Jumlah pemudik bermotor sambil gendong balita turun drastis

Ditulis 19 Sep 2009 - 10:21 oleh Banyumas1

Pemudik bawa balita, berbahaya (foto:ham/BNC)

Pemudik bawa balita, berbahaya (foto:ham/BNC)

PEKUNCEN – Mudik ke kampung halaman dengan kendaraan roda dua semakin menjadi trend dari tahun ke tahun. Para pengendara tak hanya berboncengan dengan rekannya, tetapi juga ada pemudik yang membawa serta anak-anak balita. Namun pada musim mudik lebaran tahun ini jumlahnya semakin sedikit jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagaimana dikatakan Kapolsek Pekuncen AKP Sunarto kepada banyumasnews.com saat memantau pergerakan arus mudik pada Sabtu pagi (19/9) di Pos Pengamanan Arus Mudik (PAM) Poslek Pekuncen di jalan Raya Karang Kemiri, tepatnya sebelah timur SPBU Karang Kemiri.

“Dari pantauan kami para pemudik yang membawa serta anak-anaknya yang masih balita dengan mengendarai motor jumlahnya turun hingga sembilanpuluh persen jika dibandingkan musim lebaran tahun lalu,” kata Kapolsek.

Hal itu, lanjut Sunarto, karena semakin tinggi kesadaran para pemudik akan pentingnya menjaga keselamatan selama menempuh penjalanan yang cukup jauh.

Menurutnya, secara umum keasadaran para pengendara roda dua juga sangat membantu kelancaran berlalu lintas. Meskipun mereka memacu kendaraan cukup tinggi namun tidak sampai saling mendahului dan menggunakan jalur kanan sehingga tidak menimbulkan arus jalan tersendat akibat saling berpapasan dengan pengguna jalan dari arah yang berlawanan.

“Meskipun kondisi tingkat kepadatan arus kendaraan meningkat namun tetap bisa bergerak dan tidak sampai menimbulkan kemacetan,” kata Sunarto.

Dijelaskan, jumlah kepadatan arus kendaraan pada H-1 memang meningkat tajam hingga 70 persen, namun tidak sampai mengakibatkan kemacetan. Sedangkan dari pantauannya, kepadatan arus lalu lintas dari berbagai jensi kendaraan itu terjadi pada Jumat sore (18/9) antara pukul 16.00 – 21.00 WIB kemudian pada jam 22.00 hingga 24.00 WIB.

Kaposek juga menghimbau kepada para pemudik yang menggunakan angkutan umum seperti bus ataupun kereta api agar jangan mudah percaya kepada sesama penumpang yang belum dikenal kemudian menawarkan jasa baiknya seperti memberikan minuman kemasan. “Dikhawatirkan orang yang tak dikenal itu akan bermaksud jahat dengan cara memberikan minuman yang telah dibuhuhi obat tidur, sehingga akan berakibat fatal seperti barang bawaannya dicuri setelah korban tidak sadarkan diri,” himbunya (banyumasnews.com/ham)

Tentang Penulis

Leave A Response