Purbalingga Dalam Tuntutan Perubahan

Ditulis 21 Sep 2009 - 15:46 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
153
Dalam Tag

Oleh: Sarjono Sarjono S

PURBALINGGA dalam tuntutan perubahan? Sebuah pertanyaan yang dapat dinilai mengagetkan, atau juga dapat dikategorikan ekstem. Sebab kata “perubahan”, memang sering mengusik perasaan dan menimbulkan ketidaknyamanan. Orang banyak pun tentu akan merasa tidak nyaman ketika ada pendapat, bahwa Purbalingga harus berubah, atau setidaknya berada pada posisi tuntutan untuk berubah.

Pendapat itu tentu dilandasi hallo effect selama ini yang menganggap Purbalingga sedang mengalami masa keemasan, zaman kejayaan, atau sedang gencar-gencarnya membangun dengan berbagai terobosan yang menakjubkan. Kehebatan Purbalingga pun sudah diakui secara luas, baik oleh masyarakat di wilayah kabupaten sekitar, maupun secara formal oleh pemerintahan tingkat provinsi, pusat, atau juga departemen dan lembaga-lembaga nonpemerintah.

Penduduk kabupaten sekitar merasa wilayahnya tiba-tiba tertinggal oleh kebangkitan Purbalingga beberapa tahun terakhir. Kenyataan itu menyebabkan mereka sering menuntut agar pemerintah kabupatennya mengikuti dan mencontoh Purbalingga dalam melaksanakan program pembangunan.

Adapun oleh pemerintah, Purbalingga dianggap sukses melaksanakan berbagai program, sehingga layak menerima berbagai penghargaan. Bidang pangan, kesehatan, pendidikan, investasi, dan lain-lain, pernah mendatangkan penghargaan dari berbagai pihak. Demikian pula dalam membuat kejutan dengan berbagai kreasi, telah menghasilkan begitu banyak rekor MURI.

Di sisi lain, hasil pembangunan juga sudah diakui oleh badan dunia yang selalu mengadakan penilaian keberhasilan pembangunan suatu wilayah, yaitu UNDP. Lembaga ini mengukur Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara berkelanjutan. Data menunjukkan, IPM Kabupaten Purbalingga senantiasa bergerak naik, dari posisi ke-33 tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2002, hingga menempati posisi ke-18 pada tahun 2006. Demikian pula usia harapan hidup yang pada tahun 2001 baru mencapai 65,6 tahun, pada tahun ini sudah di atas 69 tahun. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa Purbalingga telah berhasil meningkatkan kualitas hidup rakyat secara signifikan.

Seluruh keberhasilan di atas tidak lepas dari berbagai gebrakan pemerintah kabupaten yang inovatif dalam melaksanakan kebijakan. Sebagaimana disebutkan dalam Best Practices Kebijakan Pembangunan Purbalingga, banyak program yang merupakan inovasi, antara lain Padat Karya Pangan (PKP), PSPR Gakin, JPKM, Desa Sehat Mandiri (DSM), DAU Desa/Kelurahan, Puspahastama, Kawasan Industri Kompos Kandang Unggulan (KIKKU) dan One Stop Service Perijinan Usaha dan Investasi.

Semua program inovatif tersebut telah mendukung empat pilar pembangunan yang sejak awal dicanangkan, yaitu pendidikan dan agama, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan pembangunan perdesaan.

Tuntutan perubahan

Kendati berbagai prestasi sudah dicapai, kemajuan sudah diperoleh, dan decak kagum dari berbagai pihak sudah didengar, tetapi Pemerintah Kabupaten Purbalingga tentu tidak boleh terlena. Penghargaan dan pujian tidak boleh menjadikan hidup kita terlena, apalagi hal itu pasti tidak akan abadi. Kesuksesan itu diraih dengan pengaruh berbagai faktor, baik kondisi internal pemerintahan, maupun situasi eksternal yang melingkupi. Kondisi internal antara lain faktor kepemimpinan. Nah, dalam kaitan ini, ketidakabadian pasti terjadi, karena kepemimpinan memiliki durasi yang pasti, lima tahunan. Pada tahun ini, kepemimpinan di Purbalingga sudah memasuki masa-masa akhir, sehingga semua harus siap menghadapi episode berikutnya. Dan karenanya, perubahan, setidaknya berfikir untuk berubah, adalah keniscayaan yang pasti harus dilakukan, karena menurut Rhenald Kasali (2008) dalam hidup hanya ada dua kemungkinan, yaitu berubah atau diubah!

