Sajak Rendra versi Banyumasan dibaca di Tegal

Ditulis 21 Sep 2009 - 08:11 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
117
Dalam Tag

SLAWI – Sajak WS Renda berjudul  Seonggok Jagung yang diterjemahkan dengan versi Banyumasan  oleh penulis dongeng Khamidin Krazan , Selasa malam (15/9) ditampilkan di acara Pengetan Patangpuluhdinane WS Rendra yang diselenggarakan Kelompok Asah Manah kerjasama dengan sanggar Putik dan Komite Seni – Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Tegal.Khamidin yang sekaligus membaca puisi tersebut mendapat sambutan hangat penonton.

Menurut ketua penyelenggara, Diah Setyawati puisi yang diterjemahkan dengan bahasa ngapak ngapak Banyumasan mempunyai nilai keunikan tersendiri dan mampu menciptakan aset baru dunia perpuisian di Indonesia. ” Ini luar biasa, bahasa banyumasan menyulap puisi Rendra menjadi akrab dengan kita. Enak, lugas dan menyenangkan,” ujar Diah.

Dia melanjtkan,kegiatan ini untuk menyemarakkan geliat berkesenian dengan berpijak pada spirit Rendra dan spirit Tegal. “Diharapkan kegiatan ini tidak sebatas seremonial mengenang almarhum melainkan untuk menambah daya dalam berkarya seni apapapun bentuknya, sedangkan pengangkatan bahasa ibu sebagai media penerjemahan sajak-sajak Rendra itu antara lain agar penyair lebih intens dalam olah bahasa,” kata Diah kepada banyumasnews.com

Para pembaca yang diundang bukan cuma penyair tetapi juga penulis dan wartawan, seperti wartawan Nirmalapost Ela Kurniawan dan penulis cerita anak anak  Hamidin Krazan (Banyumas). Sementara panitia juga mengundang penyair, Haryono Sukiran (Purbalingga), pembaca puisi Lukman Suyanto (Brebes), Cik Firmansyah dan Cak Kacung (TIM Jakarta), penyair Sosiawan Leak (Solo), Bukhori (Pemalang), sedangkan pembaca/ penyair Tegal seperti Diah Setyawati, Dinda, Linda Manise, Abu Ma’mur, Mi’raj Andhika, Indraning serta Bupati Tegal Agus Riyanto yang tampil membacakan Catatan Putu Wijaya serta menyanyikan satu tembang dari album miliknya.

Acara juga dimeriahkan dengan lantunan lagu Tragedi Jatilawang oleh penciptanya Lanang Setiawan dengan aransemen orkestra oleh Bintoro dari kelompok musik Asah Manah.

Suriali Andi Kustomo dalam orasi singkatnya mengingatkan para seniman pada umumnya agar dalam melakukan segala kegiatan ataupun pekerjaan apa saja dilakukan secara totalitas. Sedangkan kegiatan semacam pembacaan sajak dengan lebel mengenang baik tiga hari ataupun 40 hari wafatnya Rendra hendaknya jangan menjadi ajang
seremoni sesaat yang setelahnya bubar tanpa ada tindaklanjuti semangat berkarya. Jika demikian adanya maka acara semacam itu boleh dibilang gagal total.

“Sosok Rendra adalah sebuah otokritik, semangat Rendra itu semangat berkarya, sebagai sosok seniman dia tidak mengagungkan eksentrisitas karena Rendra sangat percayadiri dengan karya-karyanya,” kata Andy.

Dijelaskan, Rendra memberikan pembelajaran agar para seniman mampu menghargai karyanya dalam hal ini karya yang memiliki otentisitas. Diharapkan, lanjut Andy, para seniman agar selalu intens berkarya, seperti penyair yang intens menulis sajak, hidup dari sajak, mempublikasikan sajak-sajaknya. “Dengan intensitas dan otentisitas
akhirnya orang lain akan tahu dan menghargai karya kita,” tandasnya (banyumasnews.com/ham)hamidin krazan 089

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. JP 22/09/2009 pukul 23:26 -

    Sip…terus berkarya…

    “Dengan intensitas dan otentisitas
    akhirnya orang lain akan tahu dan menghargai karya kita,”

    Nunggu karya-karya selanjutnya….

Leave A Response