Catatan kunjungan siswa SMP Negeri 1 Purbalingga ke Singapura

Ditulis 21 Sep 2009 - 16:07 oleh Banyumas1
Kami berlima menimba ilmu di Singapura (foto: dok SMPN 1 PBG/BNC)

Kami berlima menimba ilmu di Singapura (foto: dok SMPN 1 PBG/BNC)

Suasana perpustakaan di Singapura (foto:dok SMPN 1 PBG/BNC

Suasana perpustakaan di Singapura (foto:dok SMPN 1 PBG/BNC

TAHUN Pelajaran 2009 -2010 ini, SMP Negeri 1 Purbalingga memasuki tahun ke tiga menjalin kerjasama dengan sekolah di luar negeri. Setelah Bukit Panjang Government High School Singapore dan Turki, jalinan kerjasama juga kembali dibangun dengan beberapa sekolah di Singapura.  Keinginan untuk menjadi bagian global citizen bukanlah lagi sebuah mimpi yang tak terwujud.

Belum lama ini, SMP Negeri 1 Purbalingga mengirimkan 5 (lima) orang siswa dan 3 (tiga) orang pendidik untuk mengadakan kunjungan belajar ke BPGHS Singapura, YISS ( Yusof Ishak Secondary School ), Anglican High School, Dunearn High School.  Berikut beberapa catatan yang sempat ditulis oleh Triana Apita, Taranida Hanifah, Arinal A,    Nurendra, dan  Reyhan   .

Seperti kesan yang tertanam pada  diri setiap orang, kamipun menyaksikan betapa Singapura adalah negeri yang bersih, sejuk, dan jauh dari kata ‘semrawut’.   Kesan ini semakin kuat tertanam dalam hati kami, saat berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah para Singaporean. 

YISS ( Yusof Ishak Secondary School )

Dibangun pada tahun 1965, terletak di kawasan Bukit Batok.  Nama sekolah diambil dari nama presiden pertama Singapore, Yusof Ishak.  Sama halnya sekolah-sekolah di Indonesia, sekolah ini juga mempunyai beberapa program CCA ( Co-Curiculum Activities ) atau  kegiatan ekstrakurikuler.  Selain CCA, di sini juga ada program semacam PENSI, hanya bernama PAP ( Performing Arts Programs ).

Sekolah ini mempunyai program special, yaitu MATH MADE EASY dan LIFE SCIENCE PROGRAMS.  Menerapkan  program moving class, jadi setiap anak bebas menentukan mata pelajaran yang mereka senangi, hanya hal ini berlaku selama 1 tahun, apabila anak sudah naik kelas, maka dia akan memilih mata pelajaran lagi. 

Yusof Ishak Secondary School selalu mengadakan pameran  untuk hasil karya seni para murid.  Setiap anak yang sudah menginjak grade 3 diwajibkan untuk memilih kelas jurusannya, Science atau Humanity. Science meliputi Physic, Biology, Biology-Chemic dan Physic-Chemic. 

Ada 3 program kelas : Express Class, Normal Academical Class, dan Normal Technical Class.  Jam belajar dari jam 08.00 sampai 14.00, kemudian dilanjutkan kegiatan CCA, biasanya sampai jam 16.00 atau 17.00. 

Budaya positif yang menjadi kebanggaan para Singaporean, juga siswa-siswa di sekolah ini adalah mereka selalu membuang sampah pada tempatnya, saling membantu jika ada anak yang kesulitan, dan mereka selalu ramah satu sama lain dan sangat sopan terhadap setiap tamu yang datang. 

Anglican High School

Dibangun sekitar tahun 1960, dan mengalami pemugaran beberapa kaliKebanyakan anak yang bersekolah di sekolah ini adalah keturunan China.  Program di sekolah ini sama dengan program di BPGHS, hanya saja sekolah ini tidak tergabung dalam EMAS.  Setiap kelas muridnya rata-rata berjumlah 40 siswa.  Walaupun kebanyakan dari murid-murid di sekolah ini keturunan China, mereka tidak bersikap eksklusif, karena Singaporean sudah terbiasa hidup dalam keberagaman. 