Belajar dari sejarah, pakar manajemen itu mengilustrasikan bagaimana proses kehancuran kerajaan kerajaan kita dan bangsa di dunia. Kerajaan Sriwijaya yang sangat kuat, karena lengah, antara lain sibuk dengan penyerangan ke Mataram, maka kesempatan bisnisnya diambil alih China. Hancurlan Sriwijaya. Demikian pula Majapahit yang mengasai hampir seluruh Nusantara, karena terlena dengan mengikuti gaya monopoli dagang China, akhirnya wilayah perdagangannya diserobot Eropa.

Di tingkat dunia, bangsa yang hebat pun satu demi satu berjatuhan, diganti bangsa-bangsa lain yang senantiasa berfikir melakukan perubahan. Kebesaran Romawi digugurkan oleh bangsa-bangsa kecil di Eropa. Portugis yang sempat menjadi penguasa di Asia, pada waktu berikutnya pun digantikan bangsa-bangsa Eropa lain, seperti Inggris dan Belanda. Bahkan kondisi yang tragis adalah, Portugis kini menjadi bangsa termiskin di Eropa.

Mengapa hal itu terjadi? Ternyata karena tidak adaptif dan tidak memperhatikan ilmu pengetahuan. Mereka tidak memperhatikan perubahan.

Kapan perlu perubahan?

Berdasar penelitian, ternyata perubahan yang terbaik bukanlah dilakukan pada saat manusia, perusahaan, atau pemerintahan sudah mengalami krisis. Perubahan terbaik justru dilakukan ketika kita sedang mengalami kejayaan.  Hal ini terasa agak aneh, karena kejayaan mestinya dinikmati sampai tuntas.

Namun sesungguhnya mengadakan perubahan pada saat mengalami kejayaan adalah kesempatan yang tepat. Ketika Pemerintah Kabupaten Purbalingga sedang jaya, perubahan akan dengan mudah dilakukan karena masih memiliki energi yang penuh, rasa percaya diri yang kuat, dukungan yang besar, dan dana yang cukup. Sebaliknya, jika perubahan dilakukan pada saat kondisi menurun, atau bahkan sampai tahap krisis, maka kesulitas akan datang bertubi-tubi. Kondisi akan serba salah, dukungan dan kepercayaan masyarakat kurang, dana habis, SDM bercerai-berai, dan rasa percaya diri tak dimiliki lagi. Kemerosotan akan terus menukik ke jurang yang semakin dalam.

Maka pemikiran terhadap perubahan di Kabupaten Purbalingga pada saat ini masih merupakan kesempatan yang tepat, karena pemerintahan masih kuat, masyarakat masih mendukung, dan birokrat kompak.

Rhenald Kasali mengelompokkan perubahan ke dalam beberapa jenis, antara lain perubahan strategis dan operasional. Perubahan strategis adalah perubahan yang berdampak luas, radikal, membutuhkan koordinasi, dukungan unit-unit yang penuh. Perubahan ini meliputi budaya organisasi, fokus kebijakan, dan cara kerja. Sedangkan perubahan operasional adalah perubahan-perubahan kecil, parsial, tidak berdampak besar, dan cenderung incremental (bertahap).

Adapun Black dan Gregersen (2002) membagi strategi perubahan menjadi tiga, yaitu perubahan antisipatif, reaktif, dan perubahan krisis. Antisipatif merupakan perubahan yang dilakukan sebelum organisasi dituntut untuk diubah. Perubahan reaktif dilakukan sebagai reaksi atas situasi eksternal, dan perubahan krisis adalah yang dilakukan pada situasi krisis.

Nah, dari ketiga perubahan itu, tentu perubahan antisipatif merupakan langkah terbaik. Termasuk dalam rangka kita berfikir untuk perubahan bagi Kabupaten Purbalingga.

 *)Sarjono, S.Pd, M.Si,Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan Purbalingga./Wakil Ketua PD PGRI Purbalingga.

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. PH Dipaleksana 23/09/2009 pukul 15:38 -

    ada pomeo yang menatakan: tidak ada yang abadi. kecuali perubahan itu sendiri. Jadi perubahan memang harus selalu terjadi dan dilakukan untuk selalu maju, baik dalam situasi krisis maupun jaya. Kalau sudah jaya dan tidak mau berubah maka masuk dalam zona nyaman (confort zone) dan berpotensi untuk mandeg/stagnan, karena di bagian lain di luar kita melakukan perubahan terus menerus.

    Dengan kepemimpinan TBS, dan nantinya yang menggantikan lewat Pikada, Purbalingga diharapkan menjadi pioneer dalam inovasi dan gagasan-2 pembangunan suatu daerah. Kalau bisa sukses TBS dibukukan (atau sudah ada bukunya jangan-2, hanya saya tidak tahu?), sehingga memberi inspirasi daerah lain di Indonesia. Bravo Purbalingga!

Leave A Response