya bagi kelangsungan pembakitan listrik.
“Sebenaranya, dulu kami punya program Jumpa Bhakti Alam Raya (Jambalaya) untuk mengatasi masalah lingkungan tapi hasilnya belum maksimal. Akhirnya kami melihat kalau di Saguling Kabupaten Bandung Jawa Barat, Sekolah Lapangan justru bisa memberikan solusi dari segala permasalahan lingkungan. Jadi, kami mencobanya di Banjarnegara bekerja sama dengan Pemkab,” ujar Manajer Humas PT Indonesia Power UBP Mrica, Gunawan.
SL yang menelan biaya hingga Rp 100 juta ini untuk tahap awal memang hanya mengambil dua desa di dua kecamatan tadi. Namun, jika SL ini berhasil, Pemkab dan Indonesia Power akan membuat SL di seluruh daerah tangkapan air se-Kabupaten Banjarnegara. Tak hanya itu, untuk mendukung kegiatan ini, PT Indonesia Power juga memberangkatkan utusannya, perwakilan Dinhutbun, peserta SL dan Satgas PGRI untuk studi banding ke Medan Sumatera Utara. Satgas PGRI ini dilibatkan untuk menjamin kegiatan tetap berlanjut meskipun SL telah tuntas 10 kali pertemuan sesuai yang ditargetkan.(banyumasnews.com/est)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.