Warga tolak jenazah Urwah dimakamkan di desa asalnya

Ditulis 22 Sep 2009 - 19:37 oleh Banyumas1
Bagus Budi Pranoto alias Urwah tersangka teroris (foto:dok/BNC)

Bagus Budi Pranoto alias Urwah tersangka teroris (foto:dok/BNC)

SOLO – Senasib dengan jenazah teroris Adib Susilo yang ditolak oleh warga di kampung asalnya di Kabupaten Sragen (Jateng), jenazah Bagus Budi Pranoto alias Urwah yang tewas dalam penggrebekan Tim Densus 88 di Kampung Kepuhsari, Desa Mojosongo, Jebres, Kota Solo, juga ditolak oleh warga tempat asalnya di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Penolakan terutama datang dari pemuda desa yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Mijen. Sementara jenazah Mustam Husamudin siap diterima warga di Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari, Purbalingga (Jateng).

Ketua Karang Taruna Mijen Mbarsidi mengatakan, penolakan terhadap Jenazah Urwah karena yang bersangkutan bukan lagi menjadi warga Desa Mijen. Urwah sudah tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Desa Mijen.

“Urwah memang dilahirkan di Mijen. Namun, sejak sekolah Urwah tidak memiliki KTP Mijen. Hal ini diperkuat dengan tidak dicantumkannya nama Urwah dalam kartu keluarga (KK) orang tuanya,” kata Mbarsidi, Selasa (22/9).

Sementara itu, meski ada penolakan warga, keluarga Urwah tetap melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangan jenazah. Pihak keluarga sudah menyiapkan tempat pemakaman di pemakaman umum Bolu, Kudus. Perwakilan keluarga juga telah berangkat ke Jakarta , Selasa (22/9) untuk mengambil jenazah Urwah di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Juru bicara keluarga Urwah, Taufiq Ahmad mengatakan, pihaknya bersama ayah Bagus, Ismanto berangkat ke Jakarta , Selasa (22/9) sore. “Kami berangkat ke Jakarta untuk mengambil jenazah Urwah karena ada surat pemberitahuan dari Mabes Polri. Keluarga berharap, proses pengambilan jenazah tidak ada hambatan, sehingga bisa segera dibawa pulang,” kata Taufiq.

Ahli Bom Lulusan Madrasah

Siapa sebenarnya Urwah alias Bagus Budi Pranoto ?. Urwah ternyata memegang posisi penting dalam jaringan Noordin M Top. Urwah yang ahli merakit dan membuat bom ternyata hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Urwah yang memiliki nama kecil Bagus Budi Pranoto lahir pada 2 November 1978 .  Dalam daftar kartu keluarga nomor 111901/13/00259 yang dibuat pada tahun 2006, Bagus  mengajukan surat pindah ke Kadokan RT 04 RW 01, Grogol, Sukoharjo Jawa Tengah, karena menikah pada bulan Januari tahun 2007.

“Bagus memang saya akui kelahiran Mijen, Kaliwungu Kudus namun sudah pindah pada bulan Januri tahun 2007 ke Grogol Sukoharjo,” kata kepala Desa Mijen, Sujono.

Pada daftar Kartu Keluarga yang baru nama Bagus sudah tidak tercantum lagi. Di Kartu Keluarga yang baru tersebut hanya tercantum nama bapak, ibu, dan Adik dari Bagus Budi Pranoto.

Bagus mengawali pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’rifatul Ulum 01 Desa Mijen. Bagus tercatat sebagai murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’rifatul Ulum 01 mulai tahun 1984 dengan no Induk 1246 dan lulus pada tahun 1989.

“Saat di sekolah, prestasinya tidak terlalu menonjol. Hanya saja dalam bidang agama, Bagus tergolong murid cukup pintar karena latar belakang keluarganya yang taat,” tutur Fathoni, salah seorang guru MI, tempat Urwah menimba ilmu.

Begitu lulus dari MI, Bagus pun melanjutkan pendidikan agama di Ponpes Al Mutaqim Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Diduga, di pesantren inilah ideologi fundamentalis dari Bagus berkembang.

Terkait keterlibatan Bagus dalam jaringan teroris, menurut juru bicara keluarga Taufiq Ahmad, diduga terjadi selepas dia lulus dari pesantren. Namun, Taufiq tidak menyebutkan secara rinci bagaimana dia bisa terlibat dalam gerakan radikal tersebut.

”Ketika itu kami sudah mulai jarang ketemu. Hingga akhirnya Bagus ditahan di LP Cipinang karena terlibat dalam pengeboman Kedubes Australia pada 2004 lalu,” ujar Taufiq yang mengaku kenal dekat keluarga Bagus.

Kuat dugaan kalau Bagus memperoleh pengetahuan membuat bom langsung dari DR Azhari. Ini cukup logis mengingat saat ditahan, Bagus dikenai tuduhan menyembunyikan DR Azhari sebelum akhirnya tewas ditembak di Batu, Malang, Jatim.

Soal kemampuan Bagus sendiri yang tergolong murid tidak terlalu pintar, Taufiq mengungkapkan untuk bisa membuat bom, tak membutuhkan orang yang terlalu pandai. Siapapun yang belajar satu atau dua hari, dipastikan langsung bisa merakit bom.

Namun, Taufiq sendiri tidak menyangka jika setelah keluar dari LP Cipinang, Bagus ternyata kembali bermain lagi. Padahal teman-teman Bagus saat di Cipinang seperti Abu Bakar Baasyir, maupun Abu RUsydan sudah berbeda pandangan dengan Bagus. ”Saya kira selepas dari penjara, pandangan Bagus mulai berubah. Tapi ternyata dia masih melibatkan diri dalam jaringan Noordin,” kata Taufiq. (banyumasnews.com/tgr)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Iklan Gratis 26/09/2009 pukul 19:56 -

    sebetulnya apa sih yang mendasari penolakan pemakaman para teroris???

    bukankah dengan menerima pemakaman tersebut bisa membuat nama kampung tersebut jadi baik.
    sehingga orang menilai bahwa warga desa tersebut tidak seperti teroris, karena mereka menerima dan memaafkan orang yang telah berbuat dosa, bukankah ini yang diperintahkan oleh agama kita, bahwa saling bermaaf2an bisa membuat hidup kita lebih tenang dan rukun.

    Iklan Gratis

Leave A Response