Mereka juga membiasakan budaya antre, inilah yang kami lihat di kantin AHS, sangat berbeda dengan anak-anak yang berada di kantin sekolah kami, yang berdesak-desakan tidak mau mengalah. 

Banyak anak-anak Anglican High School yang gemar membaca, hal ini terbukti dari perpustakaan sekolah yang selalu dipenuhi pengunjung, bahkan beberapa anak memilih perpuatakaan untuk tempat mengerjakan tugas dan berkumpul dengan teman-teman mereka.  Penyebab anak suka membaca salah satunya adalah fasilitas perpustakaan yang memadai, koleksi buku yang lengkap, dan tempat yang nyaman

Dunearn Secondary School

Memiliki program yang sama dengan Anglican High School.  Anak-anak Dunearn memiliki antusias yang baik apabila mereka menemukan sesuatu yang baru, seperti saat rombongan dari Indonesia datang ke sekolah ini, mereka begitu antusias menyambut rombongan kami. 

Anak-anak Dunearn Secondary School sangat sopan, hal ini dapat dibuktikan saat mereka melayani tamu dari Indonesia, bahkan mereka bersedia mengantar tamu ke kamar kecil dan mereka mau menunggu.  Cara berpakaian mereka rapi, walau rok anak perempuan pendek, mereka tetap menjaga kerapian mereka, seperti sepatu, kaus kaki, dan seragam mereka yang tidak keluar.  Mereka juga menjaga kebersihan, baik kelas maupun halaman sekolah. 

Setelah berkesempatan mengunjungi ke empat sekolah tersebut, kami berangan-angan andai saja budaya-budaya positif itu juga kita temukan di sekolah-sekolah di Purbalingga, pastilah akan sangat membanggakan.  Bagaimana Tata Tertib yang sudah dibuat dipatuhi oleh semua warga sekolah tanpa kecuali, budaya bersih yang dimiliki oleh semua warga sekolah, bagaimana keramahan dan kesopanan menjadi bagian pribadi yang melekat pada setiap diri siswa didik, kreativitas yang mendapat ruang cukup untuk dikembangkan, rasa bangga dan cinta pada budaya bangsa sendiri, hubungan sosial diatas segala keberagaman yang harmonis, tolong menolong,  dan keinginan untuk selalu belajar dan belajar. 

Berdasarkan pengalaman tersebut di atas, sangat memungkinkan untuk menularkan budaya-budaya positif tersebut di kabupaten tercinta ini.  Asal, dukungan sekolah, pemerintah, masyarakat dan keluarga, menjadi sebuah sinergi untuk siap melakukan sebuah perubahan.  (dilaporkan:,Pipit, Taranida, Arinal, Rendra, dan Rere, siswa SMP Negeri 1 Purbalingga).

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. A Triyanto 14/12/2009 pukul 21:08 -

    Smoga bisa menginspirasi pelajar yg lain bahwa untuk bisa mencicipi pendidikan di dunia maju tidak harus berawal dari kemapanan keluarga dalam ekonomi. SMP Negeri 1 Purbalingga memberi contoh bahwa dari para siswa yg dikirim ke Singapore satu di antaranya adalah anak tukang jahit yang sangat bersahaja. ( sederhana dalam hal ekonomi ).

  2. A Triyanto 07/11/2009 pukul 09:58 -

    Tambahan pengalaman ke luar negeri mestinya membawa perubahan pada mindset para peserta. Dengan mindset tersebut kita bisa menggunakannya untuk bisa memberi keteladanan kepada semua pihak

  3. da 07/10/2009 pukul 06:17 -

    wah… selamat ya berkesempatan tour sambil belajar (atau belajar sambil tour) ke negeri SInga… Smoga kelak sukses ya dik…

Leave A Response